Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab

Kompas.com, 20 Januari 2026, 11:51 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banjir melanda Jakarta dan wilayah penyangganya, termasuk Bekasi, beberapa hari lalu. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir yang merendam puluhan RT di Jakarta dipicu curah hujan tinggi hingga menyebabkan air sungai meluap, lalu melimpas ke permukiman.

Namun, curah hujan tinggi tak diantisipasi dengan sistem penyerapan air yang mumpuni.

Peneliti Limnologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M Fakhrudin menyebut perubahan tata guna lahan di kawasan hulu, tingginya urbanisasi, dan penurunan muka tanah memperberat risiko banjir dari tahun ke tahun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Baca juga:

"Urbanisasi ini sebenarnya perumpamaannya kalau sebelum ada perumahan, air banyak meresap ke tanah plus juga tertahan di permukaan. Ada tanaman sehingga agak lama ke hilirnya," ujar Fakhrudin saat dihubungi, Selasa (20/1/2026).

"Begitu ada perumahan, infiltrasi peresapan ke dalam tanah berkurang, dan yang kedua sisanya infiltrasi mengalirnya ke hilir pelan-pelan sehingga di hilir bebannya makin tinggi," imbuhnya.

Penyebab banjir Jakarta berulang

Penurunan muka tanah bikin aliran air menuju laut makin lambat

Kota dengan tingkat urbanisasi tinggi ini memiliki topografi datar dan mengalami penurunan muka tanah. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air menuju laut menjadi semakin lambat.

Kata Fakhrudin, kondisi tersebut diperparah fenomena pasang air laut yang kerap terjadi, memicu aliran air dari darat tertahan dan meningkatkan potensi banjir.

Baca juga: 

Drainase sebaiknya disesuaikan dengan intensitas hujan yang meningkat

Pantauan udara suasana banjir di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Minggu (18/1/2026).Dok: ARIESANT/WARGA. Pantauan udara suasana banjir di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Minggu (18/1/2026).

Buruknya sistem drainase menambah sederet pekerjaan rumah untuk menangani banjir di Jakarta.

"Drainase di Jakarta memang didesain pada hujan-hujan tertentu. Harusnya desain drainase harus disesuaikan dengan intensitas hujan yang semakin meningkat, periode ulangnya semakin pendek," jelas dia.

Fakhrudin mengusulkan pembangunan drainase sesuai periode ulang. Artinya, drainase mampu menampung hujan ekstrem yang peluang kejadiannya satu persen setiap tahun. 

"Memang konsekuensinya drainasenya jadi mahal, tetapi itu lebih aman," ucap Fakhrudin.

Di samping itu, sistem drainase harus diintegrasikan dengan sungai-sungai di Jakarta.

Lantaran Jakarta memiliki dataran yang rendah, pemerintah provinsi harus bersiap dengan pompa air saat banjir melanda. Sering kali, pompa ini justru tak sesuai kapasitas di samping distribusinya yang terbatas.

Tren penurunan muka tanah di Jakarta

Genangan sisa banjir yang terjadi pada Minggu (18/1/2026) masih terlihat di Jalan Cakung Cilincing Raya, Jakarta Utara, Senin (19/1/2026)KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman Genangan sisa banjir yang terjadi pada Minggu (18/1/2026) masih terlihat di Jalan Cakung Cilincing Raya, Jakarta Utara, Senin (19/1/2026)

Beberapa data menunjukkan, laju penurunan tanah di Jakarta yang cukup signifikan. Fakhrudin mencatat, laju penurunannya berkisar antara 5-15 sentimeter per tahun, bahkan ada wilayah yang mencapai 9-15 sentimeter per tahun.

Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan periode 1982–1997 yang berada di kisaran 0,8-8 sentimeter per tahun. Penurunan tanah paling ekstrem terjadi sejak awal tahun 2000-an.

"Dulu memang rendah, terus naik, ada beberapa data yang katanya sudah mulai penurunannya semakin rendah. Penurunannya semakin rendah itu bisa macam-macam bisa karena pengambilan air tanahnya berkurang atau batuannya di sana sudah mengalami pemadatan yang relatif stabil," papar dia.

Di sisi lain, peristiwa banjir di Jakarta disebut kian meningkat. Fakhrudin menyampaikan bahwa perubahan iklim global memicu hujan turun dengan intensitas yang lebih tinggi dalam waktu singkat.

"Sedangkan, kapasitas infiltrasi di lahan di tanah menurun. Jadi inputnya makin meningkat, kapasitas penyerapannya makin nurun otomatis ini makin meningkatkan potensi banjirnya," beber Fakhrudin.

Baca juga:

Sejumlah pengendara motor yang terjebak banjir memilih untuk mendorong kendaraan mereka di  Jalan Boulevard Timur, Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Minggu (18/1/2026).(KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA). Sejumlah pengendara motor yang terjebak banjir memilih untuk mendorong kendaraan mereka di Jalan Boulevard Timur, Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Minggu (18/1/2026).

Sebelumnya, banjir sempat melanda beberapa wilayah di Jakarta pada Minggu (18/1/2026) hingga Senin (19/1/2026) pagi.

Di Jakarta Barat, banjir merendam 20 RT yang tersebar di lima kelurahan. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kedaung Kali Angke dengan ketinggian air 20-50 sentimeter (cm), Rawa Buaya setinggi 10 cm, Jelambar setinggi 20 cm, Kamal dengan ketinggian 25 hingga 30 cm, serta Tegal Alur setinggi 30 cm.

Sementara itu, di Jakarta Timur, banjir terjadi di 11 RT. Kelurahan Rawa Terate banjir setinggi 65 cm, Kelurahan Cawang mencapai 80 cm akibat luapan Kali Ciliwung, serta Kelurahan Bidara Cina dengan ketinggian air 60-80 cm.

Adapun di Jakarta Utara, banjir merendam empat RT, masing-masing di Kelurahan Pademangan Barat setinggi 30 cm, Tanjung Priok setinggi 25 cm, serta Kapuk Muara setinggi 15 cm yang disebabkan hujan deras dan rob. Banjir kemudian dinyatakan surut pukul 07.00 WIB pada Senin (19/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau