Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi di Ambang Krisis Lingkungan, Ini 5 Langkah yang Harus Dilakukan Dunia

Kompas.com, 19 Januari 2026, 22:03 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Manusia dinilai tengah menekan bumi menuju titik krisis lingkungan, yang mana bisa berdampak buruk, menurut laporan Global Environment Outlook edisi ketujuh (GEO-7) oleh United Nations Environment Programme (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa atau UNEP). 

Meskipun demikian, belum terlambat bagi umat manusia untuk mengubah arah. 

Baca juga:

Dalam laporan GEO-7, terdapat cara agar bumi lebih sehat, dengan berfokus terhadap lima transformasi sistem utama yaitu ekonomi dan keuangan, material dan limbah, energi, pangan, serta lingkungan.

"Membangun kembali kelima sistem tersebut akan membutuhkan upaya seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia. Namun, hal itu sangat penting jika kita ingin membangun planet yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan," kata Chief of Service Kantor Sains UNEP, Maarten Kappelle, dilansir dari Eco-Business, Seni (19/1/2026). 

Pada tahun 2050, transformasi sistem tersebut dapat mencegah sembilan juta kematian dini, membantu 100 juta orang keluar dari kemiskinan, serta membantu 200 juta orang yang kekurangan gizi.

Transformasi sistem itu juga bisa menciptakan manfaat ekonomi sebesar 100 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 1.698 kuadriliun) setiap tahunnya pada akhir abad ini.

Baca juga:

Rekomendasi laporan GEO-7 agar bumi lebih sehat

1. Melangkah lebih dari PDB

UNEP dalam laporan GEO-7 menegaskan krisis lingkungan kian nyata. Ada lima transformasi besar agar planet tetap layak huni hingga 2050.Freepik/wirestock UNEP dalam laporan GEO-7 menegaskan krisis lingkungan kian nyata. Ada lima transformasi besar agar planet tetap layak huni hingga 2050.

Pertama, melangkah lebih dari sekadar produk domestik bruto (PDB). Selama ini, negara-negara mengandalkan PDB sebagai barometer kekayaan, tanpa memperhitungkan dampak finansial jangka panjang dari degradasi lingkungan dan pertimbangan penting lainnya.

Negara-negara dianggap perlu memperluas definisi kesejahteraan fiskal mereka. Salah satunya dengan akuntansi modal alam, yang memberikan nilai dollar pada sumber daya dan jasa yang disedakan lingkungan.

Jenis pengukuran ini bisa menggambarkan secara lebih akurat kepada negara-negara tentang kekayaan mereka, termasuk membantu membuat keputusan yang baik bagi lingkungan dan keuangan mereka.

2. Reformasi insentif sistem perekonomian global

Rekomendasi kedua adalah mereformasi insentif sistem perekonomian global yang terlalu sering menyerahkan penghargaan terhadap praktik-praktik yang merusak bumi.

Laporan GEO-7 menyarankan untuk mengalihkan dana subsidi pemerintah untuk sektor energi, pertambangan, dan pangan yang meruska lingkungan.

Bahkan, negara-negara dinilai perlu mempertimbangkan pajak atas barang dan jasa merusak lingkungan, yang dananya disalurkan untuk mendukung kelompok paling rentan.

Atau, laporan GEO-7 juga mendesak pemerintah negara-negara menyelaraskan anggaran dan kebijakan ekonomi mereka dengan tujuan kesepakatan lingkungan, seperti Perjanjian Paris.

Di sisi lain, laporan GEO-7 menyarankan pemerintah negara-negara mempromosikan investasi dalam teknologi hijau, mendorong warga negara mereka untuk membuat pilihan yang ramah lingkungan, serta mewajibkan bisnis untuk menanggung seluruh biaya kerusakan yang timbulkannya terhadap planet ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau