Ekspansi pesat sistem penyimpanan energi baterai (BESS) menjadi katalistor utama pertumbuhan PLTS di Afrika.
Penurunan biaya dan kemajuan teknologi memungkinkan energi surya untuk melampaui sifat intermiten, serta menyediakan listrik yang dapat diatur dan tersedia sepanjang waktu.
Saat ini, hanya dibutuhkan biaya sekitar 33 dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 557.497) per Megawatt-jam (MWh) untuk mengubah energi surya menjadi daya yang sepenuhnya bisa disalurkan menggunakan penyimpanan.
"Jika dikombinasikan dengan biaya pembangkitan, hal ini menghasilkan listrik tenaga surya 24 jam dengan harga sekitar 76 dollar AS (Rp 1,2 juta) per MWh, yang sudah kompetitif dengan, dan sering kali lebih murah daripada, pembangkit listrik tenaga fosil baru, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor bahan bakar," demikian keterangan dari laporan Africa Solar Outlook 2026.
Bagi konsumen komersial dan industri, PLTS plus penyimpanan energi (sistem fotovoltaik+BESS) telah menjadi lebih hemat biaya dibandingkan listrik jaringan (on grid).
Sistem fotovoltaik+BESS juga jauh lebih murah daripada pembangkit listrik diesel, bahkan sebelum memperhitungkan dampak ekonomi dari pemadaman jaringan listrik. Imbasnya, keraguan tentang keandalan tenaga surya juga mulai sirna.
"Penyimpanan energi yang lebih baik dalam bentuk baterai lithium telah mengatasi beberapa masalah persepsi yang sebelumnya menghantui tenaga surya sehingga menyebabkan booming saat ini," ucap direktur Vicky Solars, sebuah perusahaan tenaga surya Zimbabwe, Victor Kashawu.
Baca juga:
Selain itu, penurunan biaya produk energi surya lebih dari 90 persen dalam dekade terakhir juga menjadi faktor lain yang mendorong pertumbuhan PLTS di Afrika.
Menurut Badan Energi Internasional, PLTS berpotensi menyumbang 15 persen dari kebutuhan listrik Afrika pada tahun 2030 dan mampu naik dua kali lipat menjadi 30 persen pada 2040.
Namun, modal awal yang mahal kemungkinan menghambat sebagian besar pemerintah dan rumah tangga di Afrika.
Untuk menggenjot investasi, beberapa pemerintah Afrika telah menyalurkan insentif kepada mereka yang beralih ke energi surya.
Zimbabwe, salah satu negara yang mengalami peningkatan besar dalam pemasangan PLTS, menghapus bea impor untuk semua produk energi surya.
Disebutkan, potensi energi surya di Afrika sangat besar, dengan rata-rata radiasi matahari harian berkisar antara 16 hingga 24 MJ per meter persegi per hari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya