Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku

Kompas.com, 9 Februari 2026, 16:29 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan bakal memidanakan pelaku pembunuhan gajah di Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Gajah yang mati tanpa kepala tersebut ditemukan di area konsesi PT RAPP.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengaku telah menghubungi Kapolda Riau untuk mengusut kasus perburuan gajah sumatera tersebut.

Baca juga: 

"Beliau (Kapolda Riau) sudah turun ke lapangan bersama dengan kepala balai kami untuk melakukan investigasi. Yang paling penting pesan saya sangat kuat dan jelas, kalau (pelaku) ketemu kami tidak akan kasih ampun," kata Raja Juli saat ditemui di kantornya, Senin (9/2/2026). 

Kasus gajah mati tanpa kepala di Riau, pelaku terancam pidana

Terancam penjara maksimal lima tahun

Menhut Raja Juli Antoni (tengah) menjelaskan soal kondisi gajah di Indonesia, Senin (9/2/2026). Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala. KOMPAS.com/ZINTAN Menhut Raja Juli Antoni (tengah) menjelaskan soal kondisi gajah di Indonesia, Senin (9/2/2026). Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala.

Pembunuhan satwa dilindungi, lanjut Raja Juli, merupakan tindakan yang sangat sadis dan tidak mencerminkan nilai kemanusiaan.

"Oleh karena itu sekali lagi tidak ada ampun bagi siapa pun orang yang masih melakukan pemburuan liar terhadap satwa langka di Indonesia, terutama gajah," ucap dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko menambahkan bahwa investigasi dilakukan seiring green police yang digencarkan kepolisian.

Saat ini, polisi tengah mengidentifikasi pelaku yang membunuh gajah malang itu.

"Kami harapkan segera nanti ketemu dan bisa mendapatkan hukuman yang setimpal tentu saja. Diterapkan Undang-Undang Nomor 32, yang jelas sekarang (hukumannya) sudah jauh lebih berat daripada Undang-Undang Nomor 5," tutur Satyawan.

UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAHE ditetapkan Agustus 2024 memperberat sanksi pidana kejahatan lingkungan.

Pelaku perorangan terancam dipidana penjara maksimal lima tahun dengan denda Rp 100 juta sesuai Pasal 40.

Sementara itu, korporasi yang merusak kawasan suaka alam terancam pidana penjara hingga 20 tahun dan denda maksimal Rp 200 miliar.

Baca juga: 

Kronologi penemuan gajah mati tanpa kepala

Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala. Pexels/Venkat Ragavan Kemenhut berjanji menindak tegas pelaku yang membunuh gajah di Riau. Gajah ditekukan dengan kondisi tewas tanpa kepala.

Diberitakan sebelumnya, gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati, Senin (2/2/2026).

Direktur Jenderal Gakkum Kehutanan, Dwi Januanto menyampaikan, kematian gajah sumatera pertama kali dilaporkan PT RAPP ke Polres Pelalawan dan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau