Perubahan iklim juga mengancam kegiatan penelitian di Antartika. Kerusakan infrastruktur akibat kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan es yang mencair akan menyulitkan para ilmuwan untuk mengumpulkan data yang mereka butuhkan guna meramalkan dampak pemanasan suhu di masa depan.
Penelitian di Antartika terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan para ilmuwan mencoba membangun tembok sepanjang 150 meter untuk mencegah 'Gletser Kiamat' memicu banjir global.
Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Menurut Davies, saat ini kita sedang berada di jalur menuju masa depan dengan tingkat emisi menengah hingga menengah-tinggi.
"Meski tren kehilangan es dan peristiwa ekstrem saat ini akan terus berlanjut, dampaknya akan bisa diredam dengan skenario emisi yang lebih rendah dibandingkan jika kita berada di bawah skenario emisi tinggi," katanya.
Lebih lanjut, Davies menyebut bahwa volume es laut di musim dingin hanya akan menyusut sedikit dibandingkan saat ini, yang artinya kenaikan permukaan laut akan terbatas hanya beberapa milimeter.
Sebagian besar gletser juga tidak hilang dan lapisan es yang menopangnya akan tetap bertahan.
Kendati demikian Davies mengkhawatirkan bahwa skenario emisi yang tinggi akan membuat beberapa perubahan yang permanen.
Ia mencontohkan akan sulit untuk menumbuhkan kembali gletser dan mengembalikan satwa liar yang membuat Antartika istimewa. Jika tidak melakukan perubahan sekarang, generasi mendatang harus menanggung konsekuensinya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya