KOMPAS.com - Siapa sangka, sepotong plastik sederhana bisa mengubah cara hewan laut berburu, bersembunyi, dan bertahan hidup.
Para ilmuwan mengungkap bahwa bahan kimia yang berasal dari limbah plastik mungkin secara diam-diam mengganggu kehidupan di bawah laut dengan cara-cara yang tidak terduga.
Di seluruh dunia, terdapat lebih dari 350.000 bahan kimia yang digunakan saat ini. Banyak dari bahan kimia tersebut berakhir di lautan melalui polusi plastik.
Saat plastik menumpuk di perairan pantai, plastik tersebut perlahan-lahan melepaskan zat yang disebut sebagai aditif.
Melansir Earth, Rabu (25/2/2026) bahan-bahan tambahan ini dapat memengaruhi sinyal kimia yang digunakan hewan laut untuk mencari makanan, menghindari predator, memilih tempat tinggal yang aman, dan berkomunikasi.
Salah satu bahan kimia yang digunakan adalah oleamida. Perusahaan menggunakan oleamida sebagai pelumas dalam plastik umum seperti polietilen dan polipropilen. Ketika plastik perlahan pecah di air, oleamida merembes keluar.
Oleamide tidak hanya dibuat oleh manusia. Organisme hidup sebenarnya juga memproduksinya secara alami.
Baca juga: Polusi Plastik Percepat Pertumbuhan Alga Beracun
Pada mamalia, zat ini memengaruhi tidur. Sementara pada beberapa hewan laut, zat ini bekerja seperti feromon, yaitu bahan kimia yang digunakan untuk berkomunikasi. Oleamide juga sangat mirip dengan asam oleat, bahan kimia yang terkait dengan sinyal kematian pada beberapa spesies seperti kepiting.
Karena oleamida terlihat seperti zat kimia alami, hewan laut mungkin salah memahaminya. Kebingungan ini dapat mengubah perilaku hewan.
Untuk mengetahui bagaimana oleamida memengaruhi perilaku predator dan mangsa, para peneliti di Florida Atlantic University pun melakukan studi terhadap Octopus vulgaris, spesies yang umum ditemukan di perairan Florida Selatan. Gurita ini memangsa makhluk laut yang lebih kecil, termasuk kepiting dan kerang.
Para ilmuwan menempatkan gurita di dalam tangki laboratorium dan menawarkan empat jenis mangsa: kelomang, kepiting yang hidup bebas, siput, dan kerang.
Kamera merekam perilaku mereka selama 90 menit setiap sesinya. Para peneliti juga melacak apa yang dimakan gurita tersebut selama 24 jam. Secara total, lebih dari 31.500 pengamatan dianalisis.
Tim peneliti mengelompokkan interaksi antara predator dan mangsa menjadi tiga jenis yakni perburuan sukses, percobaan yang gagal, dan jangkauan singkat.
Percobaan yang gagal dan jangkauan singkat tersebut disebut sebagai interaksi non-konsumtif.
Sebelum menambahkan oleamide, gurita dengan jelas lebih menyukai krustasea. Kelomang dan kepiting bebas dipilih lebih sering daripada kerang atau siput. Sementara siput tetap menjadi makanan yang paling tidak disukai selama seluruh penelitian.
Ketika para ilmuwan menambahkan oleamide ke dalam air, perilaku gurita berubah dengan cepat. Gurita memilih lebih banyak kepiting bebas dan lebih sedikit kelomang.
Bahkan setelah bahan kimia tersebut dihilangkan, perubahan ini berlangsung setidaknya selama tiga hari. Pemilihan kelomang turun hingga di bawah tingkat pemilihan kerang, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Interaksi antara gurita dan mangsanya juga meningkat. Namun, jumlah perburuan yang sukses tidak bertambah. Sebaliknya, percobaan yang gagal dan jangkauan singkat justru menjadi lebih sering terjadi.
Para ilmuwan percaya bahwa oleamide dapat membingungkan krustasea. Bahan kimia tersebut mungkin terlihat seperti asam oleat, yang merupakan sinyal kematian bagi beberapa spesies. Karena hal ini, hewan mangsa mungkin terus mencari makan alih-alih menghindari bahaya.
“Banyak spesies mengandalkan informasi kimia untuk mendeteksi makanan, menilai risiko pemangsaan, dan menyeimbangkan pilihan antara mencari makan atau tetap aman,” kata Dr. Michael W. McCoy, penulis senior studi tersebut.
Yang mengejutkan dari studi ini adalah ketika oleamide masuk ke dalam sistem, komunikasi kimia tersebut tampak rusak.
Mangsa krustasea mengurangi perilaku menghindari predator mereka, bahkan ketika gurita menjadi lebih eksploratif dan meningkatkan interaksi mereka.
Baca juga: Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu
Biasanya, semakin banyak kontak dengan predator akan meningkatkan pertahanan mangsa. Namun, dengan adanya oleamide, respons yang diharapkan tersebut sama sekali tidak terjadi.
Gurita juga dapat mengalami kebingungan. Gurita menggunakan sinyal kimia di dalam air dan melalui sentuhan untuk mendeteksi mangsa. Oleamida dapat mengganggu kemampuan ini, menyebabkan lebih banyak kontak tetapi tidak lebih banyak perburuan yang berhasil.
Meski mungkin hanya perubahan kecil, namun dampaknya bisa memengaruhi seluruh ekosistem.
Jika hewan mangsa tidak menghindari predator dengan benar, rantai makanan dapat bergeser. Lebih banyak kontak antar spesies dapat mengubah bagaimana energi bergerak melalui sistem.
“Perubahan dalam interaksi predator-mangsa ini dapat memiliki efek yang luas pada ekosistem laut,” kata Madelyn A. Hair, penulis pertama dan manajer laboratorium penelitian untuk Gil Lab di Universitas Colorado Boulder.
Pergeseran perilaku yang halus ini dapat membentuk kembali distribusi dan kelimpahan sumber daya, mengubah dinamika makan, dan memengaruhi tingkat interaksi antar berbagai spesies, yang pada akhirnya memengaruhi struktur dan fungsi ekosistem laut pesisir dengan cara-cara yang baru mulai kita pahami.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya