KOMPAS.com - Manusia dinilai tengah menekan bumi menuju titik krisis lingkungan, yang mana bisa berdampak buruk, menurut laporan Global Environment Outlook edisi ketujuh (GEO-7) oleh United Nations Environment Programme (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa Bangsa atau UNEP).
Meskipun demikian, belum terlambat bagi umat manusia untuk mengubah arah.
Baca juga:
Dalam laporan GEO-7, terdapat cara agar bumi lebih sehat, dengan berfokus terhadap lima transformasi sistem utama yaitu ekonomi dan keuangan, material dan limbah, energi, pangan, serta lingkungan.
"Membangun kembali kelima sistem tersebut akan membutuhkan upaya seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia. Namun, hal itu sangat penting jika kita ingin membangun planet yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan," kata Chief of Service Kantor Sains UNEP, Maarten Kappelle, dilansir dari Eco-Business, Seni (19/1/2026).
Pada tahun 2050, transformasi sistem tersebut dapat mencegah sembilan juta kematian dini, membantu 100 juta orang keluar dari kemiskinan, serta membantu 200 juta orang yang kekurangan gizi.
Transformasi sistem itu juga bisa menciptakan manfaat ekonomi sebesar 100 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 1.698 kuadriliun) setiap tahunnya pada akhir abad ini.
Baca juga:
UNEP dalam laporan GEO-7 menegaskan krisis lingkungan kian nyata. Ada lima transformasi besar agar planet tetap layak huni hingga 2050.Pertama, melangkah lebih dari sekadar produk domestik bruto (PDB). Selama ini, negara-negara mengandalkan PDB sebagai barometer kekayaan, tanpa memperhitungkan dampak finansial jangka panjang dari degradasi lingkungan dan pertimbangan penting lainnya.
Negara-negara dianggap perlu memperluas definisi kesejahteraan fiskal mereka. Salah satunya dengan akuntansi modal alam, yang memberikan nilai dollar pada sumber daya dan jasa yang disedakan lingkungan.
Jenis pengukuran ini bisa menggambarkan secara lebih akurat kepada negara-negara tentang kekayaan mereka, termasuk membantu membuat keputusan yang baik bagi lingkungan dan keuangan mereka.
Rekomendasi kedua adalah mereformasi insentif sistem perekonomian global yang terlalu sering menyerahkan penghargaan terhadap praktik-praktik yang merusak bumi.
Laporan GEO-7 menyarankan untuk mengalihkan dana subsidi pemerintah untuk sektor energi, pertambangan, dan pangan yang meruska lingkungan.
Bahkan, negara-negara dinilai perlu mempertimbangkan pajak atas barang dan jasa merusak lingkungan, yang dananya disalurkan untuk mendukung kelompok paling rentan.
Atau, laporan GEO-7 juga mendesak pemerintah negara-negara menyelaraskan anggaran dan kebijakan ekonomi mereka dengan tujuan kesepakatan lingkungan, seperti Perjanjian Paris.
Di sisi lain, laporan GEO-7 menyarankan pemerintah negara-negara mempromosikan investasi dalam teknologi hijau, mendorong warga negara mereka untuk membuat pilihan yang ramah lingkungan, serta mewajibkan bisnis untuk menanggung seluruh biaya kerusakan yang timbulkannya terhadap planet ini.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya