Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Fryer Disebut Lebih Ramah Lingkungan, Ini Penelitiannya

Kompas.com, 29 Januari 2026, 19:38 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com Air fryer disebut bisa mengurangi polusi yang dilepaskan selama proses memasak, bahkan ketika makanannya cukup tinggi lemak, menurut studi terbaru dari Universitas Birmingham, Inggris. 

Air fryer dinilai menghasilkan lebih sedikit partikel di udara dibandingkan dengan teknik penggorengan biasa, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (29/1/2026).

Baca juga:

Air fryer bantu kurangi polusi dalam ruangan

Partikel ultrahalus lebih rendah dibanding penggorengan biasa

Studi menemukan air fryer menghasilkan polusi udara jauh lebih rendah dibanding gorengan biasa, bahkan untuk makanan tinggi lemak.canva.com Studi menemukan air fryer menghasilkan polusi udara jauh lebih rendah dibanding gorengan biasa, bahkan untuk makanan tinggi lemak.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal ES&T Air ini menjadi salah satu yang pertama memetakan keseluruhan campuran polutan yang dilepaskan selama menggunakan air fryer.

Berdasarkan hasil survei, air fryer dengan cepat menjadi peralatan standar di banyak dapur di Inggris.

Seiring dengan semakin populernya air fryer di dapur modern, para peneliti mulai melirik bagaimana alat ini memengaruhi kualitas udara di dalam rumah penggunanya.

Pada beberapa jenis makanan, studi mengukur emisi senyawa organik volatil (VoC) dan partikel ultrahalus lebih rendah daripada yang biasanya mereka lihat pada penggorengan dangkal (shallow frying) atau penggorengan dengan banyak minyak (deep fat frying).

Studi menunjukkan, menggoreng dada ayam dengan udara panas melepaskan VoC jauh lebih sedikit, temuan yang sama dengan penelitian sebelumnya.

Kali ini, para peneliti berfokus pada apakah kandungan lemak dalam makanan mengubah apa yang akhirnya berada di udara.

VoC dan partikel ultrahalus telah dikaitkan dengan masalah kesehatan. Keduanya juga dikaitkan dengan sumber polusi dalam ruangan. Namun, memasak tetap menerima perhatian yang jauh lebih sedikit daripada polusi luar ruangan.

Baca juga:

Mengukur emisi makanan

Studi menemukan air fryer menghasilkan polusi udara jauh lebih rendah dibanding gorengan biasa, bahkan untuk makanan tinggi lemak.Shutterstock/perfectloop123 Studi menemukan air fryer menghasilkan polusi udara jauh lebih rendah dibanding gorengan biasa, bahkan untuk makanan tinggi lemak.

Untuk menangkap emisi memasak secara detail, para peneliti bereksperimen di dalam ruang yang dibuat khusus yang dirancang mendeteksi perubahan kecil pada VoC dan partikel udara lainnya.

Mereka memakai air fryer komersial berkapasitas 4,7 liter. Lalu, para peneliti memasak sejumlah makanan goreng beku, makanan segar rendah lemak, dan makanan segar tinggi lemak sehingga hasilnya bisa dibandingkan dalam kondisi yang konsisten.

Bahkan, di dalam air fryer, beberapa makanan mencatat hasil yang menjadi perhatian. Bawang bombai beku, serta daging asap (smoked bacon), dan daging tanpa asap (unsmoked bacon), menghasilkan emisi terkait memasak tertinggi dalam pengujian.

Namun, perbedaan terbesar muncul saat jenis masakan tinggi lemak yang sama dilakukan dengan cara lain.

Bahkan, dengan menggunakan penggorengan minyak dalam menghasilkan kadar VoC yang 10 hingga 100 kali lebih tinggi. 

Kondisi sejalan dengan penelitian mereka sebelumnya, yang mana memasak dada ayam tanpa lemak dalam minyak, dengan metode berbeda menghasilkan kadar polutan yang lebih tinggi, dibandingkan dengan air fryer.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau