KOMPAS.com - Demak, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, menghadapi ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) yang semakin serius, bahkan pernah disebut lebih parah dari Jakarta.
Wilayah pesisir utara Jawa Tengah mengalami penurunan muka tanah hingga 20 sentimeter setiap tahunnya, dibandingkan dengan Jakarta yang hingga 10 sentimeter per tahun, dilaporkan oleh Kompas.com, Rabu (24/4/2024).
Baca juga:
Wilayah Demak tergolong dataran rendah, yang mana jika penurunan permukaan tanah terjadi terus-menerus, ketinggiannya berisiko menjadi berada di bawah laut. Dengan kondisi tersebut, air laut bisa tumpah ke daratan atau dikenal sebagai banjir rob.
Masalah banjir rob akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah di Demak disebut sudah terjadi sejak tahun 1980, dilansir dari Kompas.com, Rabu (4/6/2025).
Di sisi lain, curah hujan semakin tinggi yang dipicu krisis iklim akan memperparah situasi di Demak ke depannya. Air hujan senantiasa mengalir ke daratan yang lebih rendah dari daerah sekitarnya.
Penurunan permukaan tanah secara berkesinambungan membentuk cekungan subsidence, yang menyebabkan Demak semakin rentan terhadap banjir fluvial setelah diguyur hujan. Banjir fluvial terjadi akibat aliran air yang melebihi kapasitas sungai dan meluap ke daratan.
"Jadi istilahnya (Demak) 'diserang' dari hilir dan dari pantai. Nah, bisa lebih parah ya, kalau situasinya seperti ini. Bertambah parah karena tanahnya terus turun, air lautnya terus naik, dan krisis iklim semakin ekstrem," kata dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas kepada Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
"Kalau tidak ada upaya penanganan, mitigasi ya, (bisa) semakin parah," imbuh dia.
Baca juga:
Suasana Masjid Agung Demak jelang Ramadhan pada Sabtu (28/2/2025). Curah hujan tinggi yang dipicu krisis iklim akan memperparah situasi penurunan tanah di Demak ke depannya. Apa yang bisa jadi solusi?Siklus iklim La Nina disebut bisa memperburuk kondisi banjir di Demak karena meningkatkan curah hujan dan gelombang pasang.
Heri menilai, dari segi upaya mitigasi dan tingkat keparahan, Demak lebih parah ketimbang daerah-daerah lain di Jawa yang mengalami permasalahan penurunan permukaan tanah.
Kenaikan permukaan air laut memang terjadi secara global. Kondisi tersebut memperparah daerah-daerah di pesisir Jawa yang malah mengalami penurunan permukaan tanah. Mulai dari Serang, Jakarta, Demak, Pekalongan, Semarang, Purbalingga, sampai Probolinggo.
Mulanya, penurunan permukaan tanah terparah terjadi di Jakarta yang disebabkan eksploitasi air tanah. Setelah dua dekade mengalami penurunan permukaan tanah, Jakarta sudah mulai meredamnya.
Selanjutnya, daerah-daerah dengan penurunan permukaan tanah terparah bergeser ke Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak.
"Semarang dan Pekalongan sudah ada tanggul. Demak sedikit doang sehingga kalau saya lihat di lapangan saat ini, Demak ini yang paling mengkhawatirkan. Turunnya juga sama dengan penurunan tanah di Semarang dan Pekalongan, rata-rata 10 cm (sentimeter) per tahun," tutur Heri.
Kata dia, penurunan permukaan tanah di Purbalingga sebenarnya cukup parah, meski luas wilayah terdampak masih kecil.
Ke depannya, Tegal dan Brebes berpotensi mengikuti jejak Demak, mengingat adanya percepatan penurunan permukaan tanah.
"Nah, jadi semuanya itu dinamis secara spasial dan temporal ya," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya