Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satgas RDF Rorotan Dibentuk, Warga dan Pemprov Jakarta Sepakat Cari Sumber Bau

Kompas.com, 16 Februari 2026, 10:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pada Minggu (15/2/2026), saya berkunjung ke area sekitar fasilitas pengelolaan sampah untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF), Jakarta Timur.

Bau menyengat tercium dari sedimen dalam banjir kanal timur (BKT) yang sedang dikeruk. Bau busuk juga menguar dari beberapa timbunan sampah di pinggir jalan di tepi BKT.

Baca juga:

Satgas menelusuri asal bau di luar RDF Rorotan

Dari asap pembakaran jerami hingga sedimen

Ketua RT 18 RW 14, Cluster Shinano Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Kelurahan Cakung Timur, Jakarta Timur, Wahyu Andre Maryono mengakui adanya sejumlah sumber bau di luar fasilitas RDF Rorotan.

Sebelum fasilitas RDF berdiri, sudah ada beberapa sumber kebauan yang berasal dari asap pembakaran jerami saat panen, produksi tempurung kelapa untuk dijadikan arang, serta usaha bebek dan pabrik.

Oleh karena itu, Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan yang akan dibentuk juga bertugas mengonfirmasi sebenarnya dari mana asal sumber kebauan.

"Iya, betul (satgas itu agar ada transparansi kalau ada sumber bau lain juga). Nah, kami kemarin juga sepakat salah satu fungsi satgas ini juga itu tadi mencari sumber-sumber kebauan dan kami identifikasi dan itu semua akan kami coba benahi satu per satu," ujar Wahyu kepada Kompas.com, Minggu (16/2/2026).

Ia juga membenarkan adanya sumber kebauan dari sedimen dalam BKT dan timbunan sampah pada pinggir jalan di tepi BKT.

Kondisi ini disebabkan minimnya pengawasan di kawasan perbatasan antara Jakarta dengan Bekasi, Jawa Barat.

Baca juga:

Bau tercium saat melewati tumpukan sampah pada pinggir jalan di tepi banjir kanal timur (BKT) sekitar fasilitas RDF Rorotan, Jakarta Timur, pada Minggu (15/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Bau tercium saat melewati tumpukan sampah pada pinggir jalan di tepi banjir kanal timur (BKT) sekitar fasilitas RDF Rorotan, Jakarta Timur, pada Minggu (15/2/2026).

Wahyu berharap, perwakilan warga dari Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi ikut berkontrbusi nyata dalam kerja-kerja Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan.

"Nanti, isinya (satgas) juga warga-warga yang paham mengenai hukum paham mengenai kesehatan paham mengenai teknik lingkungan jadi kita bisa memberikan feedback, input yang positif kepada pemerintah," tutur Wahyu.

Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan akan diisi oleh unsur dari pemerintah (Gubernur DKI Jakarta, Walikota Jakarta Timur, Walikota Jakarta Utara, Dinas Lingkungan Hidup, dan dinas terkait lainnya), serta perwakilan dari unsur warga terdampak dari tiga wilayah (Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kabupaten/Kota Bekasi).

Pembentukan Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan merupakan salah satu poin kesepakatan utama dalam pertemuan pada Kamis (13/2/2026) pukul 19.30 WIB-23.00 WIB di JGC.

Dalam mediasi tersebut, dihadiri langsung oleh Walikota Jakarta Timur, Mujirin, bersama jajarannya, termasuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto dan Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) DLH DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko.

Selain itu, mediasi untuk membahas keresahan bau dari operasional fasilitas RDF Rorotan itu juga dihadiri camat dan lurah se-Cakung, pengurus RT, RW 14, serta perwakilan warga se-JGC.

Poin kesepakatan lainnya adalah penghentian sementara seluruh operasional di fasilitas RDF Rorotan hingga satgas tersebut terbentuk dan memiliki prosedur operasional standar (SOP).

"Kemarin saya tanya ke Pak Agung (Kepala UPST DLH DKI Jakarta), memang sampai saat ini dihentikan dulu produksinya dan tidak ada komplain kebauan sampai hari ini belum, belum ada komplain kebauan gitu," kata Wahyu.

"Alhamdulillah memang memang serius gitu ya saya lihat pemerintah daerah untuk menghentikan sementara waktu operasional RDF. Ini berhubung ini juga hari libur dan hari besar nasional Imlek dan awal puasa," tambah dia.

Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan yang akan dibentuk bertugas mengonfirmasi sebenarnya dari mana asal sumber bau.Dok. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Satgas Pengawasan Operasional RDF Rorotan yang akan dibentuk bertugas mengonfirmasi sebenarnya dari mana asal sumber bau.

Sebelumnya, Agung menyebut, ada berbagai sumber kebauan di sekitar fasilitas RDF di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Terdapat beberapa karakteristik bau di sekitar fasilitas RDF Rorotan, antara lain potensi bau sampah, potensi bau produk RDF, potensi bau residu, serta potensi bau instalasi pengelolaan air limbah atau tempat pengelolaan air lindi.

"Kalau lindi baunya itu berbeda dengan dari residu. Produk RDF agak berbau asam, bukan bau sampah," ujar Agung di kantor Kompas.com, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).

Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya.

Kala menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.

Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT) atau pembuangan sampah ilegal dan saluran mampet di sana.

"Kadang-kadang kami pun bingung kalau ada bau. Ini baunya dari mana? Tidak ada operasi (di fasilitas RDF), tapi kok bau," tutur Agung.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau