Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk

Kompas.com, 21 Januari 2026, 11:05 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah Laos melarang warganya membakar lahan untuk pertanian, menyusul buruknya kualitas udara termasuk di ibu kota Vientiane.

Indeks kualitas udara (AQI) kota tersebut berada di posisi 127 atau tidak sehat bagi kelompok senditif berdasarkan pemantauan IQAir, sedangkan kota wisata Vangviang mencatat angka 80 pada hari yang sama, dilansir dari EcoBusiness, Rabu (21/1/2026).

Baca juga: 

Pemerintah Laos menegaskan pembakaran lahan yang tidak terkendali menjadi penyebab utama kebakaran hutan yang meningkatkan polusi udara.

Disebutkan, pembakaran lahan untuk pertanian di dataran tinggi, pembukaan perkebunan, pembakaran rumput untuk pakan ternak, dan kebakaran yang berkaitan dengan aktivitas perburuan terus melepaskan partikel halus polusi dalam jumlah besar ke udara.

"Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup Laos mengeluarkan instruksi baru untuk musim kemarau 2025-2026, yang mendesak pengawasan lebih ketat terhadap pembakaran, deteksi dini kebakaran, serta memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah," tulis Laotian Times.

Laos larang warganya bakar lahan untuk pertanian

Praktik pertanian berkelanjutan akan disebarluaskan

Laos melarang masyarakat membakar lahan untuk pertanian, utamanya selama musim kemarau. Dok. Pixabay/igormattio Laos melarang masyarakat membakar lahan untuk pertanian, utamanya selama musim kemarau.

Setiap instansi di Laos diminta memperluas pemakaian sistem pemantauan titik api agar mengidentifikasi lebih dini jika terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di samping itu, Departemen Pertanian, Kehutanan, dan Lingkungan daerah harus menyerahkan laporan berkala terkait dampak kebakaran, lalu mengembangkan peta risiko guna mendukung perencanaan pencegahan dan alokasi anggaran.

Pemerintah Laos juga memberlakukan larangan nasional terhadap kegiatan pembakaran di luar ruangan mulai Januari hingga April. Larangan tersebut mencakup lahan pertanian, hutan, kawasan permukiman, lahan gambut, serta tempat pembuangan sampah.

Pemerintah daerah bertanggung jawab menegakkan kebijakan tersebut dan mengambil tindakan hukum terhadap pelanggar.

Pihaknya akan menyebarkan praktik pertanian berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada pembakaran, termasuk pelatihan petani, dukungan teknis, dan peningkatan akses pasar untuk metode non-pembakaran sejalan dengan pedoman ASEAN.

Baca juga:

Adapun kerangka kerja tersebut mendorong alternatif pertanian tebang bakar berupa penggunaan limbah pertanian untuk pembuatan kompos atau bioenergi, hingga peningkatan berbagi data dan mekanisme respons bersama ketika polusi udara menyebar melintasi batas negara.

Laos termasuk negara dengan permasalahan udara yang kompleks, utamanya selama puncak musim pembakaran lahan yakni Maret-April dan meningkat pada Desember seiring terjadinya kemarau.

Menurut riset PBB, negara ini sangat terdampak kabut asap lintas batas di samping pembakaran domestik. Imbasnya, pemerintah sulit mengurangi polusi PM2.5 saat periode kemarau.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
Pemerintah
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau