Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diam Bisa Jadi Strategi, Ini Cara PR Tanggapi Isu dan Cegah Krisis di Media Sosial

Kompas.com, 1 Maret 2026, 18:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Public Relations (PR) atau Hubungan Masyarakat (Humas) diimbau menganalisis berbagai gangguan informasi terlebih dahulu sebelum menanggapinya.

PR yang menanggapi gangguan informasi secara cepat tanpa menganalisisnya dinilai akan memperbesar permasalahan. Sebagai garda terdepan dalam membangun citra perusahaan, PR sebaiknya memahami waktu yang tepat untuk diam dan menanggapi gangguan informasi.

Baca juga:

Tidak hanya itu, PR juga sebaiknya memahami gangguan informasi dengan urgensi untuk ditanggapi dan yang tidak perlu.

"PR adalah saringan terdepannya, PR harus menenangkan pak direktur atau siapapun itu, 'Oh, Pak, ini enggak perlu ditanggapin karena ini hanya isu atau noise biasa', tetapi juga harus hati-hati," kata praktisi sekaligus dosen komunikasi keberlanjutan Indra Ardiyanto dalam Instagram Live Silent Strategy; Kapan PR Perlu Bicara, Kapan Perlu Diam, Jumat (27/2/2026).

"PR memang harus punya feeling, ini kalau enggak kami tanggapi, nanti bisa blunder. Ditanggapi juga blunder. Nah, itu biasanya waktu dan pengalaman yang bisa menjawab," tambah dia. 

PR sebaiknya analisis informasi sebelum menanggapi

Koordinasi ketika krisis terjadi

Public Relations diminta tidak tergesa-gesa merespons isu liar. Analisis risiko dan koordinasi internal jadi kunci menjaga reputasi perusahaan.Dok. Freepik/rawpixel.com Public Relations diminta tidak tergesa-gesa merespons isu liar. Analisis risiko dan koordinasi internal jadi kunci menjaga reputasi perusahaan.

Ketika krisis terjadi, PR berperan untuk mencegah kepanikan meluas di internal perusahaan.

Sebagai contoh, saat terjadi kebakaran, PR menginformasikan ke internal perusahaan untuk tidak membagikan foto atau video tentang kebakaran ke media sosial

Pihak internal perusahaan yang menyebarkan foto atau video sebagai konten di sosial media kerap menjadi hambatan dalam penanganan krisis.

PR perlu sigap menanggapinya melalui koordinasi dengan HRD untuk memastikan internal perusahaan tidak mendokumentasikan kebakaran dan menyebarkannya ke sosial media.

Selain itu, PR juga perlu berkoordinasi dengan sekuriti untuk menghalau berbagai pihak dari luar memotret atau merekam kebakaran dan menyebarkannya ke sosial media.

PR sebaiknya memetakan berbagai risiko yang berpotensi memicu gangguan informasi dan memperparah situasi. Salah satunya dengan mengatur larangan karyawan dan pihak terkait memotret atau merekam kondisi di dalam ruangan meeting atau tempat kerja lainnya.

"Kadang-kadang karyawan pengen langsung bikin konten dan menyebarkannya. Semua orang kan sekarang pengen jadi content creator gitu kan karena di kantongnya ada alatnya," tutur Indra.

Baca juga:

Diam boleh, tapi ada batasnya

Public Relations diminta tidak tergesa-gesa merespons isu liar. Analisis risiko dan koordinasi internal jadi kunci menjaga reputasi perusahaan.Dok. Unsplash/Jakob Owens Public Relations diminta tidak tergesa-gesa merespons isu liar. Analisis risiko dan koordinasi internal jadi kunci menjaga reputasi perusahaan.

Menurut Indra, konten media sosial perusahaan sebaiknya tidak perlu menyajikan informasi mendetail kejadian secara berlebihan atau oversharing.

Sebaiknya, konten media sosial perusahaan lebih diarahkan untuk mengedukasi masyarakat dengan batas-batas tertentu.

"Karena takutnya (dimanfaatkan) mungkin (oleh) kompetitor. Itu juga bahaya (karena) dmapaknya di luar sana, tiba-tiba bisa jadi berita yang liar," ucap Indra. 

Pada titik ini, diam bisa menjadi strategis dalam berbagai pilihan yang direncanakan dengan tujuan jelas.

Namun, diam juga ada batas waktunya, yang mana periode tersebut dimanfaatkan untuk berkoordinasi dan menyusun langkah yang tepat untuk menanggapinya.

"Sering ada kan. Jadi bingung, internal yang mau jawab ini siapa. Ini tanggung jawab departemen mana. Karena dulu, studi kasus di dunia penerbangan ya, PR dalam krisis penerbangan itu sering lihat ya di berita gitu, ada komplain yang menjawab tim HRD, sampai akhirnya direktur utamanya. Itu di organisasi harus ditata komunikasinya, meskipun tidak ada krisis," jelas Indra.

PR perlu menyeleksi siapa saja di internal yang bisa menjawab untuk gangguan informasi berdasarkan isunya.

Mereka juga sebaiknya tidak perlu terlalu memaksa "orang teknis" berbicara di depan media. Salah satunya guna mencegah oversharing. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau