Kerja keras itu terbayar. Dengan persiapan matang serta dukungan Tim Coffee and Partner Engagement (CPE), L&D, dan komunitas kopi, Dahni keluar sebagai juara ICTC 2020/2021.
Baca juga: Starbucks Rekrut Eks Eksekutif Amazon sebagai CTO Baru
Gelar tersebut mengantarkannya mewakili Indonesia ke WCTC di Milan. Persiapan menuju panggung dunia pun tak sederhana. Dahni berlatih di Bali, lalu melanjutkan persiapan ke Milan menjelang kompetisi.
Saat itu, posisinya di Starbucks adalah shift supervisor. Tanggung jawab di gerai tetap berjalan, tetapi perusahaan memberi ruang agar ia bisa menyiapkan diri.
Meski gagal di WCTC 2021, Dahni tak berkecil hati. Ia terus berkompetisi pada 2022, 2023, hingga 2024, sembari mengajak rekan-rekannya sesama barista terjun ke dunia cup taster.
“Di gerai pun saya membiasakan mentalitas kompetisi,” katanya.
Setiap minuman yang ia sajikan kepada pelanggan ia anggap sebagai performa di hadapan juri.
Jika Dahni menemukan panggungnya lewat seruput kopi, Renauldy Wijaya menemukannya lewat goresan susu.
Aldy, sapaan akrabnya, bergabung dengan Starbucks pada 2022 dan memulai karier di gerai Summarecon Mall Serpong. Ia datang tanpa latar belakang food and beverage.
Baca juga: Pemprov Jakarta, Inotek, dan Starbucks Indonesia Luncurkan Program KRING untuk Dukung 100 UMKM Kopi
“Aku benar-benar nol pengalaman,” ujarnya jujur, apalagi soal kompetisi latte art.
Ia mulai belajar menyeduh kopi, melayani konsumen, dan membuat latte art. Setahun kemudian, store manager yang antusias pada kopi memperkenalkannya pada kompetisi latte art internal Starbucks.
Semula Aldy ragu, tetapi ia memutuskan mencoba. Atmosfer kompetisi memberinya sensasi berbeda dari rutinitas di balik bar.
“Ada semangat yang muncul,” katanya.
Ia meraih juara dua tingkat distrik. Meski bukan kemenangan besar, prestasi itu cukup membakar semangat Aldy yang mengakui dirinya memiliki jiwa kompetitif.
Alih-alih puas, ia justru merasa ada ruang yang belum terisi.
Baca juga: Starbucks Bantu Renovasi Sarana Pendidikan yang Terdampak Bencana Banjir Bali
“Kok rasanya belum puas ya?” katanya sambil tersenyum mengenang.
Renauldy Wijaya berhasil meraih Juara I dalam ajang Starbucks Latte Art Championship 2024 di Hong Kong.
Perasaan itu mendorongnya berlatih hampir setahun penuh. Ia belajar dari Instagram dan YouTube, mengamati pattern latte art, dan memanfaatkan setiap waktu senggang di gerai untuk berlatih. Bahkan, ia rela datang ke Coffee Lab Starbucks Adhyaksa demi berlatih dengan nyaman.
Pelan-pelan, kepercayaan dirinya tumbuh. Pada 2024, Aldy kembali mengikuti kompetisi distrik dan kali ini keluar sebagai juara. Ia melaju ke tingkat regional dengan persiapan lebih serius serta masukan dari district coffee master dan para store manager.
Di tingkat regional, ia berhadapan dengan pemain lama. Rasa minder sempat muncul, tetapi performanya justru mengantarkannya menjadi juara pertama Starbucks Latte Art Championship 2024.
Kemenangan itu membuka jalan ke tingkat nasional dan panggung Asia Pasifik di Hong Kong pada Juni 2024. Aldy menempati peringkat kelima Indonesia Latte Art Championship 2024 dan menjuarai Asia Pacific Regional Barista and Latte Art Championship.
Baca juga: Promo Ramadhan JCO dan Starbucks: Buy 1 Get 1 hingga Paket Makan Rp 65.000-an
“Di sana aku sadar, ini bukan perjalanan sendirian,” katanya.
Dalam kompetisi latte art, Aldy menekankan pentingnya muscle memory. Peserta harus membuat dua cangkir dengan gambar semirip mungkin, lalu mempresentasikan tiga pattern, total enam cangkir, dalam 10 menit.
“Tantangan sesungguhnya bukan cuma tingkat kesulitan, melainkan bagaimana bikin pattern terlihat hidup,” ujarnya.
Senior Manager CPE Starbucks Indonesia Felicia Andrean sebagai salah satu juri ajang kompetisi. Dari balik meja bar yang riuh oleh pesanan dan percakapan singkat, tumbuh ruang-ruang belajar yang jarang terlihat. Kompetisi hanyalah satu momen di permukaan. Selebihnya adalah proses panjang yang berlangsung diam-diam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya