Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi UI Soroti Alih Fungsi Lahan di Cisarua, Bertambah 52 Hektar per Tahun

Kompas.com, 30 Januari 2026, 14:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa menyoroti alih fungsi lahan yang menjadi pemicu longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pekan lalu.

Berdasarkan penelitian, luas lahan terbangun di Kecamatan Cisarua berupa permukiman dan penggunaan lainnya mencapai 367,06 hektar pada tahun 2015-2022. Dalam kurun waktu tersebut, lahan terbangun bertambah sekitar 52 hektar per tahunnya.

Baca juga: 

Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), luas total Kecamatan Cisarua hanya 7.132 hektar.

"Di Provinsi Jawa Barat secara umum tutupan hutan di daerah aliran sungai (DAS) utama sekitar 20 persen, kurang dari 30 persen dan lahan terbangun berada kisaran 30 persen dengan variasi yang lebar," kata Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

"Memang di Pulau Jawa, secara umum luas lahan terbangun relatif besar dan luas hutan relatif kecil dibandingkan dengan kondisi di pulau lainnya di Indonesia, yang berarti cenderung lebih rawan bencana longsor," imbuh dia.

Alih fungsi lahan turut memicu longsor Cisarua

Tanah yang rentan diperparah aktivitas manusia

Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.

Mahawan menjelaskan, longsor umumnya terjadi karena berbagai faktor pemicu dan kerentanan lokasi. Hujan intensitas tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga tekanan air pori meningkat dan kekuatan geser tanah menurun.

Tanah juga menjadi rentan akibat berbagai kondisi alam seperti kenitingan lereng, jenis tanah muda yang rapuh.

Kondisi ini diperparah aktivitas manusia berupa pemotongan lereng untuk jalan atau bangunan, beban bangunan di atas lereng, drainase buruk, pembukaan lahan, dan hilangnya vegetasi berakar dalam.

"Mitigasi bencana prinsip dasarnya adalah tidak parsial, perlu meliputi pertimbangan utamanya yaitu tingkat kerawanan di zona bencana, kelas kelerengan, jenis tanah dominan, pilihan tanaman dengan perakaran yang tepat, serta pilihan konservasi tanah yang tepat," papar Mahawan.

Di samping itu, pemerintah daerah perlu memikirkan secara detail revegetasi lokasi longsor dengan pohon buah berakar tunggang yang dikombinasikan dengan penutup tanah dan rumpun bambu maupun tanaman berakar serabut.

Penataan ruang perlu diperketat dengan menghindari pembangunan permanen di zona sangat rawan longsor, menghentikan praktik pemotongan lereng, serta menetapkan sempadan aman dari tebing dan alur sungai.

"Hal penting lainnya yaitu peringatan dini sederhana, dengan memantau retakan baru, rembesan atau mata air muncul, pohon atau tiang miring, serta ambang hujan harian sebagai alarm kesiapsiagaan," ucap dia.

Baca juga: 

Menteri LH sebut ada kerapuhan di struktur tutupan lahan

Ada rencana audit tata ruang

LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.ANTARA FOTO/Abdan Syakura LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq mencatat, Cisarua dilanda hujan dengan intensitas rata-rata 68 milimeter selama empat hari berturut-turut.

Meski menjadi pemicu, dia menjelaskan, secara klimatologis, angka tersebut tidak tergolong ekstrem dibandingkan dengan wilayah lain seperti Sumatera yang memiliki intensitas hujan jauh lebih tinggi.

Hal ini mengindikasikan adanya kerapuhan pada struktur tutupan lahan di wilayah Bandung Barat yang harus segera diperbaiki.

Faktor tambahan ini disebut berkaitan dengan karakteristik geologi, kemiringan lereng, serta pembukaan lahan untuk area pertanian masyarakat yang tidak sesuai kaidah pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Hanif menduga adanya ketidaksesuaian antara pemanfaatan ruang dengan daya dukung lingkungan yang ada.

Kondisi tutupan lahan yang kian menipis akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian tanpa terasering atau penguatan vegetasi yang tepat memperbesar risiko pergerakan tanah saat hujan mengguyur.

Baca juga:

Tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian meski cuaca ekstrem menyelimuti lokasi longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian meski cuaca ekstrem menyelimuti lokasi longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Akademisi UI soroti alih fungsi lahan di Cisarua yang memperbesar risiko longsor. Lahan terbangun bertambah, sedangkan tutupan hutan makin berkurang.

Perubahan fungsi lahan dan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi faktor kunci meningkatnya risiko bencana, meski curah hujan tidak berada pada kategori ekstrem.

"Penataan ruang berkelanjutan dan pemulihan vegetasi pada lereng-lereng kritis menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi,” kata Hanif.

Oleh karenanya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) beserta pemerintah daerah akan mengaudit rencana tata ruang serta memperkuat upaya mitigasi bencana ekosistem.

KLH juga disebut akan mengawal proses pemulihan lingkungan pascabencana dengan mendorong peningkatan kepatuhan terhadap rencana tata ruang di seluruh wilayah Bandung Barat.

Longsor menerjang permukiman warga dan area perkebunan sayuran di lereng Gunung Burangrang, Sabtu (24/1/2026) dini hari. Area yang sebelumnya dipenuhi kebun sayur dengan sistem tanam menggunakan plastik kini tertimbun material longsor.

Per Kamis (29/1/2026), total korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi mencapai 55 orang. Tim SAR gabungan memperkirakan masih ada sekitar 25 korban yang tertimbun material longsor, dilaporkan oleh Kompas.com, Kamis (29/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau