KOMPAS.com - Pada Februari 2025 lalu, terdapat studi yang menemukan banyak serpihan kecil plastik polietilen dan polimer dari sampel jaringan otak manusia yang telah meninggal.
Temuan tersebut mengejutkan, meskipun waktu itu dampak mikroplastik dan nanoplastik dalam tubuh masih belum jelas.
Baca juga:
"Saya tentunya tidak merasa nyaman dengan banyaknya plastik di otak saya," ucap toksikolog sekaligus pemimpin studi tersebut, Matthew Campen, dilansir dari Slate, Kamis (15/1/2026).
Selain di otak, ada pula beberapa studi yang menemukan mikroplastik di bagian tubuh lain, dari testis hingga arteri. Temuan itu erat kaitannya dengan polusi plastik dalam makanan, minuman, dan udara.
Kendati demikian, tidak sedikit peneliti yang mengkritik studi tentang mikroplastik dalam tubuh. Salah satunya karena dinilai keliru.
Penelitian mikroplastik di otak manusia memicu kontroversi. Sejumlah ahli menilai metodenya lemah dan berisiko salah arah.Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian partikel mikroplastik, terutama pada jaringan manusia, berkembang pesat.
Perlombaan untuk mempublikasikan temuan tersebut dinilai telah menyebabkan hasil yang terburu-buru. Pemeriksaan ilmiah rutin bahkan terkadang diabaikan.
Bukti yang keliru tentang tingkat mikroplastik dalam tubuh manusia bisa mengakibatkan peraturan dan kebijakan yang salah arah.
Bukti yang keliru juga dapat membantu para pelobi industri plastik untuk mengabaikan kekhawatiran yang sebenarnya, dengan mengklaim bahwa kekhawatiran itu tidak berdasar.
Menanggapi tren penelitian mikroplastik di dalam tubuh manusia, pada bulan November 2025 lalu, sekelompok peneliti mempublikasikan surat yang mengkritik sejumlah studi tentang mikroplastik.
Sekelompok peneliti itu menyoroti kurangnya langkah validasi dan tantangan metodologis, seperti kontrol kontaminasi yang terbatas.
"Makalah tentang mikroplastik di otak hanyalah lelucon. Lemak diketahui menyebabkan hasil positif palsu untuk polietilen. Otak memiliki (kira-kira) 60 persen lemak," ucap Dr Dušan Materi? dari Helmholtz Centre for Environmental Research di Jerman, salah satu penulis surat tersebut, dilansir dari The Guardian.
Ia dan rekan-rekannya menuturkan, kenaikan tingkat obesitas bisa menjadi penjelasan alternatif untuk bioakumulasi "mikroplastik" di otak manusia yang dilaporkan dalam penelitian itu.
Baca juga:
Penelitian mikroplastik di otak manusia memicu kontroversi. Sejumlah ahli menilai metodenya lemah dan berisiko salah arah.Menanggapi kritik tersebut, Campen menyampaikan bahwa secara umum, studinya masih berada pada tahap awal dalam upaya memahami potensi dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia.
"Sebagian besar kritik yang ditujukan terhadap karya yang telah dihasilkan hingga saat ini (yaitu dari laboratorium kami dan laboratorium lain) bersifat spekulatif dan tidak didukung oleh data aktual," tutur Campen.
Ia mengakui ada banyak peluang untuk perbaikan dan penyempurnaan studi. Ia pun tengah berupaya mengalokasikan sumber daya pihaknya yang terbatas dalam menghasilkan uji coba dan data yang lebih baik, daripada terus terlibat dalam perdebatan.
Baca juga:
Selain itu, terdapat pula studi melaporkan pasien dengan mikroplastik dalam plak arteri karotis, yang mana meningkatkan risiko serangan jantung dan strok lebih tinggi daripada yang tidak.
Studi tersebut dikritik karena tidak menguji sampel kosong yang diambil di ruang operasi. Sampel kosong adalah cara untuk mengukur seberapa banyak kontaminasi latar belakang yang mungkin ada.
"Hal ini benar-benar memaksa kita untuk mengevaluasi ulang segala hal yang kita anggap tahu tentang mikroplastik dalam tubuh," tutur ahli kimia yang pernah bekerja di Dow Chemical Compan, Roger Kuhlman.
"Ternyata, pengetahuan kita tentang hal ini sangatlah terbatas. Banyak peneliti membuat klaim yang luar biasa, tapi tidak menyediakan bukti yang memadai," lanjut dia.
Penelitian mikroplastik di otak manusia memicu kontroversi. Sejumlah ahli menilai metodenya lemah dan berisiko salah arah.Salah satu cara utama untuk mengukur massa mikroplastik dalam sampel dilakukan dengan menguapkannya dan menangkap uapnya.
Namun, berdasarkan kesimpulan studi yang dipimpin oleh Cassandra Rauert, ahli kimia lingkungan di Universitas Queensland di Australia, metode tersebut bukanlah teknik yang cocok untuk mengidentifikasi polietilen atau PVC karena adanya gangguan yang terus-menerus.
"Saya pikir banyak konsentrasi mikroplastik yang dilaporkan sama sekali tidak realistis. Ini bukan kritik terhadap (ilmuwan lain). Mereka menggunakan teknik ini karena kita tidak memiliki metode yang lebih baik. Tetapi banyak penelitian yang telah kita lihat menggunakan teknik ini tanpa benar-benar memahami data yang dihasilkannya," jelas Rauert.
Tak sulit menemukan plastik dalam kehidupan sehari-hari, bahkan terkadang sulit untuk menghindari penggunaan plastik.
Terlepas dari ukurannya, keberadaan plastik memang sudah berkontribusi terhadap masalah lingkungan.
Studi tentang mikroplastik masih berkembang. Meskipun menuai kritik, studi tersebut harus dilanjutkan untuk mengetahui bukti yang sesungguhnya.
Dilansir dari Slate, sebaiknya perselisihan dalam ilmu pengetahuan tidak dimanfaatkan sebagai alasan untuk memangkas pendanaan atau membatalkan kebijakan yang masuk akal tentang pembatasan penggunaan plastik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya