Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pulau Buru Maluku Ditetapkan Jadi Kawasan Konservasi Baru Penyu Belimbing

Kompas.com, 17 November 2025, 12:33 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2025 resmi menetapkan kawasan konservasi di perairan Pulau Buru, Kabupaten Buru, Maluku, untuk menyelamatkan populasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pulau ini memiliki luas 57.594 hektare, dengan pantai di Kecamatan Fena Leisela yang merupakan salah satu area peneluran penyu belimbing terbesar di Indonesia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Erawan Asikin, menyebut penetapan kawasan konservasi itu sebagai tonggak penting bagi masyarakat Maluku menjaga ekosistem laut maupun sumber daya perikanan.

“Kawasan ini tidak hanya melindungi habitat penting seperti terumbu karang dan penyu, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan ekonomi biru dan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” kata Erawan dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).

Baca juga: Terang Lampu Surya Selamatkan Penyu, Kurangi Kasus Terjerat hingga 63 Persen

Ia menilai, perlindungan penyu belimbing berdampak secara global lantaran data satelit tagging menunjukkan migrasinya dapat menjangkau pantai barat Amerika Serikat dan Madagaskar. Bersama Jeen Womom di Papua Barat Daya, Buru menjadi salah satu dari dua pantai peneluran utama penyu belimbing di Indonesia.

“Penetapan kawasan konservasi di Perairan Buru juga penting untuk mendukung keberlanjutan perikanan di Provinsi Maluku yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan 715 di mana dalam program Penangkapan Ikan Terukur ditetapkan sebagai zona industri penangkapan ikan melalui spill over benih dari kawasan,” jelas dia.

Kawasan konservasi di Perairan Buru terbagi menjadi dari dua zona yakni zona inti seluas 608,91 ha serta zona pemanfaatan terbatas seluas 56.985 ha. Pemerintah Provinsi Maluku diharapkan dapat mengelola kawasan perairan secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

"Penetapan ini dapat menjadi inspirasi bagi kabupaten di Indonesia lainnya dalam upaya melindungi spesies laut yang kritis statusnya, seperti salah satunya penyu belimbing," papar Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Imam Musthofa Zainudin.

"Penetapan kawasan konservasi di Buru merupakan hasil nyata dari kerja bersama berbasis data ilmiah dan kolaborasi multipihak untuk memastikan perlindungan habitat penting bagi spesies laut lainnya,” imbuh dia. 

Baca juga: Kabar Baik, Populasi Penyu Hijau Dunia Naik 28 Persen

Menurut dia, WWF Indonesia mendukung inisiatif penetapan kawasan konservasi di perairan Buru sejak 2017 lalu. Dukungannya mencakup fasilitas dan peningkatan kapasitas diberikan kepada kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) Sugiraja Watulu guna mendata ataupun mengawasi pantai peneluran penyu belimbing di Fena Leisela.

Dalam lima tahun terakhir, tercatat 199 sarang penyu di pantai tersebut. Sementara, tingkat pencurian sarang penyu yang sebelumnya mencapai 94 persen kini menjadi nol persen pada 2024.

Imam menilai, hal itu membuktikan bahwa program konservasi penyu di Fena Leisela berdampak positif bagi kelangsungan hidup penyu belimbing.

Kawasan ini diharapkan menjadi benteng bagi pelestarian penyu belimbing dan ekosistem pesisir, sekaligus contoh nyata konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir serta penguatan ekonomi biru di Maluku.

Lainnya, mendukung target pemerintah Indonesia yakni 30x45 yang merujuk pada MPA & OECM Vision 30x45, target memperluas kawasan konservasi perairan laut hingga 30 persen dari total wilayah perairan Indonesia pada 2045.

Tujuannya, melindungi keanekaragaman hayati laut, memastikan kelestarian perikanan, serta berkontribusi pada target global dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Baca juga: Kisah Fitryanti, Akademisi yang Aktif Lindungi Penyu dan Beri Edukasi Masyarakat Papua

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
Pemerintah
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
LSM/Figur
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
BUMN
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
LSM/Figur
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
LSM/Figur
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
LSM/Figur
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
LSM/Figur
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
LSM/Figur
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Pemerintah
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
LSM/Figur
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
LSM/Figur
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Pemerintah
Kemenhut Angkut Ratusan Gelondongan Kayu Banjir Sumatera
Kemenhut Angkut Ratusan Gelondongan Kayu Banjir Sumatera
Pemerintah
Taiwan Ubah Strategi Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Taiwan Ubah Strategi Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Pemerintah
Lanskap Sombori-Mekongga di Sulawesi Diusulkan Jadi Taman Nasional
Lanskap Sombori-Mekongga di Sulawesi Diusulkan Jadi Taman Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau