Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging

Kompas.com, 17 Februari 2026, 21:20 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Pemerintah Prancis baru-baru ini mendesak warganya untuk membatasi konsumsi daging mereka untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi emisi.

Di sisi lain, negara ini sudah tak terpisahkan lagi dengan tradisi kuliner yang didominasi daging seperti steak-frites dan beef bourguignon.

Namun, faktanya Sektor pangan dan pertanian menyumbang sepertiga dari total emisi gas rumah kaca global, menempati posisi kedua setelah pembakaran bahan bakar fosil.

Daging, khususnya daging sapi dan domba, juga telah diidentifikasi dalam berbagai penelitian sebagai salah satu penyebab utama kerusakan iklim.

Menurut kalkulator jejak karbon CO2 Everything, satu porsi daging sapi 100g setara dengan 78,7 km berkendara, melepaskan 15,5 kg CO2 ekuivalen.

Baca juga: Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim

Desak kurangi konsumsi daging

Melansir Euro News, Senin (16/2/2026) awal bulan ini, Prancis menerbitkan Strategi Nasional untuk Pangan, Gizi, dan Iklim, yang menguraikan tujuan pemerintah pada tahun 2030 untuk mengatasi krisis iklim sekaligus menangani masalah kesehatan yang semakin meningkat.

Pedoman baru Prancis ini mempromosikan diet yang berfokus pada makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh, sambil menyerukan konsumsi daging dan sosis yang "terbatas".

Pedoman ini juga menyerukan pengurangan impor daging, tetapi menyatakan bahwa ikan dan produk susu dapat dikonsumsi dalam jumlah yang "cukup". Susu sapi menghasilkan gas rumah kaca sekitar tiga kali lebih banyak daripada sebagian besar alternatif nabati.

Pedoman ini awalnya direncanakan terbit pada tahun 2025, namun ditunda setelah adanya protes keras dari para pelobi industri pertanian.

Pedoman akhirnya muncul sebulan setelah pedoman diet Amerika Serikat justru secara kontroversial menganjurkan konsumsi steak dan daging sapi giling.

Batasi Daging, Selamatkan Planet?

Monique Barbut, Menteri Transisi Ekologi, Keanekaragaman Hayati, dan Negosiasi Internasional tentang Iklim dan Alam mengungkapkan makan dengan baik berarti beraksi untuk planet, kesehatan dan mendukung pertanian yang berkualitas.

"Dengan memilih produk lokal dan berkelanjutan, kita mengurangi jejak karbon, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghargai kerja keras petani kita. Melalui strategi ini, pelestarian lingkungan secara nyata diundang hadir ke dalam piring makan kita," katanya.

Baca juga: Kesadaran Konsumen Tingkatkan Permintaan Daging Sapi Rendah Metana

Meskipun laporan tersebut mengakui dampak lingkungan dari daging, para aktivis mengkritik pemerintah Prancis karena menggunakan kata 'membatasi' alih-alih 'mengurangi'.

Stephanie Pierre dari France Assos Sante, sebuah asosiasi kesehatan pasien, dikutip di media lokal mengatakan bahwa kelompok tersebut mengharapkan rencana yang jauh lebih ambisius.

Terlepas dari pedoman tersebut, masyarakat Prancis sendiri perlahan-lahan telah beralih dari masakan yang berpusat pada daging dalam beberapa tahun terakhir karena berbagai alasan.

Sebuah jajak pendapat tahun 2025 untuk asosiasi perubahan iklim le Réseau menemukan bahwa 52 persen warga telah mengurangi konsumsi daging mereka dalam tiga tahun terakhir.

Lebih dari setengahnya (52 persen) mengatakan hal ini disebabkan oleh kenaikan harga produk daging yang terus meningkat.

Sebanyak 38 persen menyebut kesehatan sebagai pendorong utama untuk mengurangi konsumsi daging, sementara lingkungan dan kesejahteraan hewan menjadi faktor bagi 35 dan 33 persen responden.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau