Kisah Dahni dan Aldy menunjukkan bahwa di balik sorotan kompetisi, ada ekosistem pembinaan yang bekerja dalam senyap.
Senior Manager CPE Starbucks Indonesia Fellicia Andrean menjelaskan, budaya kerja di Starbucks sudah tecermin dari penyebutan barista. Di Starbucks, barista tidak dipanggil barista, melainkan partner.
Baca juga: Starbucks Catat Rekor MURI dan Rayakan Bulan Kopi Internasional dengan Kompetisi Latte Art
“Partner itu sesederhana teman kerja,” ujarnya. “Kita bekerja bersama untuk tujuan yang sama. Work together as peers.”
Barista, menurut Felicia, adalah titel profesi. Sementara partner lebih cair, tidak hierarkis, dan tidak menempatkan siapa pun lebih tinggi dari yang lain.
Dalam relasi itu, senior tidak berdiri sebagai pihak yang menggurui, tetapi berjalan berdampingan dengan mereka yang baru masuk.
Semangat setara tersebut diterjemahkan ke dalam jalur pengembangan berlapis. Sejak bergabung, partner difokuskan pada kesiapan operasional di gerai melalui serangkaian sertifikasi barista teknis yang umumnya memakan waktu sekitar tiga bulan.
Setelah lulus, pengembangan berlanjut. Partner didorong mengambil peran sebagai Barista Trainer untuk meng-coaching rekan baru. Enam bulan berikutnya, mereka dapat melangkah menjadi Coffee Master yang ditandai dengan apron hitam.
“Coffee Master itu bukan hanya soal skill kopi, melainkan kontribusi apa yang ingin mereka bawa sebagai partner,” tutur Felicia.
Di tahap inilah peran divisi CPE bekerja lebih intens. Jika sebelumnya pengembangan ditangani tim L&D, setelah menjadi Coffee Master, partner memasuki fase eksplorasi lanjutan, termasuk kompetisi.
“Tugas CPE adalah menciptakan sistem untuk menjaring serta memfasilitasi partner berkompetisi,” kata Felicia.
Tim CPE dibentuk pada 2020, berangkat dari pengalaman para partner yang pernah mengikuti kompetisi. Pada 2023, Coffee Lab didirikan di Gerai Starbucks Adhyaksa untuk mendukung kreativitas dan kemahiran partner.
Coffee Lab menyediakan peralatan, mesin, bahan baku, hingga akses ke roastery. Di ruang ini pula, tim CPE berkantor dan memberikan coaching, baik langsung maupun daring.
CPE juga membangun sistem penjaringan talenta di seluruh Indonesia dengan bantuan District Coffee Master (DCM) dan Regional Coffee Ambassador (RCA). Melalui jejaring ini, potensi partner di Medan, Kalimantan, Makassar, hingga kota-kota lain dapat terpantau.
“Banyak partner punya potensi, tapi kami tidak tahu,” ujar Felicia.
Baca juga: 300 Gerai Starbucks Indonesia Gelar Kelas Latte Art Serentak, Catat Rekor MURI
Kompetisi internal pun digelar berjenjang. Partner yang berminat harus mendaftar, mengikuti pretest, dan membuktikan kesiapan. Untuk kompetisi besar, persiapan biasanya dimulai sekitar tiga bulan sebelum lomba dengan satu bulan terakhir sebagai fase latihan paling intens.
Para Coffee Ambassador Starbucks Indonesia. Setiap partner didorong mengambil peran sebagai Barista Trainer untuk meng-coaching rekan baru. Dukungan juga diberikan kepada partner Tuli, meski prosesnya lebih panjang. Tantangannya terletak pada bahasa kopi yang teknis—acidity, body, flavor, aftertaste—yang tidak mudah diterjemahkan. Modul disederhanakan, padanan bahasa dicari, dan solusi terus dicoba.
“Kami percaya setiap orang punya talenta tersembunyi,” kata Felicia.
Keikutsertaan dalam kompetisi, lanjut Felicia, bukan semata soal menang. Prestasi di ajang-ajang tersebut juga membuka jalur karier khusus bagi partner.
“Contohnya Dahni. Dari prestasi kompetisi, ia bisa menjadi store manager dan kini berada di tim CPE,” ungkapnya.
Baca juga: Banyak Pelanggan Bawa Komputer & Printer, Starbucks Korea Bikin Aturan Baru
Pada akhirnya, kompetisi hanyalah satu persinggahan. Bagi Dahni dan Aldy, kopi bukan sekadar minuman, melainkan jalan untuk mengenali diri, melatih ketekunan, dan belajar berdiri tenang di tengah tekanan.
Dari balik bar yang kerap luput dari perhatian, mereka membuktikan bahwa ruang tumbuh bisa hadir di mana saja selama ada kepercayaan, proses, dan keberanian untuk mencoba.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya