KOMPAS.com - Jurnalis di wilayah yang lebih rentan terhadap perubahan iklim, khususnya di Asia dan Afrika, dinilai lebih berisiko secara fisik daripada rekan-rekan mereka di Eropa dan Amerika.
Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang didukung oleh Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ), sebuah lembaga akademis berbasis di Inggris yang merupakan bagian dari Universitas Oxford.
Baca juga:
Survei global terhadap 268 jurnalis dari 89 negara di lima benua menunjukkan bahwa hampir 34 persen reporter lingkungan di Asia menghadapi bahaya fisik dalam liputan mereka.
Sebanyak 38 persen jurnalis yang berasal dari Afrika juga merasa paling terancam secara fisik dalam melakukan peliputan.
Kondisi tersebut kontras dengan rekan-rekan jurnalis dari Amerika dan Eropa. Para jurnalis tersebut menghadapi kemungkinan risiko fisik paling kecil dalam liputan, dengan masing-masing sebesar 29 persen dan 13 persen.
Studi mengungkap jurnalis lingkungan di Asia dan Afrika lebih rentan kekerasan fisik saat meliput.Tak hanya risiko kekerasan, laporan ini juga mengungkap jurnalis Asia lebih banyak mengalami gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan cenderung kurang mendapatkan bantuan psikologis dibandingkan rekan-rekan mereka di tempat lain.
"Jurnalis di Asia membayar harga emosional yang tinggi untuk pekerjaan mereka meliput perubahan iklim. Sayangnya, mereka tidak menerima dukungan psikologis yang cukup, dan jika perlu, terapi untuk hal ini," kata profesor Psikiatri di Universitas Toronto yang memimpin studi tersebut, Dr. Anthony Feinstein, dilansir dari Eco-Business, Rabu (14/1/2026).
Studi yang dipublikasikan di Journal of the Royal Society of Medicine Open ini juga mencatat, sebagian besar jurnalis di Asia telah terpengaruh oleh perubahan iklim, dengan 13 persen dari mereka telah dievakuasi selama bencana alam.
Perubahan iklim menjadikan Asia sebagai wilayah yang paling banyak dilanda bencana di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Banjir dan badai paling banyak terjadi di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Dalam Indeks Risiko Dunia 2025, pemeringkatan negara dengan risiko bencana tertinggi, Filipina menduduki peringkat pertama, diikuti oleh India dan Indonesia.
Baca juga:
Studi mengungkap jurnalis lingkungan di Asia dan Afrika lebih rentan kekerasan fisik saat meliput.Asia secara keseluruhan menempati peringkat buruk dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2025, dengan sebagian besar dari 32 negara dan wilayahnya terkumpul dalam kategori “sulit” atau “sangat serius”, yang mencerminkan tekanan ekonomi, represi politik, dan ancaman fisik terhadap jurnalis.
Di Asia Tenggara, Timor Leste dinilai memiliki iklim media yang paling bebas dengan menduduki peringkat ke-39, jauh mengungguli negara-negara tetangganya.
Selanjutnya, Thailand di peringkat ke-85 secara global, Malaysia di urutan ke-88, dan Brunei di urutan ke-97.
Sementara itu, Filipina, salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, menempati peringkat ke-116, diikuti oleh Singapura di peringkat 123 dan Indonesia di peringkat 127.
Peringkat yang lebih rendah mencakup Laos, Kamboja dengan peringkat 161, Myanmar di peringkat 169, dan Vietnam di peringkat 173.
Baca juga:
Selama 15 tahun terakhir, setidaknya 34 jurnalis yang menyelidiki pembalakan liar dan ekspansi kelapa sawit di kawasan tersebut dan dalam beberapa kasus mencatat peran otoritas setempat, telah diancam dan diserang, menurut studi UNESCO pada tahun 2024.
Selain itu, tujuh jurnalis terbunuh karena pekerjaan mereka dalam melaporkan masalah-masalah tersebut.
“Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa beban bagi jurnalis dalam pelaporan perubahan iklim, terdistribusi secara tidak merata,” sebut laporan RISJ.
“Organisasi berita perlu menyadari hal ini. Mengingat tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akan menyertai kita untuk waktu yang lama, upaya untuk mengatasi kurangnya perhatian terhadap keselamatan jurnalis ini tidak boleh ditunda-tunda lagi,” tulis laporan itu lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya