Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tumbuhan Ungkap Karakter Iklim dan Tanah Suatu Tempat

Kompas.com, 16 Januari 2026, 12:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com  - Tumbuhan mampu mencerminkan karakter iklim dan tanah suatu lokasi, khususnya di perkotaan dan di kawasan hijau, menurut studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Cities

"Kondisi iklim, terutama kondisi tanah, lebih serupa antara kota-kota di kawasan perkotaan daripada di hutan, (hal ini) menunjukkan kecenderungan homogenisasi perkotaan. Hutan kota berfungsi sebagai sumber keragaman lingkungan, pendinginan, dan penahanan kelembapan," tulis studi tersebut, dilansir dari Nature Cities, Jumat (16/1/2026).

Baca juga:

Tidak hanya itu, kondisi tanah di perkotaan yang padat bangunannya disebut lebih hangat, lebih kering, dan lebih cerah.

Tanah di lokasi tersebut juga lebih banyak gangguan, lebih banyak alkali, dan lebih asin dibanding tanah di ruang terbuka hijau, termasuk taman kota.

Tanah bisa mencerminkan karakter tanah suatu lokasi

Karakter tanah di perkotaan mirip-mirip, tanah di hutan kota lebih beragam

Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.FREEPIK Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.

Sekitar 70 persen populasi dunia diprediksi akan tinggal di perkotaan pada tahun 2050. Namun, kondisi lingkungan perkotaan masih kurang atau hanya didokumentasikan secara kasar.

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Max Planck Institute for Biogeochemistry ini didasarkan pada pengamatan tumbuhan yang dikumpulkan melalui aplikasi, seperti Flora Incognita.

Dengan lebih dari 80 juta pengamatan, para peneliti menghasilkan gambaran rinci tentang iklim dan kondisi tanah skala halus untuk 326 kota di Eropa.

Hasilnya, kawasan perkotaan Eropa semakin hangat dan kering, dengan tanah lebih banyak terganggu secara mekanis, serta bertambah asin dan basa daripada tanah tanah di ruang hijau, seperti taman atau hutan.

Kawasan urban punya karakter yang mirip di seluruh Eropa, sedangkan hutan kota lebih beragam karena melestarikan keanekaragaman alami dari kondisi lingkungan aslinya.

"Tumbuhan tumbuh di tempat di mana persyaratan lokasinya terpenuhi. Jelatang menunjukkan tanah yang kaya nutrisi, bunga marigold rawa lebih menyukai tempat yang basah, dan spesies yang toleran terhadap garam seperti rumput alkali tumbuh subur di sepanjang jalan yang diberi garam," ujar penulis utama studi tersebut, Susanne Tautenhahn, dilansir dari Phys.org.

Baca juga:

Pendekatan studi

Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.Unsplash/Afif Ramdhasuma Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.

Dengan pendekatan tersebut, faktor-faktor, seperti suhu, kelembapan tanah, pH, salinitas, atau gangguan, bisa disimpulkan secara tidak langsung melalui keberadaan tanaman.

Pendekatan ini dinilai ampuh diterapkan di perkotaan, yang mana banyaknya jumlah pengamatan mampu menghasilkan data yangpresisi.

Pendekatan tersebut menggabungkan pengetahuan lama tentang tumbuhan sebagai sensor lingkungan hidup, dengan data sains warga berskala besar.

Pendekatan yang disebut Mobile Crowd Sensing of Environments (MCSE) itu lebih akurat daripada pengukuran klasik yang seringkali gagal menangkap heterogenitas spasial yang kuat.

Baca juga:

"Bahkan di antara beton dan aspal, tanaman mengungkapkan dengan sangat akurat seberapa hangat atau kering suatu lokasi, atau apakah tanahnya telah banyak terganggu," tutur Tautenhahn.

Studi interdisipliner ini menggabungkan keahlian peneliti dari bidang botani, ekologi, ilmu tanah, visi komputer, sains warga, dan penginderaan jauh.

Setiap perspektif berkontribusi untuk mengubah pengamatan tanaman yang dihasilkan warga menjadi gambaran kondisi lingkungan perkotaan yang detail dan belum pernah ada sebelumnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau