Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan

Kompas.com, 12 Februari 2026, 18:47 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Laporan PBB menemukan bahwa ekspansi sektor jasa telah menciptakan lapangan kerja di Least Developed Countries atau negara-negara kurang berkembang (LDCs), namun produktivitas, pendapatan, dan keterkaitan industri masih tertinggal.

Melansir Down to Earth, Selasa (10/2/2026) sektor jasa kini menjadi sumber utama pertumbuhan dan lapangan kerja di seluruh negara-negara kurang berkembang di dunia.

Namun menurut laporan PBB, ekspansi tersebut belum membuahkan produktivitas yang lebih tinggi, pendapatan yang meningkat, atau pembangunan yang berbasis luas.

Laporan Negara-Negara Kurang Berkembang 2025, yang dirilis oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), mengatakan bahwa sektor jasa menyumbang hampir setengah dari output ekonomi di rata-rata LDC.

Namun, sebagian besar pekerjaan baru tetap informal, bergaji rendah, dan terkonsentrasi pada kegiatan yang menopang mata pencaharian tetapi tidak menghasilkan kemakmuran dalam skala besar.

Baca juga: Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang

Meskipun peran sektor jasa semakin meningkat, pertumbuhan per kapita rata-rata di LDC tetap lemah pada tahun 2024, yang menggarisbawahi apa yang digambarkan laporan tersebut sebagai kesenjangan yang semakin lebar antara penciptaan lapangan kerja dan pekerjaan yang layak.

Menciptakan lapangan kerja

Laporan tersebut memperingatkan bahwa penciptaan lapangan kerja kini menjadi kendala utama bagi pembangunan di negara-negara dengan ekonomi termiskin di dunia.

Antara sekarang hingga tahun 2050, LDC perlu menciptakan sekitar 13,2 juta lapangan kerja setiap tahun untuk menyerap tenaga kerja baru yang masuk ke pasar kerja. Meskipun sektor jasa telah menyerap banyak dari pertumbuhan angkatan kerja ini, peningkatan pendapatan tertinggal.

Lapangan kerja tetap didominasi oleh ritel informal, jasa pribadi, dan kegiatan subsisten. Kemiskinan pekerja tersebar luas, memperkuat temuan utama laporan bahwa tantangannya bukan hanya lebih banyak lapangan kerja, tetapi lapangan kerja yang lebih baik.

Produktivitas tenaga kerja di negara-negara kurang berkembang rata-rata 11 kali lebih rendah daripada di negara maju rata-rata, membatasi ruang lingkup sektor jasa untuk meningkatkan standar hidup tanpa perubahan struktural yang lebih luas.

UNCTAD pun menyebut sektor jasa hanya dapat mendukung transformasi struktural jika tertanam dalam strategi pembangunan nasional yang koheren dan terkait dengan sektor produktif lainnya.

Di banyak negara kurang berkembang, pertumbuhan sektor jasa masih lemah hubungannya dengan manufaktur, ekspor, dan peningkatan teknologi.

Jika sektor jasa ini tidak saling mendukung dengan industri lainnya, maka pertumbuhannya justru berisiko membuat negara tersebut semakin terpinggirkan, bukannya semakin maju.

Sektor manufaktur, yang dulunya menjadi kunci utama kenaikan produktivitas, kini cenderung jalan di tempat di negara-negara termiskin. Hal ini membuat sektor jasa berkembang hanya sebagai 'penampung' sisa tenaga kerja, bukan sebagai penggerak perubahan ekonomi.

Pariwisata adalah sumber uang luar negeri terbesar bagi negara-negara termiskin, menyumbang sepertiga dari seluruh pendapatan jasa mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau