Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Afrika Pimpin Pertumbuhan Energi Surya Dunia, Ini Alasannya

Kompas.com, 16 Januari 2026, 09:49 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Afrika disebut memimpin pertumbuhan energi surya di dunia, menurut Asosiasi Industri Solar Afrika (Africa Solar Industry Association atau AFSIA) dalam laporan Africa Solar Outlook 2026.

"Afrika telah lama dianggap sebagai pasar surya yang marginal. Laporan Africa Solar Outlook 2026 menunjukkan bahwa persepsi ini tidak lagi mencerminkan kenyataan," ucap CEO AFSIA, John van Zuylen, dilansir dari Down to Earth, Jumat (16/1/2026).

"Energi surya sudah jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan Afrika kini mengalami pertumbuhan surya tercepat di dunia," tambah dia. 

Baca juga:

Afrika pimpin pertumbuhan energi surya dunia

Lonjakan permintaan energi luar jaringan listrik (off-grid) di Afrika terjadi seiring peningkatan penyimpanan energi atau baterai, membuat tenaga surya layak dipakai 54 negara di Afrika.

AFSIA telah melacak pengembangan energi surya di seluruh Afrika dengan metodologi bottom-up sejak tahun 2019, yang mengidentifikasi proyek secara individual di semua segmen.

AFSIA mendokumentasikan lebih 42.000 proyek energi surya, yang mewakili kapasitas kumulatif sebesar 296 Gigawatt peak (GWp).

Berdasarkan Africa Solar Outlook 2026, benua tersebut mencatat peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terpasang 23,4 gigawatt atau naik sebesar 26 persen dibandingkan tahun 2024.

Untuk pertama kalinya, Africa Solar Outlook 2026 melengkapi metodologi dokumentasinya dengan pendekatan top-down.

Hal ini mempertimbangkan data ekspor PLTS dari China, yang dikumpulkan oleh lembaga think-thank energi, Ember.

Baca juga: 

Afrika mencatat pertumbuhan PLTS tercepat di dunia. Laporan Africa Solar Outlook 2026 menyebut kapasitas energi surya terpasang naik.SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Afrika mencatat pertumbuhan PLTS tercepat di dunia. Laporan Africa Solar Outlook 2026 menyebut kapasitas energi surya terpasang naik.

Analisis gabungan menghasilkan gambaran revisi secara substansial dan menunjukkan bahwa PLTS kemungkinan hampir tiga kali lebih umum di Afrika ketimbang yang diperkirakan sebelumnya.

"Meskipun 23,4 GWp kapasitas tenaga surya operasional telah diidentifikasi secara unik di Afrika, data ekspor menunjukkan bahwa sekitar 63,9 GWp kapasitas tenaga surya telah diekspor ke (dan kemungkinan telah dipasang) di seluruh benua," tutur van Zuylen.

Pangsa Afrika dalam kapasitas energi surya global meningkat dari di bawah satu persen, menjadi sekitar 2,5 persen sampai tiga persen.

Namun, kenaikan 26 persen pemasangan PLTS baru pada 2025 sebenarnya perlambatan, yang mana puncaknya terjadi tahun 2024, dengan pertumbuhan sebesar 44 persen.

Sementara itu, pada tahun 2023, Afrika mencatat pertumbuhan pemasangan PLTS baru sebesar 22 persen.

Untuk peningkatan kapasitas 23,4 GWp mencakup energi untuk skala utilitas, komersial dan industri, jaringan mini, serta sistem tenaga surya rumah tangga (SHS).

Afrika Selatan, Seychelles, Mauritania, Namibia, dan Cape Verde menjadi negara-negara dengan kinerja terbaik berdasarkan kapasitas energi surya per kapita.

Sementara itu, Chad, Komoro, Guinea Ekuatorial, dan Botswana menjaid negara-negara dengan peningkatan terkuat dari tahun ke tahun. Setidaknya 10 persen listrik lebih dari setengah negara di Afrika berasla dari energi surya.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau