KOMPAS.com - Hampir setengah populasi dunia, atau sekitar 3,79 miliar orang, diprediksi hidup dalam suhu panas ekstrem tahun 2050 jika terjadi pemanasan global dengan suhu dua derajat celsius di atas level pra-industri, menurut studi dari Universitas Oxford, Inggris.
Studi yang diterbitkan di Nature Sustainability ini memperingatkan bahwa sebagian besar dampaknya akan terasa pada awal, ketika dunia melewati target 1,5 derajat celsius yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris.
"Data set menunjukkan bahwa populasi yang mengalami kondisi panas ekstrem diperkirakan akan hampir dua kali lipat jika ambang batas dua derajat celsius tercapai, meningkat dari 23 persen (1,54 miliar orang) pada tahun 2010 menjadi 41 persen (3,79 miliar) pada tahun 2050," tulis studi tersebut, dilansir dari laman Nature, Senin (2/2/2026).
Baca juga:
Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Studi menemukan implikasi serius bagi umat manusia, dengan Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, serta Brasil, diprediksi akan mengalami peningkatan suhu panas yang paling signifikan dan berbahaya.
Populasi paling terdampak panas ekstrem berada di India, Nigeria, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
Negara-negara beriklim lebih dingin akan mengalami perubahan relatif dengan jumlah hari dengan sangat panas akan jauh lebih besar. Bahkan, dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa kasus.
Studi tersebut juga memaparkan perbandingan dampaknya dengan periode tahun 2006-2016, ketika peningkatan suhu rata-rata global mencapai satu derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Hasilnya, pemanasan hingga dua derajat celsius akan menyebabkan peningkatan dua kali lipat jumlah hari dengan sangat panas di Austria dan Kanada.
Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Kemudian, peningkatan jumlah hari dengan sangat panas sebesar 230 persen di Irlandia, 200 persen di Norwegia, serta 150 persen di Inggris, Swedia, dan Finlandia.
Padahal, lingkungan binaan dan infrastruktur negara-negara tersebut mayoritas dirancang untuk kondisi dingin.
Bahkan, peningkatan suhu yang moderat kemungkinan akan berdampak jauh lebih parah dibandingkan dengan wilayah yang memiliki sumber daya, kapasitas adaptasi, serta modal yang lebih besar untuk mengelola panas.
Studi ini menunjukkan, sebagian besar perubahan dalam permintaan pendinginan dan pemanasan terjadi sebelum mencapai ambang batas 1,5 derajat celsius.
Hal ini menggambarkan bahwa langkah-langkah adaptasi secara signifikan perlu diterapkan sejak dini. Misalnya, banyak rumah perlu memasang pendingin udara dalam lima tahun ke depan, dengan suhu akan terus meningkat jauh jika dunia mencapai pemanasan global dua derajat celsius.
"Untuk mencapai tujuan global emisi karbon nol bersih pada tahun 2050, kita harus melakukan dekarbonisasi sektor bangunan sambil mengembangkan strategi adaptasi yang lebih efektif dan tangguh," ujar penulis utama dan Profesor Madya Ilmu Rekayasa, Dr. Jesus Lizana, dilansir dari Phys.org.
Baca juga:
Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Studi tersebut semestinya menjadi peringatan, jika melampaui suhu batas pemanasan, akan berdampak luas biasa terhadap segala hal. Mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, sampai migrasi.
"Pembangunan berkelanjutan dengan emisi nol bersih tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren ini menuju hari-hari yang semakin panas. Sangat penting bagi para politisi untuk mengambil kembali inisiatif ke arah itu," tutur Profesor Madya di Smith School of Enterprise and the Environment dan pemimpin Program Oxford Martin Future of Cooling, Radhikaa Khosla.
Kenaikan suhu ekstrem diproyeksikan akan menyebabkan peningkatan secara signifikan dalam permintaan energi untuk sistem pendingin yang disertai kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK).
Di sisi lain, permintaan untuk pemanasan di negara-negara, seperti Kanada dan Swiss akan menurun.
Studi mengakomodasi kumpulan data terbuka tentang permintaan pemanasan dan pendinginan global.
Tidak hanya itu, studi ini juga mengakomodasi kumpulan data iklim yang mudah diakses ke dalam perencanaan keberlanjutan dan kebijakan pembangunan.
Baca juga:
Studi memprediksi 3,79 miliar orang akan hidup dalam panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk terdampak.Sebelumnya, studi terbaru dari Lizana memperkirakan permintaan akan pendinginan naik secara drastis di sejumlah negara, seperti Brasil, Indonesia, dan Nigeria.
Di negara-negara tersebut, ratusan orang tidak mempunyai pendingin udara atau cara lain untuk mengatasi panas ekstrem.
Di negara-negara dengan cuaca lebih dingin, masyarakatnya juga masih perlu beradaptasi dengan hari-hari yang lebih panas. Khususnya, negara-negara yang tidak terbiasa dengan kondisi itu, seperti Kanada, Rusia, dan Finlandia.
Studi ini meneliti berbagai skenario pemanasan global untuk memproyeksikan seberapa sering orang pada masa depan mengalami suhu yang dianggap terlalu panas atau terlalu dingin.
Hasilnya, jumlah penduduk yang mengalami kondisi panas ekstrem diproyeksikan akan hampir berlipat ganda pada tahun 2050 jika suhu rata-rata global naik dua derajat celsius di atas suhu pra-industri.
"Namun, sebagian besar dampaknya akan terasa pada dekade ini seiring dunia dengan cepat mendekati angka 1,5 derajat celsius. Kesimpulan utama dari ini adalah bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan panas ekstrem lebih mendesak daripada yang diketahui sebelumnya," ujar Lizana, dilansir dari Phys.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya