Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Afrika Pimpin Pertumbuhan Energi Surya Dunia, Ini Alasannya

Kompas.com, 16 Januari 2026, 09:49 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Baterai buka potensi PLTS

Ekspansi pesat sistem penyimpanan energi baterai (BESS) menjadi katalistor utama pertumbuhan PLTS di Afrika.

Penurunan biaya dan kemajuan teknologi memungkinkan energi surya untuk melampaui sifat intermiten, serta menyediakan listrik yang dapat diatur dan tersedia sepanjang waktu.

Saat ini, hanya dibutuhkan biaya sekitar 33 dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 557.497) per Megawatt-jam (MWh) untuk mengubah energi surya menjadi daya yang sepenuhnya bisa disalurkan menggunakan penyimpanan.

"Jika dikombinasikan dengan biaya pembangkitan, hal ini menghasilkan listrik tenaga surya 24 jam dengan harga sekitar 76 dollar AS (Rp 1,2 juta) per MWh, yang sudah kompetitif dengan, dan sering kali lebih murah daripada, pembangkit listrik tenaga fosil baru, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor bahan bakar," demikian keterangan dari laporan Africa Solar Outlook 2026.

Bagi konsumen komersial dan industri, PLTS plus penyimpanan energi (sistem fotovoltaik+BESS) telah menjadi lebih hemat biaya dibandingkan listrik jaringan (on grid).

Sistem fotovoltaik+BESS juga jauh lebih murah daripada pembangkit listrik diesel, bahkan sebelum memperhitungkan dampak ekonomi dari pemadaman jaringan listrik. Imbasnya, keraguan tentang keandalan tenaga surya juga mulai sirna.

"Penyimpanan energi yang lebih baik dalam bentuk baterai lithium telah mengatasi beberapa masalah persepsi yang sebelumnya menghantui tenaga surya sehingga menyebabkan booming saat ini," ucap direktur Vicky Solars, sebuah perusahaan tenaga surya Zimbabwe, Victor Kashawu.

Baca juga: 

Selain itu, penurunan biaya produk energi surya lebih dari 90 persen dalam dekade terakhir juga menjadi faktor lain yang mendorong pertumbuhan PLTS di Afrika.

Menurut Badan Energi Internasional, PLTS berpotensi menyumbang 15 persen dari kebutuhan listrik Afrika pada tahun 2030 dan mampu naik dua kali lipat menjadi 30 persen pada 2040.

Namun, modal awal yang mahal kemungkinan menghambat sebagian besar pemerintah dan rumah tangga di Afrika.

Untuk menggenjot investasi, beberapa pemerintah Afrika telah menyalurkan insentif kepada mereka yang beralih ke energi surya.

Zimbabwe, salah satu negara yang mengalami peningkatan besar dalam pemasangan PLTS, menghapus bea impor untuk semua produk energi surya.

Disebutkan, potensi energi surya di Afrika sangat besar, dengan rata-rata radiasi matahari harian berkisar antara 16 hingga 24 MJ per meter persegi per hari.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau