KOMPAS.com - Pasar bahan bakar pesawat berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel atau SAF) global diprediksi mengalami lonjakan selama dekade berikutnya, menurut laporan perusahaan riset pasar global, Stratview Research.
Pasar SAF diperkirakan akan berkembang dari estimasi sebesar 1,40 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 23,4 triliun) pada tahun 2024 menjadi 74,20 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.244,5 triliun) pada tahun 2032.
Baca juga:
Estimasi tersebut menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) yang kuat sebesar 64,2 persen antara tahun 2025 dan 2032.
"Pendorong pertumbuhan utama adalah meningkatnya komitmen global terhadap dekarbonisasi penerbangan," tulis keterangan dari Stratview Research, dilansir Sabtu (31/1/2026).
Komitmen tersebut disebabkan oleh target pengurangan emisi yang ketat, serta janji net zero oleh badan pengatur dan maskapai penerbangan. Adopsi SAF juga dinilai sebagai solsui utama untuk mengurangi emisi karbon dari perjalanan udara.
Baca juga:
Pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF) global diproyeksikan melonjak dari 1,4 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 74,2 miliar dollar AS pada 2032.SAF diproduksi dari bahan baku terbarukan dan berbasis limbah seperti minyak goreng bekas dan residu pertanian.
Bahan bakar ini dapat secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidupnya, sembari tetap kompatibel dengan mesin pesawat dan infrastruktur pengisian bahan bakar bandara yang ada.
Sektor penerbangan menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengurangi emisi sehingga SAF semakin dipandang sebagai solusi jangka pendek yang paling layak, dikutip dari Know ESG.
Baca juga:
Pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF) global diproyeksikan melonjak dari 1,4 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 74,2 miliar dollar AS pada 2032.Laporan ini juga menyajikan rincian pasar yang mendalam berdasarkan jenis bahan bakar, teknologi, jenis pesawat, platform, dan wilayah.
Di antara jenis-jenis bahan bakar, biofuel saat ini mendominasi pasar karena kematangan teknologinya, ketersediaan bahan baku yang luas, dan sertifikasi yang telah mapan untuk penerbangan komersial.
Sektor ini juga merupakan segmen dengan pertumbuhan tercepat, didukung oleh mandat pemerintah dan meningkatnya investasi pada fasilitas SAF berbasis hayati.
Dalam hal teknologi, HEFA-SPK tetap menjadi metode utama, diuntungkan oleh produksi skala komersial dan persetujuan regulasi.
Hydroprocessed Esters and Fatty Acids ((HEFA-SPK) merupakan metode "standar emas" untuk mengolah minyak nabati, lemak hewan, atau minyak goreng bekas menjadi bahan bakar pesawat. Metode ini mendominasi karena mesinnya sudah ada dan pabrik-pabrik besar sudah beroperasi secara komersial.
Namun, teknologi pembuatan SAF bernama FT-SPK diperkirakan akan mengalami pertumbuhan tercepat, didorong oleh kemampuannya untuk menggunakan berbagai jenis bahan baku dan potensinya untuk pengurangan biaya melalui inovasi.
Pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF) global diproyeksikan melonjak dari 1,4 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 74,2 miliar dollar AS pada 2032.Berdasarkan jenis pesawat, fixed-wing (pesawat bersayap tetap) menyumbang pangsa terbesar dalam konsumsi SAF, mencerminkan dominasi penerbangan komersial.
Sementara itu, segmen helikopter muncul sebagai kategori dengan pertumbuhan tercepat, seiring dengan perluasan upaya keberlanjutan ke dalam operasional helikopter dan layanan penerbangan khusus.
Dari perspektif platform, penerbangan komersial memimpin pasar, didukung oleh meningkatnya lalu lintas penumpang global dan komitmen jangka panjang maskapai penerbangan untuk mengurangi emisi karbon.
Stratview Research juga menyoroti peluang yang terus berkembang bagi kontrak pasokan SAF multi-year antara produsen dan sejumlah maskapai penerbangan besar.
Secara regional, Amerika Utara memegang pangsa terbesar dalam pasar bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Dukungan kebijakan sejak dini, kredit pajak, mandat pencampuran (blending mandates), dan partisipasi maskapai yang kuat telah menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi produksi dan penerapan SAF.
Faktor-faktor tersebut telah mendorong perluasan kapasitas dan kemitraan strategis di seluruh rantai nilai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya