Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Sudah Dipilah, tapi Lalu ke Mana? Pakar Jelaskan Masalah Sampah di Indonesia

Kompas.com, 22 Januari 2026, 19:39 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Infrastrukur pengelolaan sampah di Indonesia disebut masih belum memadai. Sampah yang telah dipilih dan dipilah masyarakat tidak bisa diakomodasi fasilitas pengolahannya secara langsung.

"Mungkin teman-teman di sini sudah sadar pentingnya pemilahan sampah. Beberapa sudah memilah sampah di rumah, enggak hanya aware (sadar), tapi ikut terjun (mengedukasi masyarakat). Cuma permasalahannya di Indonesia, setelah dipilah, sampahnya dikemanakan? Ada enggak fasilitas-fasilitas untuk mengolah sampah?" ujar Founder & CEO Rekosistem, Ernest Christian Layman dalam webinar Plastic Sustainability dari Beauty Science Tech (BST) 2026, Kamis (22/1/2026).

Baca juga:

Setelah sampah dipilah, lalu dikemanakan?

Jurang antara pemilahan sampah dengan infrastruktur pengelolaan sampah

Masyarakat sudah pilah sampah dari rumah, tapi minim fasilitas membuat pengelolaan mandek. Simak penjelasan pakar.Unsplash Masyarakat sudah pilah sampah dari rumah, tapi minim fasilitas membuat pengelolaan mandek. Simak penjelasan pakar.

Secara garis besar, terdapat beberapa kode umum untuk jenis sampah plastik, d antaranya polyethylene terephthalate (PET), high-density polyethylene (HDPE), polyvinyl chloride (PVC), low-density polyethylene (LDPE), polystyrene (PS), dan polypropylene (PP).

Namun, infrastruktur pengelolaan sampah plastik yang tersedia secara cukup memadai di Indonesia hanya untuk jenis PET dan HDPE.

Untuk mengatasi jurang infrastruktur pengelolaan sampah tersebut, perlu kontribusi dari perusahaan-perusahaan melalui skema tanggung jawab produsen yang diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR).

"Jadi tantangan di Indonesia ini sebenarnya bukan lagi di kesadaran masyarakatnya. Ada inisiatif dari sistemik, semua sudah aware. Tadi teman-teman di sini juga sudah mulai milah, tapi tantangannya lebih ke setelah dipilah, bisa enggak infrastrukturnya itu tersedia, kapasitas dan kapabilitasnya buat mengolah?" tutur Ernest.

Penegakan hukum harus diberlakukan terhadap masyarakat yang membakar atau membuang sampah sembarang.

Selain itu, penegakan hukum juga perlu diterapkan kepada perusahaan-perusahaan produsen yang tidak mengelola sampah dari produknya.

Menurut Ernest, investasi dari pihak swasta menjadi penting, mengingat penyelesaian pengelolaan persampahan di Indonesia tidak bisa hanya bergantung pemerintah.

"Permasalahan sampah ini adalah permasalahan yang masalah kolektif.
Bagaimana swasta-swasta ini mau melakukan investasi? Nah, dengan kepastian hukum tersebut, investasi-investasi dari swasta untuk membuat fasilitas pengolahan sampah jadi lebih terbuka, karena ada keamanan dan kepastian dalam berbisnis pengelolaan sampah," jelas dia.

Baca juga:

Tidak semua sampah yang didaur ulang bisa menguntungkan

Masyarakat sudah pilah sampah dari rumah, tapi minim fasilitas membuat pengelolaan mandek. Simak penjelasan pakar.Freepik Masyarakat sudah pilah sampah dari rumah, tapi minim fasilitas membuat pengelolaan mandek. Simak penjelasan pakar.

Di sisi lain, ada berbagai kendala lain dari aspek teknis dan keekonomian dalam permasalahan persampahan di Indonesia.

Secara global, kata Ernest, sebenarnya sudah banyak teknologi pengelolaan sampah di Indonesia. Misalnya, ada teknologi untuk mengelola berbagai jenis plastik, termasuk yang sudah terkontaminasi oleh sampah organik ataupun material-material residu lainnya.

Namun, tidak semua jenis sampah yang dikelola dengan daur ulang bisa menguntungkan. Ia mempertanyakan siapa pihak yang akan menanggung biaya atas kerugian dalam pengelolaan sampah yang tidak layak secara ekonomi.

"Masyarakat, perusahaan swasta, pemerintah atau siapa gitu. Nah, sering kali memang tantangan ya di Indonesia itu larinya itu enggak dipikirkan, infrastrukturnya itu seperti apa," ucap Ernest.

Saat ini sudah ada lembaga swadaya, masyarakat, dan bahkan perusahaan swasta yang telah berfokus untuk mengelola sampah plastik bernilai ekonomis, seperti PET dan HDPE.

Kendati berfokus terhadap sampah plastik bernilai ekonomis, kata Ernest, mereka sudah membantu dalam penyediaan pengelolaan sampah.

Setidaknya, sampah-sampah bernilai ekonomis sudah tidak terbuang percuma dan memperparah keadaan.

Untuk sampah jenis residu, seperti saset kemasan multi-layer atau bungkus plastik bekas makanan, aspek keekonomian sebagai syarat tersedianya infrastruktur pengelolaannya menjadi tantangan berat.

"Plastik ini kan hasil olahan dari berbagai macam ya, kandungan polimernya di dalam. Tapi kita berpikir untuk memproduksinya, tapi tidak memikirkan cara mengolahnya. Dan, apakah ekonominya masuk atau enggak," ujar Ernest.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau