Menurut William, pusat ini hadir dalam masa transisi keberlanjutan Indonesia, dengan cara menjembatani kesenjangan dari sumber daya dan tenaga penggerak.
Ia menilai, Indonesia kekurangan kapabilitas dalam menjawab isu-isu sustainabilitas.
"Inilah paradoks sustainabilitas di Indonesia. kita terkenal sangat kaya dengan aset alam, hutan, mangrove, lautan, keanekaragaman hayati, mineral kritis, potensi energi terbarukan, namun kita masih kekurangan sumber daya yang paling menentukan: Keahlian manusia. Menjawab kesenjangan itu, lembaga ini hadir dengan fokus pembentukan kepemimpinan, kompetensi kebijakan, dan aksi yang benar-benar berjalan,” tutur William.
Baca juga:
Dalam menjawab tantangan penanganan bencana di Indonesia, sustainabilitas bergerak berdasarkan bukti yang sudah terjadi di lapangan.
"Kalau sustainabilitas itu cocok untuk tantangan hari ini terutama bencana itu. Misalnya, yang bencana Aceh itu kan belum sampai penyelesaian panjang gitu. Bagaimana kita melihat visi kita jangka panjang tapi aksi kita short term (jangka pendek). Ya, ini kita bisa jangka panjang tapi aksinya kita perlu short term," ucap mantan Kepala Pemulihan Kepulauan Nias, Badan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR Aceh-Nias) ini.
"Jadi, kalau kita berpikir soal menangani sebuah bencana agar bencana itu tidak terulang lagi atau kita bisa melakukan mitigasi lebih baik ke depan, kan melihatnya long term gitu ya, apa yang harus kita lakukan. Tapi kemudian tindakan-tindakan segeranya harus juga dilakukan," imbuh dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya