Ada berbagai sumber bau di sekitar fasilitas RDF di Kelurahan Rorotan yaitu potensi bau sampah, potensi bau produk RDF, potensi bau residu, dan potensi bau instalasi pengelolaan air limbah atau tempat pengelolaan air lindi.
Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT) atau pembuangan sampah ilegal dan saluran mampat.
Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya.
Setiap menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.
Angin juga bisa memengaruhi arah bau menguar, termasuk yang membawanya dari fasilitas RDF.
"Kadang, saat kami buka pintu gerbang untuk mengambil produk (RDF) dan kalau enggak buru-buru ditutup, (baunya) akan terbawa angin yang kencang dan mereka (warga terdampak) melapor ke saya," ucap Agung.
Baca juga:
Alat pemantau kualitas udara di sekitar fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan. Keluhan bau dari RDF Rorotan mendorong usulan pelibatan warga sebagai pengawas langsung operasional demi mencegah dampak lingkungan.Agung mengaku berkomunikasi dengan sejumlah perwakilan warga terkait aduan bau dan melacak kemungkinan sumbernya dari beberapa titik di fasilitas RDF.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah memasang empat alat pengendali kebauan, yang mekanismenya menyedot bau menyengat melalui teknologi Advanced Oxidation Process (AOP), bukan menyebarkan aroma wangi tandingan.
Alat pengendali kebauan ditempatkan di area dengan potensi kebauan tinggi di fasilitas RDF, di antaranya bunker, mesin compacting dehydrator untuk mengurangi kadar air (bau air lindi), mesin press, mesin pencacah sampah, gudang produk RDF, dan gudang residu.
"Beberapa tokoh-tokoh masyarakat biasanya langsung WhatsApp ke saya, 'Pak Agung, tercium bau di lokasi cluster kami jam sekian. Ada proses apa (di fasilitas RDF) saat ini?'. Saya cek di lapangan, posisinya bunker tertutup, kami sampaikan apakah ada proses atau tidak. Posisinya kami tertutup semua, tapi biasanya (kami) kirimkan video, video, dan tim kami juga ke lapangan. Jadi, itu yang menjadi SOP kami saat ini," jelas Agung.
Ia menyesalkan, jika ada pemberitaan yang mengabarkan adanya warga mengeluhkan mencium bau dari RDF selama 24 jam.
Menurutnya, DLH DKI Jakarta tidak mungkin mencelakakan warganya dan sampai saat ini masih terus berusaha menelusuri setiap aduan bau.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya