Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sekolah di Mataram Olah Sampah Mandiri lewat Sistem Tempah Dedoro

Kompas.com, 18 Januari 2026, 14:54 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Sejumlah sekolah di Mataram, Nusa Tenggara Barat, melakukan pengelolaan sampah organik dengan sistem tempah dedoro. Hal ini bagian dari program Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram. 

Perluasan sistem tempah dedoro merupakan upaya Pemerintah Kota Mataram untuk menekan volume sampah harian yang terus meningkat.

Baca juga:

"Untuk di sekolah-sekolah di bawah Dinas Pendidikan Kota Mataram, Alhamdulillah sudah berjalan baik di tingkat SD maupun SMP," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, H Nizar Denny Cahyadi, dilansir dari Antara, Minggu (18/1/2026).

Saat ini, sampah di Kota Mataram mencapai sekitar 250 ton per hari. Dari jumlah itu, 60 persen merupakan sampah organik yang sebenarnya bisa diolah langsung dari sumbernya.

Adapun keberhasilan program ini mendorong Dinas Lingkungan Hidup  Mataram untuk melakukan duplikasi secara masif agar semakin banyak sekolah mampu mengelola sampahnya sendiri.

Sekolah di Mataram olah sampah lewat sistem tempah dedoro

Program pengolahan sampah organik dengan sistem tempah dedoro sejalan dengan instruksi Wali Kota Mataram.

Dalam kebijakan tersebut, pusat perkantoran, hotel, restoran, katering, dan sekolah diminta mengelola sampah secara mandiri.

Tujuannya agar sampah tidak lagi seluruhnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengolahan harus dimulai dari lokasi asal sampah dihasilkan.

Salah satu sistem yang dikembangkan secara khusus adalah tempah dedoro, terutama untuk mengolah sampah organik.

Baca juga:

Mengenal sistem tempah dedoro

Sekolah di Mataram bisa mengolah sampah sendiri lewat sistem tempah dedoro yang sederhana dan ramah lingkungan.wikimedia.org/Foerster Sekolah di Mataram bisa mengolah sampah sendiri lewat sistem tempah dedoro yang sederhana dan ramah lingkungan.

Sistem tempah dedoro tergolong sederhana dan mudah diterapkan. Media pengolahannya dibuat dari buis beton yang dilengkapi penutup, lalu di bagian tertentu terdapat lubang khusus untuk membuang sampah organik.

Melalui wadah ini, pihak sekolah dapat mengolah sampah secara mandiri di lingkungan sekolah. Bahkan, sistem tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga di sekitar sekolah.

Sampah organik yang dimasukkan akan mengalami proses penguraian alami. Untuk menghilangkan bau sekaligus mempercepat proses tersebut, digunakan cairan EM4.

Setelah proses penguraian selesai, sampah organik akan berubah menjadi kompos. Kompos ini bisa digunakan sebagai pupuk alami.

Adapun penerapan sistem tempah dedoro tidak hanya dilakukan di sekolah. Kantor instansi pemerintah di bawah Pemerintah Kota Mataram juga telah menjalankan program serupa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Serangga Jadi Korban Invasi Spesies Asing, Populasi Bisa Menurun
Serangga Jadi Korban Invasi Spesies Asing, Populasi Bisa Menurun
LSM/Figur
Sekolah di Mataram Olah Sampah Mandiri lewat Sistem Tempah Dedoro
Sekolah di Mataram Olah Sampah Mandiri lewat Sistem Tempah Dedoro
Pemerintah
Pertanian yang Produktif Bisa Menekan Laju Emisi Gas Rumah Kaca
Pertanian yang Produktif Bisa Menekan Laju Emisi Gas Rumah Kaca
LSM/Figur
Marine Darkwave, Fenomena Dasar Laut Gelap Total yang Ancam Ekosistem
Marine Darkwave, Fenomena Dasar Laut Gelap Total yang Ancam Ekosistem
LSM/Figur
Penurunan Tanah di Demak, Tanggul dan Mangrove Disebut Bukan Solusi
Penurunan Tanah di Demak, Tanggul dan Mangrove Disebut Bukan Solusi
LSM/Figur
UNIDO Sebut Kawasan Industri Jadi Kunci Hilirisasi dan Transisi Hijau Indonesia
UNIDO Sebut Kawasan Industri Jadi Kunci Hilirisasi dan Transisi Hijau Indonesia
Pemerintah
Ratusan Sinkhole Muncul di Turkiye, Apa Penyebabnya?
Ratusan Sinkhole Muncul di Turkiye, Apa Penyebabnya?
Pemerintah
Waspada Sinkhole di Indonesia, Pentingnya Pemetaan di Wilayah Batu Gamping
Waspada Sinkhole di Indonesia, Pentingnya Pemetaan di Wilayah Batu Gamping
Pemerintah
Kerusakan Laut akibat Emisi Karbon Bikin Ekonomi Global Rugi Hampir 2 Kali Lipat
Kerusakan Laut akibat Emisi Karbon Bikin Ekonomi Global Rugi Hampir 2 Kali Lipat
LSM/Figur
Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri
Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri
Pemerintah
Emisi Karbon Lamun di Jawa dan Sumatera Paling Besar, Ini Temuan BRIN
Emisi Karbon Lamun di Jawa dan Sumatera Paling Besar, Ini Temuan BRIN
Pemerintah
PLN Gunakan VR untuk Jelajah Perkembangan EBT di Jawa Timur
PLN Gunakan VR untuk Jelajah Perkembangan EBT di Jawa Timur
Pemerintah
Fenomena Sinkhole di Indonesia dan Cuaca Ekstrem
Fenomena Sinkhole di Indonesia dan Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Google Beli 1,17 GW Energi Bebas Karbon demi Pusat Data Rendah Emisi
Google Beli 1,17 GW Energi Bebas Karbon demi Pusat Data Rendah Emisi
Swasta
Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia
Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau