KOMPAS.com - Kerugian ekonomi secara global yang disebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) naik hampir dua kali lipat akibat kerusakan laut yang dipicu krisis iklim.
Studi terbaru dari Scripps Institution of Oceanography di Universitas California San Diego, Amerika Serikat, menghitung kerugian ekonomi dari kerusakan laut sebagai penyimpan karbon untuk pertama kalinya.
Baca juga:
Hingga saat ini, laut kerap diabaikan dalam perhitungan standar biaya sosia karbon. Padahal degradasi ekosistem terumbu karang, kerugian akibat dampak sektor perikanan, serta kerusakan infrastruktur pesisir, sudah terdokumentasi dengan baik.
“Jika kita tidak memberikan harga pada kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim terhadap lautan, hal itu akan tidak terlihat oleh para pengambil keputusan utama,” kata ekonom lingkungan Bernardo Bastien-Olvera, yang memimpin studi tersebut selama masa post-doctoral fellowship di Scripps Oceanography, dilansir dari laman Today UCSD, Sabtu (17/1/2026).
Ia menambahkan, studi yang terbit di Nature Climate Change ini merupakan yang pertama menetapkan nilai setara moneter untuk dampak lautan yang selama ini diabaikan.
Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.Emisi GRK yang dihasilkan manusia menyebabkan kerusakan dengan menghangatkan suhu laut, mengubah kimia laut, dan mengurangi kemampuan laut untuk menyimpan oksigen yang diperlukan untuk kelangsungan hidup spesies.
Di sisi lain, emisi GRK dapat meningkatkan keparahan krisis iklim. Sebab, kenaikan suhu memberikan lebih banyak energi untuk memicu cuaca dan ekstrem.
Imbasnya, infrastruktur pelabuhan rusak dan distribusi spesies berubah. Ekosistem seperti terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, serta padang rumput laut juga terdampak.
Studi tersebut mengembangkan perhitungan yang mempertimbangkan nilai guna pasar yang langsung tampak. Misalnya, penurunan pendapatan perikanan atau berkurangnya perdagangan.
Studi tersebut juga memperhitungkan nilai non-pasar, seperti dampak kesehatan akibat berkurangnya ketersediaan nutrisi dari sektor perikanan dan peluang rekreasi di laut.
Bahkan, studi tersebut mempertimbangkan hal-hal yang tidak berwujud. Di antaranya, nilai intrinsik yang diperoleh manusia dari menikmati ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Para peneliti memasukkan perkiraan itu ke dalam model ekonomi yang dikalibrasi untuk berbagai lintasan emisi GRK.
Baca juga:
Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.
Tanpa memasukkan dampak terhadap laut, biaya sosial karbon sebesar 51 dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 862.364) per ton karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer.
Ketika model dijalankan dengan dampak terhadap laut, peneliti menghitung tambahan 46,2 dollar AS (sekitar Rp 781.200) per ton CO2 atau mencapai total 97,2 dollar AS (sekitar Rp 1,64 juta) per ton CO2, dengan peningkatan sebesar 91 persen.
Untuk memberikan gambaran skalanya, pada tahun 2024, emisi karbon dioksida global diperkirakan mencapai 41.6 miliar ton CO2 berdasarkan analisis Global Carbon Budget.
Hal itu menyiratkan hampir dua triliun dollar AS (sekitar Rp 33.818,1 triliun) kerusakan laut terkait dengan emisi GRK global selama satu tahun yang saat ini tidak termasuk dalam perkiraan biaya iklim standar.
Secara keseluruhan, kerugian pasar diproyeksikan menjadi biaya terbesar bagi masyarakat, dengan total kerugian tahunan global sebesar 1,66 triliun dollar AS (sekitar Rp 28.069,1 triliun) tahun 2100.
Kerugian dalam nilai intrinsik yang diperoleh dari menikmati ekosistem laut, mencapai 224 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.787,6 triliun) dan nilai non-guna pasar, termasuk penurunan nutrisi dari perikanan yang terdampak, menambah kerugian tahunan sebesar 182 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.077,4 triliun).
Studi terbaru mengungkap emisi GRK membuat kerugian ekonomi global melonjak tajam akibat rusaknya laut sebagai penyimpan karbon.Studi tersebut mengungkapkan, distribusi dampak kerusakan laut sangat tidak merata di seluruh dunia, dengan pulau-pulau dan usaha berskala kecil terdampak paling parah.
Sebab, pulau-pulau dan usaha berskala kecil bergantung terhadap makanan laut untuk nutrisi sehingga berpotensi mengalami peningkatan dampak kesehatan pada populasi mereka.
Studi ini juga memperhitungkan bagaimana pemanasan laut mengurangi ketersediaan nutrisi penting dalam makanan laut, termasuk kalsium, asam lemak omega-3, protein, dan zat besi.
Hilangnya nutrisi ini bisa dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian tambahan.
Baca juga:
Dalam studi ini, kerusakan laut akibat krisis iklim disebut sebagai biaya sosial karbon "biru", alat yang digunakan dalam analisis biaya-manfaat.
Analisis biaya-manfaat dipakai oleh lembaga pemerintah untuk perancangan kebijakan dan oleh anggota sektor swasta untuk analisis manajemen risiko dan perencanaan keuangan.
"Melindungi lingkungan dapat memiliki biaya awal yang tinggi, jadi kita membutuhkan metode untuk memikirkan pertimbangan yang kita buat sebagai masyarakat. Ada hal-hal yang dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat yang tidak mudah dimonetisasi, dan lautan sangat sulit untuk diberi nilai moneter," ucap salah satu penulis studi sekaligus ilmuwan iklim dan profesor madya di Scripps Oceanography dan School of Global Policy and Strategy, Kate Ricke.
"Biaya sosial karbon biru adalah kerangka kerja baru untuk mengenali nilai-nilai ini," tambah dia.
Sementara itu, Bastien-Olvera mengatakan, biaya sosial karbon dapat membantu memahami konteks kerugian akibat krisis iklim.
“Ketika suatu industri mengeluarkan satu ton karbon dioksida ke atmosfer, sebagai masyarakat kita menanggung biayanya. Sebuah perusahaan dapat menggunakan angka ini untuk menginformasikan analisis biaya-manfaat, apa kerusakan yang akan mereka timbulkan pada masyarakat melalui peningkatan emisi mereka?," kata Bastien-Olvera.
Ia berharap para pembuat kebijakan dan industri akan menggunakan studi yang melibatkan para ilmuwan lintas disiplin ini untuk mendukung pengambilan keputusan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya