Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak

Kompas.com, 2 Februari 2026, 18:04 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir setengah populasi dunia, atau sekitar 3,79 miliar orang, diprediksi hidup dalam suhu panas ekstrem tahun 2050 jika terjadi pemanasan global dengan suhu dua derajat celsius di atas level pra-industri, menurut studi dari Universitas Oxford, Inggris. 

Studi yang diterbitkan di Nature Sustainability ini memperingatkan bahwa sebagian besar dampaknya akan terasa pada awal, ketika dunia melewati target 1,5 derajat celsius yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris.

"Data set menunjukkan bahwa populasi yang mengalami kondisi panas ekstrem diperkirakan akan hampir dua kali lipat jika ambang batas dua derajat celsius tercapai, meningkat dari 23 persen (1,54 miliar orang) pada tahun 2010 menjadi 41 persen (3,79 miliar) pada tahun 2050," tulis studi tersebut, dilansir dari laman Nature, Senin (2/2/2026).

Baca juga:

Setengah populasi dunia akan hidup dalam panas ekstrem

Penduduk di Indonesia turut terdampak

Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Dok. Freepik/lifeforstock Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.

Studi menemukan implikasi serius bagi umat manusia, dengan Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, serta Brasil, diprediksi akan mengalami peningkatan suhu panas yang paling signifikan dan berbahaya.

Populasi paling terdampak panas ekstrem berada di India, Nigeria, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Negara-negara beriklim lebih dingin akan mengalami perubahan relatif dengan jumlah hari dengan sangat panas akan jauh lebih besar. Bahkan, dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa kasus.

Studi tersebut juga memaparkan perbandingan dampaknya dengan periode tahun 2006-2016, ketika peningkatan suhu rata-rata global mencapai satu derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Hasilnya, pemanasan hingga dua derajat celsius akan menyebabkan peningkatan dua kali lipat jumlah hari dengan sangat panas di Austria dan Kanada.

Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Pexels/Pixabay Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.

Kemudian, peningkatan jumlah hari dengan sangat panas sebesar 230 persen di Irlandia, 200 persen di Norwegia, serta 150 persen di Inggris, Swedia, dan Finlandia.

Padahal, lingkungan binaan dan infrastruktur negara-negara tersebut mayoritas dirancang untuk kondisi dingin.

Bahkan, peningkatan suhu yang moderat kemungkinan akan berdampak jauh lebih parah dibandingkan dengan wilayah yang memiliki sumber daya, kapasitas adaptasi, serta modal yang lebih besar untuk mengelola panas.

Studi ini menunjukkan, sebagian besar perubahan dalam permintaan pendinginan dan pemanasan terjadi sebelum mencapai ambang batas 1,5 derajat celsius.

Hal ini menggambarkan bahwa langkah-langkah adaptasi secara signifikan perlu diterapkan sejak dini. Misalnya, banyak rumah perlu memasang pendingin udara dalam lima tahun ke depan, dengan suhu akan terus meningkat jauh jika dunia mencapai pemanasan global dua derajat celsius.

"Untuk mencapai tujuan global emisi karbon nol bersih pada tahun 2050, kita harus melakukan dekarbonisasi sektor bangunan sambil mengembangkan strategi adaptasi yang lebih efektif dan tangguh," ujar penulis utama dan Profesor Madya Ilmu Rekayasa, Dr. Jesus Lizana, dilansir dari Phys.org.

Baca juga:

Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.SHUTTERSTOCK/Berke Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.

Studi tersebut semestinya menjadi peringatan, jika melampaui suhu batas pemanasan, akan berdampak luas biasa terhadap segala hal. Mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, sampai migrasi.

"Pembangunan berkelanjutan dengan emisi nol bersih tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren ini menuju hari-hari yang semakin panas. Sangat penting bagi para politisi untuk mengambil kembali inisiatif ke arah itu," tutur Profesor Madya di Smith School of Enterprise and the Environment dan pemimpin Program Oxford Martin Future of Cooling, Radhikaa Khosla.

Kenaikan suhu ekstrem diproyeksikan akan menyebabkan peningkatan secara signifikan dalam permintaan energi untuk sistem pendingin yang disertai kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK).

Di sisi lain, permintaan untuk pemanasan di negara-negara, seperti Kanada dan Swiss akan menurun.

Studi mengakomodasi kumpulan data terbuka tentang permintaan pemanasan dan pendinginan global. 

Tidak hanya itu, studi ini juga mengakomodasi kumpulan data iklim yang mudah diakses ke dalam perencanaan keberlanjutan dan kebijakan pembangunan.

Baca juga:

Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.SHUTTERSTOCK/Piyaset Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.

Sebelumnya, studi terbaru dari Lizana memperkirakan permintaan akan pendinginan naik secara drastis di sejumlah negara, seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria.

Di negara-negara tersebut, ratusan orang tidak mempunyai pendingin udara atau cara lain untuk mengatasi panas ekstrem.

Di negara-negara dengan cuaca lebih dingin, masyarakatnya juga masih perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas. Khususnya, negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi itu, seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia.

Studi ini meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang pada masa depan mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.

Hasilnya, jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2050 jika suhu rata-rata global naik dua derajat celsius di atas suhu pra-industri.

"Namun, sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat celsius. Kesimpulan utama dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya," ujar Lizana, dilansir dari Phys.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau