Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebut sebagai alarm yang menandakan bencana sudah tidak akan jarang terjadi.
Selain Sumatera, bencana ekologis juga akan mengancam pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, sampai Papua.
Pulau Jawa diproyeksikan sebagai pusat perekonomian di Indonesia, dengan kota-kotanya akan dijadikan baik metropolitan maupun megapolitan.
Sementara itu, Kalimantan direncanakan sebagai jantung perekonomian baru melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Kemudian, Sulawesi diposisikan sebagai pusat energi hijau, yang nantinya menjadi sub dari Kalimantan.
Sulawesi dan Maluku merupakan rumah bagi industri nikel, sedangkan Nusa Tenggara dan Bali direncanakan menjadi model ekstraksi baru melalui wisata super premium.
Yang paling mengerikan, kata dia, adalah Papua, dengan jejak panjang penindasan HAM dan permasalahan ketidakadilan penguasaan hutan. Apalagi di Papua saat ini dibuka untuk proyek strategis nasional (PSN).
"Dan ini menjadi bukti dan menjadi bukti bahwasanya tidak hanya rakus ruang, tapi juga rakus akan hak orang (lain). Dan dari keseluruhan yang saya ceritakan tadi, itu terjadi di sepanjang 2004-2025 yang memang menjadi penentu ketika bagaimana bencana ini hadir. Ini yang menjadi penting bahwasanya ada harga mahal yang harus dibayar dari pertumbuhan," jelas Eka.
Baca juga:
Sebelumnya, Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara, Rianda Purba mengatakan, banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai sebagai bencana yang telah direncanakan pemerintah Indonesia.
Hal itu tercermin dari semua aktivitas perusahaan-perusahaan sektor ekstraktif atau pengerukan sumber daya alam (SDA) yang merusak ekosistem penopang siklus hidrologis.
"Nah, jadi ini merupakan banjir yang direncanakan. Direncanakan oleh siapa? Pemerintah dan pelaku usaha yang sampai hari ini belum bertanggung jawab ya," ujar Rianda dalam webinar, Senin (22/12/2025).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya