Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Ingatkan Dampak Pestisida pada Tanah dan Ekosistem

Kompas.com, 2 Februari 2026, 20:40 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Dampak pestisida terhadap tanah cukup besar. Sebab, pestisina menekan berbagai organisme tanah yang bermanfaat, menurut peneliti dari University of Zurich, Swiss. 

Untuk melindungi keanekaragaman hayati tanah, temuan ini pun harus dipertimbangkan dalam pengaturan pestisida saat ini.

Baca juga:

Kesimpulan tersebut diambil setelah peneliti melakukan analisis terhadap sampel tanah dari 26 negara Eropa. Studi menunjukkan 70 persen tanah Eropa terkontaminasi pestisida.

"Kami menganalisis dampak 63 pestisida terhadap archaea tanah, bakteri, jamur, protista, nematoda, arthropoda, dan kelompok gen fungsional kunci di 373 lokasi yang mencakup hutan, padang rumput, dan lahan pertanian di 26 negara Eropa," tulis para peneliti, dilansir dari Nature, Senin (2/2/2026).

Dampak pestisida terhadap ekosistem

Studi menemukan 70 persen tanah Eropa terkontaminasi pestisida. Dampaknya menekan organisme tanah penting dan mengancam ekosistem.rawpixel/freepik Studi menemukan 70 persen tanah Eropa terkontaminasi pestisida. Dampaknya menekan organisme tanah penting dan mengancam ekosistem.

Kehidupan di tanah penting untuk menjaga fungsi dan layanan ekosistem yang penting, seperti produksi pangan, penyimpanan karbon, pengendalian erosi, dan pengaturan air.

Namun, penggunaan pestisida dapat mengontaminasi ekosistem tersebut.

"Kontaminasi ini berdampak besar pada berbagai organisme tanah yang bermanfaat, seperti jamur mikoriza dan nematoda, yang merusak keanekaragaman hayati mereka," kata profesor di Departemen Biologi Tumbuhan dan Mikroba University of Zurich (UZH) dan juga salah satu pemimpin studi, Marcel van der Heijden, dikutip dari Phys.org

Pestisida tidak hanya memengaruhi hama yang merusak tanaman, tapi juga organisme tanah yang bermanfaat.

Para peneliti memeriksa keanekaragaman hayati organisme tanah, seperti bakteri, jamur, nematoda, dan organisme bersel tunggal, dalam sampel tanah. Mereka menemukan bahwa pestisida secara drastis mengubah komunitas hidup di tanah.

"Jamur mikoriza, yang penting bagi tanaman kita, sangat terpengaruh oleh pestisida," kata van der Heijden.

Jamur mikoriza terhubung ke akar tanaman dan membantu tanaman menyerap air dan nutrisi.

Fungisida bixafen, yang digunakan untuk memerangi jamur berbahaya pada serealia juga memengaruhi banyak organisme tanah yang diteliti.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini menyelidiki efek 63 pestisida umum pada tanah. Untuk tujuan ini, mereka mengambil total 373 sampel tanah dari ladang, hutan, dan padang rumput di 26 negara Eropa.

Fungisida, bahan aktif melawan jamur, adalah yang paling sering ditemukan. Fungisida menyumbang 54 persen dari semua bahan aktif. Herbisida menyusul dengan 35 persen, dan terakhir insektisida dengan 11 persen. Bahan aktif yang paling umum adalah herbisida glifosat.

Sebagian besar pestisida ditemukan di lahan pertanian, tetapi para peneliti juga menemukan pestisida di hutan dan padang rumput, tempat pestisida biasanya tidak diaplikasikan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penyebaran semprotan.

Baca juga:

Pestisida mengubah fungsi tanah

Studi menemukan 70 persen tanah Eropa terkontaminasi pestisida. Dampaknya menekan organisme tanah penting dan mengancam ekosistem.Pexels/Jan Kroon Studi menemukan 70 persen tanah Eropa terkontaminasi pestisida. Dampaknya menekan organisme tanah penting dan mengancam ekosistem.

Peneliti juga menunjukkan bahwa residu pestisida mengubah fungsi tanah. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi alami tanah yang terpengaruh berkurang, dan pemupukan tambahan diperlukan untuk mempertahankan hasil panen.

"Studi kami menunjukkan bahwa pestisida mewakili dampak lingkungan manusia yang sangat signifikan pada tanah kita. Sering kali, orang bahkan tidak mempertimbangkan sejauh mana efek pestisida pada organisme non-target," kata Maria J. I. Briones dari University of Vigo.

Beberapa pestisida sulit terurai sehingga pestisida tersebut tetap berada di tanah selama bertahun-tahun setelah diaplikasikan dan memiliki dampak jangka panjang yang besar pada ekosistem tanah.

Untuk melindungi ekosistem tanah, penilaian ekotoksikologi harus melangkah lebih maju lagi. Bukan hanya sekedar bagaimananya dampaknya pada satu jenis hewan saja, tapi juga mencakup respons pada tingkat komunitas dan fungsi ekosistem.

Menurut para peneliti, aspek-aspek ini mendesak untuk segera diintegrasikan ke dalam regulasi pestisida yang ada saat ini agar benar-benar bisa melindungi kesuburan tanah jangka panjang.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau