Penulis
Selain itu, edukasi cepat kepada masyarakat sangat penting. Masyarakat diminta tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.
Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi.
Ignasius menekankan pentingnya strategi jangka panjang. Pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran B3 harus diperkuat. Sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online (daring) juga perlu dibangun.
Selain itu, diversifikasi sumber air baku penting untuk meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis. Restorasi ekosistem sungai juga tidak boleh diabaikan.
Rehabilitasi zona riparian menjadi langkah krusial. Langkah ini dapat meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
"Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis," tutur Ignasius.
Sebagai informasi, pencemaran di Sungai Cisadane terjadi usai kebakaran gudang pestisida di Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin (9/2/2026) lalu.
Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah. Pemerintah Kota Tangerang dan relawan, misalnya, menuang 1.500 liter ecoenzym ke sungai untuk meminimalisasi dampak pencemaran dan mengurangi bau tidak sedap.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya