KOMPAS.com - Pengeluaran global untuk iklim dinilai meningkat. Pemerintah, bank, dan investor swasta menggelontorkan miliaran dollar Amerika Serikat (AS) ke energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi pengurangan karbon.
Momentum tersebut mungkin tampak seperti kemajuan. Namun, jika dilihat lebih dekat, muncul kesenjangan yang mengkhawatirkan.
Baca juga:
Pasalnya, hanya 7,4 persen dari pendanaan iklim global yang dialokasikan untuk membantu masyarakat beradaptasi seiring peningkatan suhu, banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan laut, dilansir dari Earth, Senin (23/2/2026).
Ketimpangan itu membuat banyak negara rentan. Selain itu, hal ini juga menimbulkan pertanyaan yang lebih mendalam: Jika pendanaan iklim meningkat, mengapa kemampuan untuk bertahan tidak ikut berkembang secepat itu?
Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.Dalam catatan anggaran iklim dunia, terlihat ketimpangan yang sangat jelas yakni sebagian besar dana mengalir untuk memangkas emisi, sedangkan anggaran untuk perlindungan warga lokal hanya mendapat porsi kecil.
Melacak pola-pola tersebut, Dr. Subrata Gorain dari Universitas Visva-Bharati di India menunjukkan bagaimana cara kerja keuangan, pilihan teknologi, dan sistem pemerintahan saling memengaruhi apakah bantuan perlindungan tersebut benar-benar sampai ke tangan masyarakat atau tidak.
Studi menunjukkan bahwa, meskipun total dana iklim melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, dukungan untuk adaptasi masyarakat masih tertinggal jauh di belakang dana mitigasi alias pengurangan emisi.
Ketimpangan ini mengungkap adanya kesalahan struktur dalam cara aksi iklim didanai, yang memicu penyelidikan lebih dalam tentang mengapa uang, teknologi, dan sistem pemerintahan sangat sering gagal bekerja sama.
Dalam negosiasi PBB, dana iklim adalah uang dari pemerintah, bank, dan investor swasta yang digunakan untuk mengurangi polusi dan membantu masyarakat menghadapi dampak kerusakan iklim.
Namun, sebagian besar uang itu masih mengalir ke proyek pengurangan emisi sepeti ladang tenaga surya atau kincir angin.
Baca juga:
Studi mengungkap sebagian besar dana iklim global mengalir ke energi bersih dan pengurangan emisi, sedangkan perlindungan warga belum cukup.Hal tersebut terjadi karena proyek energi bersih dinilai cenderung memberikan keuntungan finansial yang pasti sehingga lebih menarik bagi investor.
Sementara itu, proyek-proyek untuk adaptasi iklim, seperti perencanaan kekeringan dan sistem kesehatan, dinilai tidak menghasilkan keuntungan atau jarang menghasilkan keuntungan finansial yang cepat.
Ketika pendanaan iklim sangat bergantung pada pinjaman, pemimpin negara mungkin memprioritaskan proyek-proyek yang menghasilkan pendapatan, meskipun kebutuhan yang lebih besar adalah keselamatan publik.
Padahal, seiring meningkatnya bahaya iklim, perlindungan yang lemah dapat mengubah satu bencana menjadi hilangnya pendapatan selama bertahun-tahun, pengungsian, dan meningkatkan utang publik.
Berdasarkan Perjanjian Paris, negara-negara sepakat untuk mengarahkan aliran dana demi pembangunan yang rendah polusi dan tahan terhadap dampak iklim.
Namun, meski dana tersebut sudah tumbuh pesat sejak 2018, laporan terbaru dari Global Landscape of Climate Finance memperkirakan bahwa anggaran tahunan masih harus naik sekitar lima kali lipat agar target dunia bisa tercapai.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Agricultural Ecology and Environment.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya