Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat

Kompas.com, 17 Februari 2026, 22:02 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Data terbaru menunjukkan pemanasan global makin cepat terjadi pasca ditetapakannya Perjanjian Paris (Paris Agreement) satu dekade dalam Conference of The Parties (COP21).

Tahun 2025 tercatat menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah ada dengan suhu 1,44 derajat celsius di atas pra industri.

Berdasarkan laporan Global Atmosphere Watch milik Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), konsentrasi karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida memecahkan rekor tertingginya hingga meningkatkan suhu yang ekstrem selama 2023-2025.

Sementara itu, Goddard Institute for Space Studies (GISS) NASA menyatakan suhu permukaan bumi 2025 berada 1,19 derajat celsius di atas rata-rata periode 1951-1980. Suhu ini menyamai 2023 sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah diukur.

Baca juga: Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global

Melansir Reuters, Selasa (17/2/2026), emisi karbon dioksida (CO2) global diproyeksikan mencapai 38,1 miliar ton pada 2025. Faktor utamanya, peningkatan penggunaan batu bara, minyak, dan gas, meskipun energi terbarukan tumbuh pesat. 

"Emisi karbon global dari bahan bakar fosil diproyeksikan meningkat sebesar 1,1 persen pada tahun 2025, mencapai rekor tertinggi," kata peneliti Global Carbon Budget.

Laporan yang disusun oleh lebih dari 130 ilmuwan internasional itu memperkirakan konsentrasi CO2 di atmosfer akan mencapai 52 persen di atas tingkat pra-industri.

Selain itu, tim peneliti menemukan bahwa 8 persen dari peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer sejak 1960 dipicu perubahan iklim yang melemahkan penyerapan karbon di darat dan laut.

"Tanpa adanya tanda-tanda penurunan emisi global, kadar CO2 di atmosfer dan dampak berbahaya dari pemanasan global terus meningkat," tulis peneliti.

Baca juga: Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040

Para peneliti memperkirakan, emisi karbon tengah meningkat di China, India, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Sedangkan penurunan emisi hanya terjadi di Jepang.

Mereka memperingatkan, dunia kini hanya memiliki sisa ruang karbon sekitar 170 miliar ton CO2, apabila benar-benar ingin membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius di atas rata-rata pra industri.

Dampak Pemanasan Global

Pemanasan global berdampak pada wilayah kutub dan lautan. Menurut Arctic Report Card 2025 dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), periode Oktober 2024 hingga September 2025 merupakan waktu terpanas di kawasan tersebut sejak tahun 1900.

Luas es laut Arktik bahkan mencapai maksimum musim dingin terendah yang pernah tercatat pada Maret 2025, sekitar 14,47 juta kilometer persegi. Lainnya, lautan dunia menyerap panas dalam jumlah rekor pada 2025. Kenaikan suhu laut ini mendorong peningkatan permukaan air laut yang terus berlangsung.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memproyeksikan permukaan laut global akan naik sekitar 0,20-0,29 meter pada 2050 dibandingkan periode 1995-2014.

Jika tren lonjakan emisi tidak segera ditekan maka dampak pemanasan globa mulai dari cuaca ekstrem sampai kenaikan permukaan laut akan kian sulit dikendalikan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau