Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam

Kompas.com, 30 Januari 2026, 09:53 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menjadi hutan bambu dan kebun buah. Hal ini dilakukan sebagai langkah pemulihan lingkungan pasca-bencana di wilayah tersebut.

"Untuk tanah milik Perhutani kami akan hutankan, tapi prosesnya tidak akan mengganggu penghasilan warga. Penggarapnya nanti langsung diberi tanaman, mulai dari bambu, tanaman hutan, sampai tanaman kebun atau buah," jelas Dedi, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Baca juga:

Terkait hal itu, dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa menilai rehabilitasi lahan bekas longsor tak sekadar menanami lereng.

"Tindakan rehabilitasi perlu memperhatikan beberapa aspek, antara lain tingkat kerawanan di zona bencana, kelas kelerengan, jenis tanah dominan, pilihan tanaman dengan perakaran yang tepat, serta pilihan konservasi tanah yang tepat," kata Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Dedi Mulyadi Larang Sawit di Jawa Barat, Pakar IPB Nilai Kebijakan Tidak Tepat

Rencana Dedi Mulyadi tanam bambu di lahan longsor Cisarua

Pakar menilai rehabilitasi lahan bekas longsor tak sedar menanami lereng

Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026).KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026).

Mahawan menjelaskan, di zona longsor dengan tingkat kerawanan sangat tinggi dan kemiringan lereng di atas 25 derajat, tanah jenis andisol atau ultisol yang lapuk tebal, diperlukan tanaman dengan akar tunggang yang dalam dan kuat.

Jenis pohon jati, mahoni, atau puspa dinilai lebih sesuai untuk lokasi tersebut.

Sementara itu, bambu memiliki sistem akar serabut yang rapat sehingga efektif mengikat tanah permukaan dan menahan erosi.

Tanaman bambu lebih cocok ditanam pada lereng dengan tingkat kemiringan yang lebih landai atau curam sedang.

Kombinasi bambu dan tanaman buah dinilai dapat memberikan manfaat ganda. Menurut Mahawan, akar serabut bambu membantu menahan lapisan tanah bagian atas, sedangkan tanaman buah berkayu dengan akar lebih dalam memperkuat lapisan tanah di bawahnya.

"Salah satu prinsip penting adalah adanya kombinasi, misalkan bambu dan buah pada prinsipnya sesuai apalagi untuk lereng delapan sampai 25derajat zona sedang sampai rawan," tutur Mahawan.

Baca juga:

 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.Dok. Kementerian PU Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.

Namun, di lereng sangat curam atau tanah vulkanik dan koluvial dengan keemiringan di atas 25 derajat yang mudah jenuh air, penanaman vegetasi saja tidak cukup.

Rehabilitasi harus disertai konservasi tanah dan air seperti teras bangku atau gulud sesuai kemiringan, drainase lereng, sumur resapan kecil, penutup tanah permanen, dan larangan pemotongan lereng.

"Catatan penting lainnya terkait dengan bambu adalah perlu ditempatkan secara bijak, baik sebagai sabuk penguat di kontur dan tepi alur air. Tetapi, misalnya hindari rumpun terlalu berat di bibir tebing atau tepat di zona retakan atau bidang gelincir aktif," papar dia.

Perlunya melibatkan ahli

LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.ANTARA FOTO/Abdan Syakura LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.

Mahawan menegaskan perlunya pengambilan keputusan rehabilitasi area pasca-bencana berbasis ilmu pengetahuan.

Pemerintah daerah dapat melibatkan ahli dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, atau dinas teknis terkait untuk melakukan kajian cepat.

"Sudah banyak dipelajari dan diteliti bagaimana melakukan upaya penanggulangan longsor, dengan memperhatikan tingkat kelerengan lahan, jenis tanah, tutupan vegetasinya dengan berbagai jenis akar, serta teknik konservasi tanah dan air," jelas Mahawan.

"Artinya keputusan perlu berbasis ilmu pengetahuan dan perlu menghindari dugaan-dugaan saja," imbuh dia.

Diberitakan sebelumnya, Dedi Mulyadi mengatakan, penghijauan akan dilakukan dengan menggandeng warga setempat dan Perhutani sebagai pemilik lahan.

Proses penanaman dipastikan tidak akan mengganggu mata pencaharian masyarakat yang selama ini menggarap lahan tersebut.

Dedi menyatakan, warga yang terlibat dalam program penghijauan akan mendapat kompensasi berupa upah harian selama masa penanaman hingga tanaman dinilai kokoh.

Baca juga: Waspada Longsor Susulan di Cisarua, Pakar ITB Jelaskan Langkah Mitigasi

 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.Dok. Kementerian PU Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Dedi Mulyadi berencana mengubah lahan bekas longsor Cisarua menjadi hutan bambu. Ahli mengingatkan rehabilitasi tak hanya sekadar menanam.

Masa pendampingan dan merawat tanaman dari bibit hungga pohon yang kokoh diperkirakan berlangsung hingga empat tahun lamanya.

"Selama proses tanam kurang lebih empat tahun sampai tanaman itu kokoh, mereka mendapatkan upah harian sebagai pekerja," kata Dedi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berpandangan, kawasan terdampak longsor di Desa Pasirlangu perlu dikembalikan ke fungsi awal sebagai kawasan hutan. Kebijakan ini diambil menyusul bencana longsor yang menelan puluhan korban jiwa dan diduga dipicu alih fungsi lahan.

Longsor menerjang permukiman warga dan area perkebunan sayuran di lereng Gunung Burangrang, Sabtu (24/1/2026) dini hari. Area yang sebelumnya dipenuhi kebun sayur dengan sistem tanam menggunakan plastik kini tertimbun material longsor.

Per Kamis (29/1/2026), tim SAR gabungan memperkirakan masih ada sekitar 25 korban yang tertimbun material longsor.

Sementara itu, total korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi mencapai 55 jenazah, dilaporkan oleh Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
Swasta
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Pemerintah
IPB Sinergikan Program 'One Village One CEO' dengan Koperasi Merah Putih
IPB Sinergikan Program "One Village One CEO" dengan Koperasi Merah Putih
Pemerintah
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
LSM/Figur
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
LSM/Figur
Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi
Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi
LSM/Figur
Air Fryer Disebut Lebih Ramah Lingkungan, Ini Penelitiannya
Air Fryer Disebut Lebih Ramah Lingkungan, Ini Penelitiannya
Pemerintah
Trump Tarik AS dari Berbagai Komitmen Iklim Padahal Jadi Negara Pengemisi Terbesar
Trump Tarik AS dari Berbagai Komitmen Iklim Padahal Jadi Negara Pengemisi Terbesar
Pemerintah
Cuaca Ekstrem di Indonesia Diprediksi hingga Maret 2026, Ini Kata BMKG
Cuaca Ekstrem di Indonesia Diprediksi hingga Maret 2026, Ini Kata BMKG
Pemerintah
Sejumlah Ikan di Perairan Pasifik Tercemar Mikroplastik, Fiji Paling Tinggi
Sejumlah Ikan di Perairan Pasifik Tercemar Mikroplastik, Fiji Paling Tinggi
LSM/Figur
PIS Tekan Emisi Karbon 116.761 Ton CO2e Sepanjang 2025
PIS Tekan Emisi Karbon 116.761 Ton CO2e Sepanjang 2025
BUMN
Raja Charles III Inggris Soroti Krisis Iklim Global lewat Dokumenter
Raja Charles III Inggris Soroti Krisis Iklim Global lewat Dokumenter
Pemerintah
Rumitnya Penanganan Polusi Udara, Tak Mengenal Batas Wilayah
Rumitnya Penanganan Polusi Udara, Tak Mengenal Batas Wilayah
LSM/Figur
Bambu Bisa Jadi 'Superfood', tapi Ada Risiko yang Perlu Diperhatikan
Bambu Bisa Jadi "Superfood", tapi Ada Risiko yang Perlu Diperhatikan
LSM/Figur
Pemanfaatan Tenaga Nuklir Jadi Salah Satu Fokus Dewan Energi Nasional
Pemanfaatan Tenaga Nuklir Jadi Salah Satu Fokus Dewan Energi Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat