Jessika Roswall, Komisioner Lingkungan Hidup, Ketahanan Air, dan Ekonomi Sirkuler yang Kompetitif, mengatakan, industri tekstil memiliki peran kunci dalam transisi keberlanjutan Eropa.
“Angka-angka tentang limbah menunjukkan perlunya bertindak. Dengan langkah-langkah baru ini, sektor tekstil akan diberdayakan untuk bergerak menuju praktik berkelanjutan dan sirkuler, dan kita dapat meningkatkan daya saing kita serta mengurangi ketergantungan kita,” kata Roswall.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kelebihan produksi dan pengembalian barang yang terkait dengan belanja online (daring).
Di Jerman, misalnya, hampir 20 juta barang yang dikembalikan dibuang setiap tahunnya.
Sementara itu, Perancis memusnahkan produk yang tidak terjual senilai sekitar 630 juta euro (sekitar Rp 12,58 triliun) setiap tahun.
Dengan mengurangi pemborosan dan mempromosikan manajemen stok yang lebih cerdas, para pejabat Eropa percaya bahwa peraturan ini tidak hanya akan melindungi lingkungan, tapi juga menciptakan persaingan yang lebih adil bagi perusahaan yang berinvestasi dalam praktik berkelanjutan.
ESPR diharapkan dapat membuat produk yang dijual di Eropa lebih tahan lama, dapat digunakan kembali, dan dapat didaur ulang, menandai langkah signifikan menuju konsumsi yang lebih ramah lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya