KOMPAS.com - Pemerintah Prancis baru-baru ini mendesak warganya untuk membatasi konsumsi daging mereka untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi emisi.
Di sisi lain, negara ini sudah tak terpisahkan lagi dengan tradisi kuliner yang didominasi daging seperti steak-frites dan beef bourguignon.
Namun, faktanya Sektor pangan dan pertanian menyumbang sepertiga dari total emisi gas rumah kaca global, menempati posisi kedua setelah pembakaran bahan bakar fosil.
Daging, khususnya daging sapi dan domba, juga telah diidentifikasi dalam berbagai penelitian sebagai salah satu penyebab utama kerusakan iklim.
Menurut kalkulator jejak karbon CO2 Everything, satu porsi daging sapi 100g setara dengan 78,7 km berkendara, melepaskan 15,5 kg CO2 ekuivalen.
Baca juga: Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim
Melansir Euro News, Senin (16/2/2026) awal bulan ini, Prancis menerbitkan Strategi Nasional untuk Pangan, Gizi, dan Iklim, yang menguraikan tujuan pemerintah pada tahun 2030 untuk mengatasi krisis iklim sekaligus menangani masalah kesehatan yang semakin meningkat.
Pedoman baru Prancis ini mempromosikan diet yang berfokus pada makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh, sambil menyerukan konsumsi daging dan sosis yang "terbatas".
Pedoman ini juga menyerukan pengurangan impor daging, tetapi menyatakan bahwa ikan dan produk susu dapat dikonsumsi dalam jumlah yang "cukup". Susu sapi menghasilkan gas rumah kaca sekitar tiga kali lebih banyak daripada sebagian besar alternatif nabati.
Pedoman ini awalnya direncanakan terbit pada tahun 2025, namun ditunda setelah adanya protes keras dari para pelobi industri pertanian.
Pedoman akhirnya muncul sebulan setelah pedoman diet Amerika Serikat justru secara kontroversial menganjurkan konsumsi steak dan daging sapi giling.
Monique Barbut, Menteri Transisi Ekologi, Keanekaragaman Hayati, dan Negosiasi Internasional tentang Iklim dan Alam mengungkapkan makan dengan baik berarti beraksi untuk planet, kesehatan dan mendukung pertanian yang berkualitas.
"Dengan memilih produk lokal dan berkelanjutan, kita mengurangi jejak karbon, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghargai kerja keras petani kita. Melalui strategi ini, pelestarian lingkungan secara nyata diundang hadir ke dalam piring makan kita," katanya.
Baca juga: Kesadaran Konsumen Tingkatkan Permintaan Daging Sapi Rendah Metana
Meskipun laporan tersebut mengakui dampak lingkungan dari daging, para aktivis mengkritik pemerintah Prancis karena menggunakan kata 'membatasi' alih-alih 'mengurangi'.
Stephanie Pierre dari France Assos Sante, sebuah asosiasi kesehatan pasien, dikutip di media lokal mengatakan bahwa kelompok tersebut mengharapkan rencana yang jauh lebih ambisius.
Terlepas dari pedoman tersebut, masyarakat Prancis sendiri perlahan-lahan telah beralih dari masakan yang berpusat pada daging dalam beberapa tahun terakhir karena berbagai alasan.
Sebuah jajak pendapat tahun 2025 untuk asosiasi perubahan iklim le Réseau menemukan bahwa 52 persen warga telah mengurangi konsumsi daging mereka dalam tiga tahun terakhir.
Lebih dari setengahnya (52 persen) mengatakan hal ini disebabkan oleh kenaikan harga produk daging yang terus meningkat.
Sebanyak 38 persen menyebut kesehatan sebagai pendorong utama untuk mengurangi konsumsi daging, sementara lingkungan dan kesejahteraan hewan menjadi faktor bagi 35 dan 33 persen responden.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya