KOMPAS.com - Pada tahun 2020 lalu, organisasi nirlaba Friends of Palm Beach menemukan plastik, kaca, dan karet yang dilapisi residu hitam berminyak terdampar di Pantai Florida, Amerika Serikat.
Organisasi tersebut lantas bekerja sama dengan para ilmuwan untuk memecahkan misteri di balik peristiwa itu. Mereka menghubungkan puing-puing tersebut dengan tumpahan minyak tahun 2019 di sepanjang garis pantai Brasil.
Baca juga:
Hasilnya, sebagian material berminyak itu menempuh jarak lebih dari 5.200 mil atau sekitar 8.500 kilometer dengan menempel pada puing-puing.
Untuk mengetahuinya, para ilmuwan menggunakan model arus laut dan analisis kimia, yang mana temuannya telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology.
"Temuan penelitian dari studi kami tidak akan mungkin terwujud tanpa dedikasi dari Friends of Palm Beach," ujar penulis utama studi dan peneliti di Northeastern University, Bryan James, dilansir dari Phys.org, Jumat (9/1/2026).
Bencana minyak tumpah di Huntington Beach, California, di Huntington Beach, California, pada Senin (4/10/2021). [AP Photo/Ringo HW Chiu]Menurut James, pengetahuan Friends of Palm Beach yang mendalam tentang sampah laut lokal memungkinkan mereka memperhatikan ketika benda-benda unik dan menarik. Misalnya, plastik berminyak terdampar di pantai.
"Jika mereka tidak mau menyelidiki dan membagikan pengamatan mereka, penemuan ini akan tetap hilang di laut," ucap dia.
Beberapa jenis plastik memang dapat hanyut terbawa arus hingga ribuan kilometer. Namun, minyak mentah atau minyak bumi olahan biasanya tidak bisa terseret arus sangat jauh.
Sinar matahari dan mikroba biasanya mengurai minyak daam jarak beberapa ratus mil atau sekitar 300 kilometer dari tempat minyak tersebut tumpah ke air laut.
Oleh karena itu, botol plastik dan wadah kaca berminyak di sepanjang pantai di Florida membuat Friends of Palm Beach, yang sedang melakukan pembersihan, penasaran dari mana sumbernya. Apalagi, tidak ada laporan minyak tumpah ke laut di dekat pantai Florida.
Label botol dalam bahasa Portugis, Spanyol, dan Inggris, serta potongan besar karet yang ikut terdampar, menjadi petunjuk utama tentang sumber pencemaran minyak.
Baca juga:
Friends of Palm Beach bisa mengidentifikasi pentingnya memahami asal usul polusi minyak dan plastik itu karena beberapa anggotanya bekerja sama dengan peneliti internasional yaitu Woods Hole Oceanographic Institution yang dipimpin oleh James dan Christopher Reddy.
James, Reddy, dan rekan-rekannya berhipotesis bahwa sampah plastik dan karet berminyak di pantai Florida kemungkinan berasal dari sumber yang sama dengan polusi di pantai Brasil pada akhir tahun 2019.
SS Rio Grande, sebuah kapal pasokan Perang Dunia II yang tenggelam di Samudra Atlantik menjadi sumber minyak dan karet tersebut.
Foto yang diambil dan disediakan oleh Eric Villars ini menunjukkan kebocoran minyak dari MV Wakashio, kapal kargo curah yang kandas di lepas pantai tenggara Mauritius, Jumat (7/8/2020). Pemerintah Mauritius telah mengumumkan keadaan darurat lingkungan dan Perancis telah mengirimkan bantuan.Mereka menguji hipotesisnya dengan melakukan simulasi komputer dan analisis forensik tumpahan minyak.
Pertama, model arus laut menelusuri botol-botol plastik tersebut ke masa lalu, dengan memprediksi asal-usulnya, mulai dari Teluk Meksiko, Amerika Tengah, sampai Brasil.
Kedua, model tambahan memperkirakan puing-puing berminyak itu hanyut selama 240 hari, waktu tempuh konsisten bagi arus laut untuk membawa material dari tumpahan minyak Brasil tahun 2019 ke pantai Florida.
Baca juga:
Ketiga, beberapa residu berminyak yang dikumpulkan dari puing-puing di Florida menunjukkan bukti adanya proses pemurnian, dan "sidik jari kimia" dari plastik berminyak tersebut cocok dengan yang dikumpulkan dari tumpahan minyak di Brasil.
Menurut Reddy, temuan penelitian ini membuktikan efek kontaminan aditif yang mana polusi plastik dapat mengangkut polusi minyak jauh melampaui asalnya.
Bahkan, temuan itu memperluas pemahaman saat ini tentang "petroplastik", suatu bentuk polusi plastik yang baru-baru ini dikenali yang berasal dari manusia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya