Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih

Kompas.com, 7 Februari 2026, 10:34 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Uni Eropa sedang kesulitan mengamankan bahan mentah yang dibutuhkan untuk mencapai target energi dan iklimnya, di mana kebijakan yang ada saat ini kemungkinan besar tidak akan membuahkan hasil tepat waktu untuk mengejar target menurunkan emisi drastis pada tahun 2030.

Hal ini berdasarkan laporan baru dari European Court of Auditors (ECA), sebuah lembaga independen tingkat nasional yang melakukan audit terhadap kegiatan pemerintah.

Melansir Edie, Rabu (4/2/2026) laporan tersebut menyoroti bahwa transisi Uni Eropa ke energi terbarukan sangat bergantung pada teknologi seperti baterai, turbin angin, dan panel surya, yang membutuhkan bahan-bahan termasuk litium, nikel, kobalt, tembaga, dan unsur tanah jarang.

Namun, laporan mencatat pasokan berbagai bahan mentah ini saat ini terpusat di sejumlah kecil negara di luar Uni Eropa, terutama China, Turki, dan Chili, sehingga membuat Uni Eropa rentan terhadap risiko geopolitik dan pasar.

Untuk mengurangi ketergantungan ini, Uni Eropa mengesahkan Undang-Undang Bahan Mentah Kritis (Critical Raw Materials Act atau CRM Act) pada tahun 2024.

Aturan ini mencakup 26 jenis mineral yang dianggap penting bagi transisi energi, dengan 17 di antaranya diklasifikasikan sebagai strategis karena kepentingan ekonomi yang tinggi dan risiko pasokan.

Baca juga: Uni Eropa Berencana Ubah Strategi Diplomasi Iklim Usai COP30

Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan melalui diversifikasi impor, peningkatan produksi dalam negeri, dan penguatan sektor daur ulang.

Namun, para auditor menyatakan bahwa kemajuan yang dicapai masih terbatas. Undang-Undang Bahan Mentah Kritis (CRM Act) tersebut menetapkan target tahun 2030 yang sifatnya tidak mengikat dan hanya berlaku untuk sebagian kecil material, serta tidak jelas bagaimana tolok ukur tersebut dihitung.

ECA pun menyimpulkan bahwa Uni Eropa masih jauh dari memenuhi target tersebut dan akan kesulitan untuk mengamankan cukup bahan strategis pada akhir dekade ini.

“Tanpa bahan baku kritis, tidak akan ada transisi energi, tidak ada daya saing, dan tidak ada otonomi strategis," ungkap Keit Pentus-Rosimannus, anggota ECA.

“Sayangnya, kita sekarang sangat bergantung pada segelintir negara di luar Uni Eropa untuk pasokan bahan-bahan ini. Oleh karena itu, sangat penting bagi Uni Eropa untuk meningkatkan kinerjanya dan mengurangi kerentanannya di bidang ini,” paparnya lagi.

Hambatan kebijakan dan regulasi

Salah satu pilar dalam Undang-Undang tersebut yang menurut laporan masih kurang dijalankan oleh Uni Eropa adalah diversifikasi impor.

Uni Eropa telah menandatangani 14 kemitraan strategis mengenai bahan mentah selama lima tahun terakhir, namun tujuh di antaranya dijalin dengan negara-negara yang memiliki skor tata kelola yang rendah.

Para auditor menemukan bukti adanya dampak nyata sejauh ini. Impor dari negara-negara mitra justru turun antara tahun 2020 dan 2024 untuk sekitar separuh dari material yang diperiksa.

Inisiatif lainnya tetap mandek, termasuk negosiasi dengan Amerika Serikat yang ditangguhkan pada tahun 2024 serta perjanjian Uni Eropa-Mercosur dengan Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay yang telah lama tertunda dan hingga kini belum diratifikasi oleh seluruh negara anggota Uni Eropa.

Daur ulang menjadi titik lemah lainnya, menurut laporan tersebut. Undang-Undang Bahan Mentah Kritis (CRM Act) menargetkan setidaknya 25 persen bahan mentah strategis harus berasal dari sumber daur ulang pada tahun 2030. Namun, tingkat daur ulang saat ini jauh lebih rendah.

Baca juga: BIR Kritik Pembatasan Ekspor Aluminium Bekas Uni Eropa

Laporan tersebut menyoroti bahwa tujuh dari 26 material yang dibutuhkan untuk transisi energi memiliki tingkat daur ulang hanya antara 1 persen hingga 5 persen, dan 10 material lainnya bahkan tidak didaur ulang sama sekali.

Sebagian besar target daur ulang Uni Eropa tidak ditetapkan untuk material-material spesifik, yang menurut para auditor mengurangi insentif untuk memulihkan elemen-elemen yang lebih sulit diekstraksi, seperti logam tanah jarang pada motor listrik atau paladium pada perangkat elektronik.

Para pendaur ulang Eropa juga menghadapi biaya pemrosesan yang tinggi, volume yang terbatas, dan hambatan teknologi dan regulasi yang merugikan daya saing dan menghambat investasi, kata laporan tersebut.

Ekstraksi dalam negeri kemungkinan besar tidak akan mampu menutup celah kekurangan tersebut dengan cepat. Uni Eropa menargetkan untuk memenuhi 10 persen konsumsi material strategisnya melalui pertambangan lokal, namun kegiatan eksplorasinya masih belum berkembang.

Laporan tersebut menambahkan bahwa kapasitas pengolahan menghadapi tantangan serupa. Uni Eropa ingin mengolah 40 persen kebutuhan material strategisnya sendiri pada tahun 2030, namun fasilitas pengolahan yang ada justru banyak yang tutup, sebagian disebabkan oleh tingginya biaya energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau