Meningkatnya permintaan akan aplikasi cloud, daya komputasi, dan layanan padat data telah menyebabkan emisi di sektor ini melonjak lebih dari 60 persen sejak tahun 2010.
Tren ini kemungkinan akan semakin diperkuat oleh pertumbuhan pesat kecerdasan buatan generatif.
Baca juga: Studi Sebut Teknologi Digital Efektif Ajarkan Keberlanjutan Laut pada Generasi Muda
Lebih lanjut, terdapat ketidakseimbangan regional yang sangat kuat. China adalah produsen emisi digital terbesar sekaligus eksportir utama. Di sisi lain, Eropa dan Amerika Serikat mengimpor sebagian besar jejak karbon digital mereka melalui rantai pasok global.
Oleh karena itu, para penulis mendesak agar kebijakan iklim lebih mempertimbangkan emisi yang disebabkan oleh konsumsi barang di luar negara produsennya.
Membangun pusat data yang lebih efisien dan mengurangi konsumsi daya saja tidak akan cukup untuk mengecilkan jejak iklim teknologi digital.
Sebaliknya, sangat krusial untuk mengurangi emisi dari teknologi digital di seluruh rantai nilai termasuk penggunaannya sebagai komponen dalam produk dan layanan lainnya.
Menangani dampak lingkungan lintas batas di bawah kondisi persaingan yang adil akan memerlukan transparansi yang lebih besar, tanggung jawab yang ditentukan secara jelas, serta kerja sama antara perusahaan dan pemerintah di sepanjang rantai pasok global.
Solusinya mencakup mekanisme seperti Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) milik Uni Eropa. Kemajuan dalam perangkat keras yang tahan lama dan dapat digunakan kembali, serta pendekatan yang lebih sadar lingkungan terhadap aplikasi digital, juga dapat membantu mengurangi emisi digital.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya