Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini

Kompas.com, 24 Februari 2026, 18:48 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, krisis iklim menyebabkan padang rumput yang menopang 1,5 miliar sapi, domba, dan kambing di seluruh dunia, menyusut sekitar 36-50 persen pada akhir abad ini.

Dampak krisis iklim terhadap padang rumput di Afrika sangat mengkhawatirkan. Kondisi iklim di Afrika sudah hampir mencapai batas ekstrem yang bisa ditanggung padang rumput.

Jika emisi gas rumah kaca (GRK) global dari pembakaran bahan bakar fosil dan sumber lainnya dikurangi secara drastis, padang rumput di Afrika kemungkinan hanya menyusut sebesar 16 persen.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Kopi Makin Mahal, Ancam Panen di Negara Produsen Terbesar

Skenario pengurangan dengan bisnis seperti biasa, yang mana emisi GRK terus meningkat, mengakibatkan kerugian hingga 65 persen.

“Krisis iklim akan menggeser dan secara signifikan mempersempit ruang-ruang ini secara global, sehingga mengurangi ruang bagi hewan untuk merumput. Yang penting, sebagian besar perubahan ini akan dirasakan di negara-negara yang sudah mengalami kelaparan, ketidakstabilan ekonomi dan politik, serta tingkat ketidaksetaraan gender yang lebih tinggi,” ujar penulis utama studi tersebut dari The Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Chaohui Li, dilansir dari Earth Selasa (24/2/2026).

Sebagai kontributor krisis iklim, peternakan juga terancam olehnya. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, daging dan produk susu menyumbang sekitar 14,5 persen emisi GRK global.

Disumbang dari Makanan

Sementara itu, Laporan EAT-Lancet kedua yang diterbitkan pada akhir tahun 2025, menemukan bahwa makanan adalah penyebab tunggal terbesar pelanggaran batas planet. Bahkan, makanan berkontribusi pada lima dari enam batas yang dilanggar.

Studi ini didasarkan pada konsep kerangka kerja 'ruang iklim aman', dengan kisaran suhu dan kondisi cuaca di mana padang rumput yang cocok untuk penggembalaan dapat berkembang. Ruang iklim aman untuk area penggembalaan ditetapkan sebagai suhu dari -3 hingga 29°C, curah hujan antara 50–2.627 milimeter per tahun, kelembapan 39-67 persen, serta kecepatan angin 1- 6 meter per detik.

Para peneliti memproyeksikan penurunan bersih sebesar 36-50 persen dari area yang sesuai iklim untuk penggembalaan pada tahun 2100, disertai dengan pergeseran kesesuaian penggembalaan antar dan intrabenua.

Dari 51- 81 persen dari populasi yang terdampak tersebut tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah, dengan kelaparan serius, ketidaksetaraan gender yang parah, dan kerapuhan politik yang tinggi.

Studi ini memprediksi bahwa krisis iklim di masa depan akan mengancam kesesuaian penggembalaan di sebagian besar wilayah Bumi. Krisis iklim akan membahayakan mata pencaharian banyak komunitas dan berpotensi memicu konsekuensi sosial ekonomi yang meluas.

Baca juga: Pakar: Leuit Bisa Jadi Solusi Ketahanan Pangan Saat Pasar Impor Terganggu

Beberapa area penggembalaan memang akan bergeser ke selatan dari dataran tinggi Ethiopia, Lembah Rift Afrika Timur, Cekungan Kalahari, dan Cekungan Kongo. Sedangkan zea penggembalaan pesisir tidak akan memiliki tempat lagi untuk berpindah.

“Pergeseran dari apa yang kita identifikasi sebagai ruang iklim yang aman ini benar-benar menantang efektivitas strategi adaptasi yang telah digunakan di tempat-tempat seperti Afrika pada masa-masa sulit, seperti mengganti spesies atau memindahkan kawanan ternak. Perubahannya terlalu besar untuk itu,” ujar peneliti PIK dan salah satu penulis studi tersebut, Asisten Profesor di Universitas Groningen, Prajal Pradhan.

Bagi Pradhan dan timnya, temuan ini merupakan bukti bahwa krisis iklim akan memperburuk ketidaksetaraan yang ada, serta berisiko menggoyahkan sistem produksi pangan global dan masyarakat yang bergantung padanya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau