Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konfliknya dengan Manusia Makin Parah, Gajah Butuh Kantong Populasi Lebih Banyak

Kompas.com, 24 Februari 2026, 18:10 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik antara gajah dengan manusia semakin parah dalam 10 tahun terakhir, yang dipicu oleh banyaknya habitat gajah banyak beralih fungsi untuk hutan produksi dan lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa sawit.

Yang awalnya habitat gajah di Sumatera sebenarnya bukan sekadar kawasan hutan. Ada pula area penggunaan lain (APL) yang dulunya tutupannya memang hutan.

“Tinggi banget, di Sumatra terutama. Ya betul semakin parah memang 10 tahun terakhir, saya perhatikan ya," ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik

Selain itu, konflik antara manusia dengan gajah masih erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk di Sumatera yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir.

Ekspansi perkebunan melalui alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan, menyusutkan wilayah yang dihuni gajah.

Secara naluriah, gajah sebenarnya enggan berinteraksi dengan manusia. Gajah akan melintasi wilayah yang dulunya pernah dijelajahinya. Ketika lanskap wilayah jelajahnya berubah menjadi perkebunan atau permukiman, gajah tetap akan memasukinya dengan keterpaksaan.

Secara teori, ketersediaan makanan di dalam hutan atau manusia menyiapkannya, otomatis gajah akan mencari tempat lainnya.

"Nah, kebetulan umbut sawit (bagian ujung titik tumbuh batang kelapa sawit yang lunak dan berwarna putih) disukai gajah. Jadi, dimakan gajah yang masih bisa menjangkaunya, kecuali tanamannya sudah besar dan satwa itu ti mungkin lagi memakan pucuknya. Itu sudah aman sebetulnya," tutur Dolly.

Tanaman kelapa sawit berusia di bawah 5 tahun memang rentan menjadi sasaran gajah. Biasanya, perusahaan perkebunan sawit di Sumatera mencegah gajah masuk ke area tanaman muda dengan memasang electric fencing atau pagar kawat berarus listrik tegangan rendah.

Lainnya, dengan menggali parit di pinggir kawasan hutan untuk membatasi pergerakan gajah masuk ke perkebunan kelapa sawit.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit mempunyai modal untuk membangun penghalang agar gajah tidak bisa melintas ke wilayahnya.

Pembukaan perkebunan kelapa sawit berskala besar dengan berbagai penghalangnya, mendorong gajah ke wilayah yang memang berbatasan secara langsung dengan permukiman atau kebun milik rakyat.

"(Konflik manusia dengan gajah) di Aceh tinggi betul, karena memang kondisinya populasi gajah (di Sumatera) paling besar di wilayah Aceh dan banyak desa-desa memang berbatasan langsung dengan habitat gajah. Jadi, ketika areal mereka dikembangkan (akan memicu konflik)," ucapnya.

Terbaru, gajah mati diduga tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang dipasang di area perkebunan warga di Kabupaten Aceh Tengah, pada Jumat (20/2/2026). Menurut Dolly, pagar kawat yang dialiri listrik tegangan tinggi memang kerap dipasang di perkebunan kelapa sawit rakyat di Sumatera.

Konflik Semakin Tinggi

Selain gajah, tren konflik antara manusia dan satwa liar di Sumatera juga meningkat dalam 10 tahun terakhir. Misalnya, intensitas konflik antara manusia dengan satwa liar di Sumatera Selatan semakin tinggi dalam 5 tahun terahir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031
Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031
Pemerintah
Industri Fashion Global Hadapi Risiko Finansial Jika Lambat Tanggapi Perubahan Iklim
Industri Fashion Global Hadapi Risiko Finansial Jika Lambat Tanggapi Perubahan Iklim
Pemerintah
50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini
50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini
LSM/Figur
Konfliknya dengan Manusia Makin Parah, Gajah Butuh Kantong Populasi Lebih Banyak
Konfliknya dengan Manusia Makin Parah, Gajah Butuh Kantong Populasi Lebih Banyak
LSM/Figur
PT RMU Buka Lowongan untuk Lulusan Teknik hingga Kehutanan, Ini Syaratnya
PT RMU Buka Lowongan untuk Lulusan Teknik hingga Kehutanan, Ini Syaratnya
Swasta
Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global
Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global
Pemerintah
Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko 'Kerja Paksa'
Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko "Kerja Paksa"
Swasta
Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim
Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Tekan Program Makan Sekolah, Peneliti Stanford Soroti Dampaknya bagi Anak
Krisis Iklim Tekan Program Makan Sekolah, Peneliti Stanford Soroti Dampaknya bagi Anak
LSM/Figur
Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis
Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis
Swasta
Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?
Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?
LSM/Figur
Amazon hingga Microsoft Dominasi Pembelian Energi Bersih Sepanjang 2025
Amazon hingga Microsoft Dominasi Pembelian Energi Bersih Sepanjang 2025
Swasta
Pengamat: Gugus Tugas Program PLTS 100 GW butuh Banyak 'Resources'
Pengamat: Gugus Tugas Program PLTS 100 GW butuh Banyak "Resources"
LSM/Figur
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
LSM/Figur
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau