Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Sumatera Dongkrak Harga Kopi Robusta di Pasar Global

Kompas.com, 12 Januari 2026, 16:07 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pemulihan harga berjangka kopi robusta masih berlangsung seiring dampak banjir bandang di Sumatera dan penundaan penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Pada perdagangan Selasa (23/12/2025), harga robusta tercatat masih melanjutkan tren pemulihan.

Curah hujan tinggi yang dipicu oleh siklon tropis Senyar dilaporkan telah merusak lebih dari sepertiga perkebunan kopi Arabika di wilayah utara Sumatera. Meski demikian, ekspor kopi robusta relatif tidak terdampak signifikan karena jenis tanaman ini dinilai lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dibandingkan Arabika.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim: Sudah Telat Selamatkan Kopi, Cokelat, dan Anggur

Sementara itu, ketidakpastian cuaca juga membayangi wilayah penghasil kopi Arabika di Brasil. Data Climatempo menunjukkan bahwa curah hujan di Minas Gerais pada pekan lalu mencapai 76 persen dari rata-rata historis. Meski hujan tidak merata, laporan Itaú BBA menyebutkan bahwa fase pembungaan kopi Arabika di kawasan tersebut masih berlangsung dengan baik.

“Jika prakiraan curah hujan yang memadai pada kuartal pertama 2026 terkonfirmasi dan mampu memastikan pengisian biji kopi secara optimal, maka ada potensi peningkatan produksi Arabika Brasil serta bertambahnya surplus antara produksi dan konsumsi global,” tulis laporan tersebut, seperti dikutip dari Comunicaffe, Senin (12/1/2026).

Namun sebelum itu, pasokan dan ekspor kopi Brasil diperkirakan masih terbatas.

Dari sisi pasar berjangka, laporan Commitment of Traders terbaru menunjukkan bahwa pelaku spekulatif non-komersial di pasar Arabika New York mengurangi posisi beli bersih sebesar 17,24 persen selama pekan perdagangan hingga Selasa (16/12/2025). Posisi beli tercatat menjadi 18.870 lot atau setara 5.349.561 kantong kopi.

Pada periode yang sama, sektor komersial memegang posisi jual bersih sebesar 55.060 lot atau setara 15.609.266 kantong. Reksa dana Nature Managed Money Fund juga memangkas posisi net long jangka pendek sebesar 9,70 persen menjadi 34.020 lot.

Sebaliknya, Nature Index Fund jangka panjang justru menambah posisi net long tipis sebesar 0,04 persen menjadi 35.619 lot.

Adapun aktivitas perdagangan menjelang libur akhir tahun berlangsung terbatas. Pasar London beroperasi dengan jam perdagangan lebih pendek pada Rabu (24/12/2025), sementara pasar New York dan London tutup pada Kamis (25/12/2025).

Perdagangan kopi Arabika di ICE berlangsung terbatas pada Jumat (26/12/2025), dan kedua pasar kembali dibuka pada Senin (29/12/2025).

Di sisi regulasi, Uni Eropa menerbitkan Peraturan 2025/2650 pada Selasa (23/12/2025) yang merevisi ketentuan EUDR. Revisi tersebut bertujuan menyederhanakan implementasi serta memastikan kesiapan operator, pedagang, dan otoritas terkait.

Salah satu poin utama revisi adalah penundaan penerapan penuh EUDR hingga 30 Desember 2026, dengan tambahan masa transisi enam bulan bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Peraturan baru itu juga mewajibkan Komisi Eropa melakukan kajian penyederhanaan dan menyampaikan laporan evaluasi dampak serta beban administratif EUDR paling lambat 30 April 2026. Jika diperlukan, hasil kajian tersebut dapat diikuti dengan usulan legislasi baru.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari menyampaikan bahwa banjir bandang telah menghancurkan sektor pertanian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pemerintah, kata dia, memprioritaskan penyaluran bantuan sandang, pangan, dan papan sebelum melakukan pendataan kerusakan lahan pertanian.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim di Brasil Sebabkan Harga Kopi Dunia Naik Tajam

Endang menyesalkan rusaknya lahan perkebunan kopi di Aceh yang sebelumnya telah menembus pasar ekspor. Ia menilai pemerintah perlu membantu rehabilitasi perkebunan kopi milik petani kecil agar produksi kopi unggulan daerah tersebut dapat pulih.

Ia juga menyebutkan bahwa Kementerian Pertanian telah menyalurkan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke wilayah terdampak. Namun, Endang mengusulkan agar pemerintah menyediakan bengkel perbaikan alsintan yang rusak akibat banjir.

“Diperlukan alat pertanian yang baru, dan yang lama perlu diperbaiki melalui bengkel-bengkel. Jangan sampai aset bernilai triliunan rupiah itu hilang begitu saja,” ujar Endang di Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Meta Gandeng TerraPower Bangun 8 Reaktor Nuklir Canggih di AS
Meta Gandeng TerraPower Bangun 8 Reaktor Nuklir Canggih di AS
Swasta
Banjir Sumatera, BNPB Sebut Pemda Abaikan Risiko Bencana
Banjir Sumatera, BNPB Sebut Pemda Abaikan Risiko Bencana
Pemerintah
Kerja Sama Iklim Internasional Meningkat Meskipun Ada 'Efek Trump'
Kerja Sama Iklim Internasional Meningkat Meskipun Ada 'Efek Trump'
Pemerintah
Banjir Sumatera Dongkrak Harga Kopi Robusta di Pasar Global
Banjir Sumatera Dongkrak Harga Kopi Robusta di Pasar Global
LSM/Figur
KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera
KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera
Pemerintah
Anggaran Karbon 1 Persen Orang Terkaya Habis dalam 10 Hari
Anggaran Karbon 1 Persen Orang Terkaya Habis dalam 10 Hari
LSM/Figur
Makanan Anjing Sumbang 1 Persen Emisi GRK di Inggris, Studi Jelaskan
Makanan Anjing Sumbang 1 Persen Emisi GRK di Inggris, Studi Jelaskan
LSM/Figur
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau