Jika ekspor aluminium bekas ke Asia dan Amerika Serikat tidak dibatasi maka akan terjadi penurunan sektor daur ulang yang fatal.
China disebut akan membeli limbah aluminium, meleburkannya, dan mengekspornya kembali ke Eropa sebagai logam yang baru diproduksi.
“Kita telah kehilangan produksi primer. Sekarang kita berisiko kehilangan limbah aluminium,” ujar Wakil Presiden Eksekutif perusahaan penyedia daur ulang aluminium, Novelis, Emilio Braghi, dilansir dari Financial Times.
Braghi juga menggarisbawahi bahwa Eropa tidak akan mampu memenuhi tujuan lingkungannya sendiri jika ekspor aluminium terus dibiarkan.
Para produsen di Uni Eropa membayar harga energi hingga empat kali lipat dibandingkan pesaing mereka sehingga beralih ke peleburan ulang besi tua yang lebih hemat energi.
Baca juga:
Kampanye daur ulang ini merupakan bagian dari upaya Uni Eropa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dengan target net zero pada 2050.
Kampanye daur ulang juga dilakukan demi menghindari ketergantungan pada impor dari China.
Menurut Braghi, berbeda dengan bagian dunia lainnya, masyarakat Eropa unik dalam perilaku konsumen dan kesediaannya untuk membayar lebih mahal untuk produk daur ulang. Hal ini karena kepedulian terhadap lingkungan dan krisis iklim.
“Kami melihat daya tarik dari konsumen, baik saat mereka membeli mobil baru atau membeli kaleng aluminium, berdasarkan kandungan daur ulang yang tinggi. Kami tidak melihat hal itu di tempat lain," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya