KOMPAS.com - Toko ritel makanan mungkin tidak butuh teknologi baru atau perubahan perilaku belanja dari konsumen untuk mengurangi sampah makanan secara signifikan.
Penelitian baru yang dipublikasikan di jurnal Management Science menemukan bahwa keputusan operasional kecil, termasuk cara menata barang, dapat meningkatkan keuntungan sekaligus mengurangi barang yang terbuang.
Melansir Phys, Rabu (25/2/2026) studi baru ini mengamati lebih dekat barang-barang yang cepat busuk dan kualitasnya menurun seiring waktu, seperti sayuran segar, produk susu, dan daging.
Baca juga: Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko Kerja Paksa
Dengan menggunakan model analisis canggih dan ribuan simulasi skenario toko, para peneliti mengamati bagaimana tiga faktor saling memengaruhi: penataan produk, waktu pemberian diskon, dan besaran diskon.
Kesimpulan peneliti adalah letak suatu produk di rak ternyata hampir sama pentingnya dengan harga produk tersebut.
Dengan membuat perubahan kecil yang strategis pada penempatan barang saat diskon diberikan, peritel dapat meningkatkan keuntungan rata-rata sebesar 6 persen dan memangkas sampah makanan hingga lebih dari 21 persen, menurut studi tersebut.
Temuan ini mematahkan anggapan lama dalam dunia ritel bahwa hanya menjual barang paling segar dengan harga penuh adalah cara teraman untuk menjaga keuntungan.
Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa strategi penataan dan diskon yang lebih pintar dapat memberikan keuntungan bersama, menguntungkan peritel, konsumen, sekaligus lingkungan di saat yang sama.
"Peritel tidak harus memilih antara keuntungan atau kelestarian lingkungan," kata Zumbul Atan dari Eindhoven University of Technology, salah satu penulis studi.
Sampah makanan adalah masalah global yang tersembunyi di depan mata. Sekitar 17 persen dari seluruh makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang sia-sia, dan kontributor terbesar dari sektor ritel.
Di Amerika Serikat saja, hingga 40 persen makanan berakhir tidak dimakan. Di saat yang sama, sampah makanan merupakan pendorong utama emisi metana dan perubahan iklim.
Namun ketika barang yang lebih lama atau yang hampir kedaluwarsa diletakkan di tempat yang lebih mudah dijangkau seperti di barisan depan rak pembeli cenderung lebih mungkin untuk membelinya.
Dibandingkan dengan standar industri umum di mana barang segar dan barang lama diletakkan sejajar dan tanpa diskon, mengoptimalkan penataan dan keputusan diskon ini terbukti meningkatkan keuntungan sebesar 6,01 persen dan mengurangi sampah makanan rata-rata hingga 21,24 persen.
Studi tersebut juga menemukan bahwa strategi terbaik bergantung pada jenis produknya.
Untuk barang yang kualitasnya menurun secara perlahan, seperti produk susu, cara terbaik adalah dengan memajang produk lama di posisi yang paling menonjol dan memberikan diskon yang tidak terlalu besar.
Produk yang cepat rusak dan berbiaya mahal jika dibuang, seperti daging atau makanan siap saji, justru lebih baik jika produk segarnya yang ditonjolkan dan diskon diberikan secara lebih agresif.
Baca juga: Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sementara untuk barang murah yang cepat basi seperti roti segar, mengosongkan rak sepenuhnya saat stok baru datang masih dianggap masuk akal.
"Bagi para peritel yang khawatir bahwa diskon dapat merusak merek mereka atau memengaruhi penjualan harga penuh, strategi penataan barang saja dapat memberikan keuntungan yang berarti," kata Dorothee Honhon dari Universitas Texas di Dallas, salah satu penulis studi.
Penelitian ini pun menegaskan bahwa keuntungan signifikan baik dalam hal laba maupun kelestarian lingkungan bisa lahir dari keputusan-keputusan yang sebenarnya sudah berada dalam kendali peritel.
Penyesuaian kecil pada desain rak dan strategi harga dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan yang besar di sepanjang rantai pasok pangan.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan operasional yang lebih baik dapat meningkatkan kualitas hidup dengan cara yang sangat nyata," kata Amy Pan dari University of Florida, salah satu penulis studi tersebut.
"Ini bukan tentang meminta konsumen untuk berbuat lebih banyak. Ini tentang merancang sistem yang bekerja lebih baik untuk semua orang," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya