KOMPAS.com - Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Animals.
Selama 17 tahun, para peneliti dari Queen Mary University of London dan LSM Associação Projeto Biodiversidade mempelajari penyu tempayan yang bersarang di Cabo Verde, gugusan pulau terletak di lepas pantai barat Afrika.
Baca juga:
Mereka melaporkan, pemanasan laut memicu penyu bertelur lebih awal. Di sisi lain, penurunan produktivitas laut mengurangi frekuensi reproduksi penyu tempayan betina dan jumlah telur yang dihasilkan.
"Penyu menyesuaikan waktu perkembangbiakan mereka dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kemampuan fleksibilitas yang luar biasa," ujar penulis utama studi tersebut di Queen Mary University of London, Fitra Nugraha, dilansir dari Phys.org, Sabtu (14/2/2026).
"Namun, pada saat yang sama, bagian Samudera Atlantik yang mereka andalkan untuk makanan menjadi kurang produktif, dan hal itu secara perlahan mengurangi produksi reproduksi mereka," tambah dia.
Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.Studi mengungkapkan, suhu permukaan laut yang lebih hangat menyebabkan penyu tiba dan bertelur lebih awal.
Suhu yang lebih tinggi juga memperpendek interval antara peneluran berturut-turut, kemungkinan karena kehangatan mempercepat perkembangan telur.
Bagaimana ketika penyu tersebut meninggalkan pantai? Seiring dengan menurunnya produktivitas laut di wilayah penyu mencari makan di Afrika Barat, penyu betina saat ini mengambil istirahat yang lebih lama antara musim kawin.
Dalam kurun waktu 17 tahun, interval pencarian makan kembali telah meningkat dari sekitar dua tahun menjadi empat tahun.
Ketika kembali, penyu-penyu itu bertelur lebih sedikit. Bahkan, jumlah telur per sarang juga semakin sedikit.
"Dari pantai, semuanya tampak sebagai keberhasilan konservasi, lebih banyak sarang, peneluran lebih awal, banyak aktivitas. Namun, ketika Anda mengikuti penyu individu selama bertahun-tahun, gambaran yang lebih kompleks muncul. Penyu-penyu tersebut bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit," tutur salah satu penulis utama dan koordinator ilmiah di Associação Projeto Biodiversidade, Kirsten Fairweather.
Baca juga:
Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.Penyu bergantung pada cadangan energi. Satwa ini mencari makan di laut untuk menunjang reproduksi dengan mengandalkan energi yang tersimpan selama bertahun-tahun.
Penurunan produktivitas laut cukup berkaitan dengan interval migrasi ulang yang bertambah panjang, jumlah telur lebih sedikit, dan jumlah peristiwa bertelur yang semakin jarang.
Kondisi ini berarti krisis iklim memengaruhi penyu melalui berbagai jalur sekaligus, termasuk pemanasan mengubah waktu reproduksi.
Sementara itu, perubahan pada rantai makanan laut mengurangi kapasitas reproduksi.
Krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu, khususnya dari sisi waktu bertelur dan jumlah telurnya, menurut studi terbaru.Cabo Verde menjadi tempat bersarang bagi puluhan ribu penyu tempayan betina setiap tahunnya.
Untuk melindungi penyu laut di dunia yang memanas, dibutuhkan strategi konservasi yang melampaui garis pantai.
"Hal itu termasuk melindungi habitat tempat mereka mencari makan, mengurangi tekanan pada ekosistem laut, dan menyadari bahwa perubahan iklim dapat merusak reproduksi bahkan pada populasi yang tampaknya berkembang," ucap Fairweather.
Baca juga:
Seiring menghangatnya lautan dan pergeseran produktivitas, studi ini menunjukkan, masa depan penyu tidak hanya bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi, tapi juga bergantung pada seberapa cepat upaya konservasi dapat beradaptasi bersama mereka.
Krisis iklim mengubah kehidupan di bumi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ada spesies yang harus menggeser wilayah jelajahnya, mengubah rute migrasi, serta berkembang biak lebih awal dalam setahun sebagai respons terhadap kenaikan suhu.
Kendati demikian, beberapa perubahan ini tampak adaptif. Para ilmuwan semakin yakin bahwa bahaya tersembunyi dapat mengancam kelangsungan hidup dalam jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya