Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Minuman manis sudah menjadi bagian dari keseharian remaja—dibeli di perjalanan ke sekolah, diminum saat istirahat, lalu diulang hampir setiap hari. Dari kebiasaan itulah, seorang guru di Jombang memulai gerakan kecil untuk mengajak siswa lebih bijak mengonsumsi gula.
Adalah Achmad Uzlul Rozik, seorang guru di SMK Sehat Insan Perjuangan, yang menggagas edukasi untuk membantu siswa memahami dan membatasi konsumsi gula harian melalui Sugar Smart Squad (3S), sebuah.
Lewat pendekatan Project-Based Learning, program ini telah mendorong 89 persen siswa untuk mulai mengontrol asupan gula mereka, sekaligus mengantarkan 3S meraih posisi runner-up pada kategori Physical Well-Being Project dalam ASRI 2025.
Baca juga: WHO Tetapkan Standar Global untuk Makanan Sekolah, Batasi Gula dan Garam
Di sekolah, minuman manis bisa ditemukan dimana aja. Dibeli di perjalanan, diminum saat istirahat, lalu perlahan sudah menjadi bagian dari rutinitas. Achmad melihat kebiasaan itu dari jarak dekat.
Ada siswa dengan berat badan berlebih. Ada yang hampir setiap hari membawa minuman berasa. Ada pula kekhawatiran yang lebih besar tentang meningkatnya risiko penyakit di usia yang semakin muda.
Semua itu tidak muncul sebagai satu peristiwa besar, melainkan potongan-potongan kecil yang berulang. Dari situlah muncul dorongan untuk tidak sekadar menegur, tetapi mengajak siswa memahami apa yang mereka konsumsi.
Berapa sebenarnya gula yang kita minum hari ini?
Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari Sugar Smart Squad. Bukan gerakan untuk menjauhi gula sepenuhnya, melainkan upaya membangun kesadaran.
"Di kelas, siswa diajak membaca Nutri-Grade, menghitung kandungan gula lewat kalkulator sederhana, dan mencatat konsumsi harian menggunakan kartu 3S. Tidak ada ceramah panjang. Yang ada justru diskusi, rasa ingin tahu, dan perbandingan antar pilihan," kata Achmad.
Baca juga: Gula dan Minyak Goreng Juga Sumber Emisi, Industri Perlu Hitung Dampaknya
Peran siswa pun bergeser. Mereka tidak lagi menjadi penerima aturan, tetapi pengambil keputusan. Minuman manis tetap ada, tetapi kini disertai pertimbangan. Memilih karena paham, bukan karena terbiasa.
Proses ini tidak selalu berjalan mulus. Saat mencoba melibatkan pedagang untuk uji coba Nutri-Grade, penolakan pun muncul. Bagi sebagian pihak, langkah kecil seperti itu terasa merepotkan.
Namun, Achmad dan siswa tidak berhenti. Mereka mencari jalur lain, berkoordinasi lintas kelas, bahkan melibatkan keluarga yang berprofesi sebagai pedagang. Edukasi tetap berjalan, meski caranya berubah.
Justru dari situ, pelajaran penting muncul. Perubahan jarang datang dalam bentuk ideal. Ia sering menuntut penyesuaian, kesabaran, dan kemauan untuk terus mencari jalan.
Dampak 3S mulai terasa ketika program ini dibawa keluar sekolah. Bersama siswa, Achmad melakukan edukasi ke beberapa sekolah dasar. Anak-anak diminta mengamati minuman yang mereka bawa sendiri.
Mereka memindai barcode, membaca komposisi, lalu menghitung kadar gula. Suasananya cair. Ada tawa, ada rasa penasaran, dan ada momen ketika anak-anak mulai saling bertanya.
Di sekolah asalnya, perubahan juga mulai terlihat. Kantin tidak lagi menjual minuman berasa. Kontrol konsumsi gula dibiasakan, bukan lewat larangan keras, tetapi lewat kesepahaman.
Baca juga: Jaga Pola Hidup Sehat, Ini Batas Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Harian
Bagi Achmad, tujuan 3S sebenarnya tidak rumit. Membantu siswa memahami batas konsumsi gula harian, maksimal 50 gram, lalu membiarkan pengetahuan itu menyebar ke lingkungan mereka sendiri.
Dengan latar sekolah kesehatan, SMK Sehat Insan Perjuangan diharapkan bisa menjadi contoh praktik “Bijak Gula” di sekitar Jombang.
Kisah ini mengingatkan bahwa gaya hidup sehat tidak selalu harus dimulai dari aturan besar atau kampanye masif. Terkadang, ia berawal dari keberanian untuk bertanya pada kebiasaan sendiri dan menyediakan alat sederhana untuk menjawabnya.
Jika siswa bisa mulai membaca gula dari botol yang mereka pegang setiap hari, mungkin kita pun bisa melakukan hal yang sama. Bukan besok, bukan nanti, tetapi dari pilihan kecil yang kita buat hari ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya