Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja

Kompas.com, 16 Februari 2026, 19:11 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Generasi sandwich menanggung beban berlapis lantaran harus membiayai diri sendiri serta keluarga.

Berdasarkan jajak pendapat Litbang Kompas tahun 2022 dengan melibatkan 504 responden dari 34 provinsi di Indonesia, diketahui bahwa 67 persen responden mengaku menanggung beban sebagai generasi sandwich, dilansir dari Kompas.id, Senin (16/2/2026).

Baca juga: 

Apabila angka ini diproporsikan dengan populasi usia produktif nasional yang berjumlah 206 juta jiwa, diperkirakan akan ada 56 juta jiwa manusia Indonesia yang menjadi generasi sandwich.

Generasi sandwich di Indonesia rentan burnout

Diperparah dengan kondisi yang menyebabkan overwork

Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.PEXELS Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), M Bakhrul Fikri menjelaskan, generasi sandwich tak hanya dialami pekerja yang masih lajang, tapi juga mereka yang telah menikah.

"Di sisi lain (mereka) juga harus setiap bulan transfer ke orangtuanya. Ini yang bikin para pekerja muda sekarang banyak sekali mengalami burnout, tapi tidak ada jalan lain selain mereka harus menjalani kehidupan pekerjaan yang seperti ini karena tuntutan dari banyak hal," kata Fikri saat dihubungi, Senin (16/2/2026).

Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem akibat stres berkepanjangan, biasanya dipicu oleh beban kerja berlebihan.

Kondisi ini, lanjut Fikri, diperparah dengan tekanan inflasi di sektor pangan sehingga menyebabkan para pekerja terpaksa bekerja berlebihan (overwork).

Menurut Firkri, fenomena overwork lebih banyak terjadi di sektor informal. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 25,47 persen penduduk Indonesia bekerja dengan jam kerja lebih dari 49 jam per pekan.

Baca juga:

Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.FREEPIK Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.

"Sebetulnya pekerja informal itu sendiri masih banyak kekurangannya di Indonesia terkait ketidakadaan perlindungan sosial atau jaminan sosial yang sangat minim. Bahkan, mereka harus menyisihkan sebagian besar upahnya itu untuk membayar jaminan sosial untuk mereka sendiri," jelas Fikri.

"Kemudian ada faktor dari sistem yang memang membuat para pekerja informal mau tidak mau harus mengeksploitasi dirinya sendiri, karena memang output-nya adalah berdasarkan performatif," imbuh dia.

Tekanan serupa juga terjadi di sektor kerja formal. Jumlah lapangan kerja yang terbatas di tengah dominasi angkatan kerja usia muda membuat persaingan kian ketat.

Fikri menyebut, kondisi itu mendorong pekerja untuk terus membuktikan performa agar tidak kehilangan pekerjaan meskipun mereka tak merasa menyukai pekerjaannya.

Alhasil, muncul fenomena lain yang dikenal sebagai job hugging, bertahan pada pekerjaan saat ini karena tidak memiliki opsi lain yang lebih baik.

Jangan sepelekan dampak burnout dan overwork

Burnout bisa memicu ketidakstabilan karier

Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.Shutterstock/Lightspring Peneliti ungkap dampak serius burnout pada generasi sandwich, dari produktivitas menurun hingga beban kesehatan mental yang meningkat.

Fikri menjelaskan, setidaknya ada tiga dampak utama dari overwork dan burnout yang dialami pekerja Indonesia saat ini.

Pertama, produktivitas pekerja yang menurun dalam jangka panjang akibat kelelahan. Para pekerja tak lagi bisa menciptakan inovasi baru saat bekerja lantaran burnout.

"Kemudian yang kedua adalah karena burnout tadi akhirnya muncul (persoalan) kesehatan mental, ini yang juga menyebabkan biaya kesehatan mental mereka meningkat. Efek negatif dari burnout selain biaya kesehatan mental yang meningkat adalah tekanan sistemik itu juga berubah menjadi beban kesehatan publik yang akhirnya membebani," terang Fikri.

Ketiga, terganggunya keberlanjutan karier generasi muda. Burnout dini dapat memicu ketidakstabilan karier dan ketidakpastian masa depan.

"Dalam jangka pendek mungkin produktivitas naik karena tuntutan persaingan. Tapi dalam jangka panjang ini merugikan pekerja sendiri dan juga perusahaan, karena kualitas output pekerjaan bisa terganggu,” ucap Fikri.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau