Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Karbon Lamun di Jawa dan Sumatra Paling Besar, Ini Temuan BRIN

Kompas.com, 17 Januari 2026, 17:56 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Faktor emisi karbon dari ekosistem lamun di Jawa dan sebagian Sumatera menjadi yang tertinggi dibandingkan daerah pesisir lain di Indonesia, menurut riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Aan Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah lebih besar dibandingkan wilayah lain.

Baca juga:

"Kalau kita bicara karbon biru, selama ini fokusnya selalu pada penyerapan. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan," ucap Aan, dilansir dari Antara, Sabtu (17/1/2026).

Faktor emisi karbon lamun di Jawa dan Sumatera tertinggi

Dalam riset ini, Aan menggunakan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun.

Sebagai informasi, faktor emisi merupakan angka yang menggambarkan seberapa besar karbon dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan.

"Dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun, dan berpotensi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir," jelas Aan.

Ketika lamun masih sehat, karbon tetap terperangkap di dalam sistem pesisir. Namun, saat ekosistem terganggu, karbon yang tersimpan ini bisa kembali lepas ke udara dalam bentuk karbon dioksida.

Baca juga:

Metode chronosequence untuk membaca perubahan waktu

Riset BRIN menemukan faktor emisi karbon lamun di Jawa dan Sumatera tertinggi di Indonesia akibat tekanan pesisir tinggi.Dok. Wikimedia Commons/Ghofar Ismail Putra Riset BRIN menemukan faktor emisi karbon lamun di Jawa dan Sumatera tertinggi di Indonesia akibat tekanan pesisir tinggi.

Untuk menghitung perubahan karbon tersebut, Aan menggunakan pendekatan chronosequence modeling. Metode ini dilakukan dengan membandingkan padang lamun yang masih relatif baik dengan yang telah mengalami degradasi.

Pendekatan ini membantu peneliti memperkirakan bagaimana kondisi karbon berubah dari waktu ke waktu. Dengan cara ini, peneliti dapat melihat dampak jangka panjang kerusakan pesisir terhadap emisi karbon.

Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektar per tahun.

Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi. Wilayah tersebut terutama berada di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Sumatera.

Mengapa faktor emisi karbon Jawa dan Sumatera tertinggi?

Menurut Aan, tingginya faktor emisi karbon di Jawa dan Sumatera tidak terjadi tanpa sebab. Wilayah ini memiliki tingkat tekanan antropogenik yang sangat besar.

"Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih besar," kata dia.

Di wilayah pesisir, tekanan ini muncul dari berbagai kegiatan, seperti reklamasi pantai, pengerukan laut, pembangunan pelabuhan, serta peningkatan sedimentasi dari daratan.

Semakin padat aktivitas manusia, semakin besar risiko kerusakan padang lamun. Saat lamun rusak, fungsi penyimpanan karbon ikut berubah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau