Menurut Heri, mitigasi penurunan muka tanah di Demak belum efektif, masih bersifat parsial, dan tidak menyentuh akar masalahnya.
Sebagai contoh, banjir rob akibat penurunan permukaan tanah justru dijawab dengan pembangunan tanggul. Padahal semestinya mitigasi banjir rob tersebut dilakukan dengan pengendalian penurunan permukaan tanah.
Tanggul dinilai hanya akan ikut ambles seiring penurunan permukaan tanah. Bahkan, meninggikan tanggul dua sampai empat kali lipat masih saja akan tenggelam, seperti di Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan daerah di pantai utara Jawa (pantura) lainnya.
"Kalau tanggul itu ya berarti dia hanya obat sementara atau painkiller. Kenapa? Karena tanggul dan tanahnya kan terus turun. Nah, itu yang terjadi di Demak," tutur Heri.
Rehabilitasi mangrove, lanjut Heri, juga bukanlah "obat" untuk banjir rob.
Di wilayah pesisir Jawa, terdapat permasalahan banjir rob, erosi, abrasi, serta sedimentasi. Abrasi dan banjir rob menjadi dampak buruk yang paling dominan.
Bedanya, banjir rob dipicu penurunan permukaan tanah dan abrasi akibat gelombang laut.
"Mangrove itu akan efektif untuk mengurangi abrasi. Tapi bukan solusi untuk banjir rob karena kalau tanahnya turun, mangrovenya ikut turun, banjir robnya itu tetap datang ya sehingga mangrove itu ya bukan obat yang cocok untuk banjir rob. Tapi dia obatnya yang cocok untuk abrasi. Nah, apa yang kita saksikan di Demak, itu dominannya banjir rob, bukan abrasi," jelas Heri.
Baca juga:
Jika banjir rob, pengendalian penurunan permukaan tanah dengan sistem manajemen air yang lebih baik. Termasuk, mengendaikan eksploitasi air tanah.
"Pendekatan mangrove, kalau saya boleh bilang obat yang salah ya, meskipun banyak yang protes. Jika dominannya banjir rob, berarti bukan mangrove solusinya. Nah, solusinya harus yang lebih komprehensif," tutur Heri.
Eksploitasi air tanah menjadi faktor utama penurunan permukaan tanah di Demak. Meski industri tidak terlalu banyak, sektor pertanian dan pertambakan, serta masyarakat baik secara individu maupun komunal, juga mengeksploitasi air tanah di Demak.
Jakarta saat ini termasuk contoh best practice untuk pengendalian permukaan tanah.
Strateginya, mengganti ketergantungan pada sumur bor air tanah dengan penyediaan air bersih melalui jaringan perpipaan yang bersumber dari air permukaan, seperti sungai dan waduk.
"Ditambah suplai dari pipanisasi dari Ciliwung, terus pipanisasinya dikebut hingga 2030 ya, harapannya 100 persen pipanisasi menjangkau seluruh wilayah Jakarta sehingga mengurangi eksploitasi. Nah, itu sedang dikerjakan. Di luar Jakarta, di seluruh pantura belum mengerjakan," tutur Heri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya