Tim gabungan Kemenhut tengah membangun 18 hunian sementara (huntara) di Aceh Utara dan Sumatera Utara dari gelondongan kayu yang terbawa arus banjir.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan menyampaikan bahwa 15 unit masih berproses, sedangkan tiga di antaranya telah dihuni korban banjir di Desa Gedumbak.
Dengan bantuan 40 Unit alat berat, tim di lapangan terus melakukan pembersihan dan pemilahan kayu di halaman rumah warga agar dimanfaatkan untuk membangun huntara.
Setidaknya, kayu yang terkumpul mencapai 1.173 batang atau setara 2.112 meter kubik.
Baca juga:
Di Sumatera Utara, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani menjelaskan penanganan, pasca-bencana di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol meliputi pembersihan kayu dan material lain, pengolahan kayu, dan pemanfaatan kayu hanyutan, serta normalisasi aliran Sungai Garoga.
"Kemenhut mengerahkan personel bersama lima unit alat berat untuk melaksanakan pembersihan sampah kayu, pembuatan galangan untuk pemanfaatan kayu dan pembuatan tanggul dengan material sisa kayu serta pemilahan kayu untuk pengolahan kayu hanyutan," papar Novita.
Sementara pengerjaan pembukaan dan persiapan lahan untuk hunian tetap di Desa Aek Pining Batang Toru dan huntara di Desa Batu Hula sudah rampung.
Total akumulasi jumlah keping kayu olahan sebanyak 1.570 keping dengan volume total 22,5 meter kubik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya