Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya

Kompas.com, 1 Maret 2026, 16:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com -Selain hutan, padang rumput dan lahan basah di seluruh dunia saat ini semakin cepat dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dan tempat penggembalaan ternak.

Tim peneliti internasional untuk pertama kalinya menganalisis lokasi, untuk apa, dan seberapa cepat ekosistem alami, selain hutan, yang diubah menjadi lahan pertanian secara global.

Baca juga:

Hasilnya menunjukkan bahwa area alami yang sangat berharga bagi alam ini ternyata diubah empat kali lebih cepat daripada hutan, dilansir dari Phys.org, Sabtu (28/2/2026).

Studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menekankan perlunya strategi konservasi yang lebih menyeluruh.

Strategi itu tidak hanya berfokus pada hutan, tapi juga mempertimbangkan pola konsumsi dan struktur permintaan pasar internasional.

Alih fungsi padang rumput jadi lahan pertanian

Mengapa padang rumput penting?

Studi menunjukkan, padang rumput dan lahan basah dialihfungsikan jadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dari hutan. Simak alasannya.Dok. Freepik/DejaVu Designs Studi menunjukkan, padang rumput dan lahan basah dialihfungsikan jadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dari hutan. Simak alasannya.

Padang rumput lebih dari sekadar "ruang hijau". Sekitar 20 hingga 35 persen karbon yang diserap di seluruh dunia tersimpan dalam ekosistem ini. Padang rumput berkontribusi dalam memitigasi perubahan iklim.

Pada saat yang sama, sekitar 33 persen hotspot keanekaragaman hayati dunia terletak di wilayah padang rumput.

"Entah itu untuk penyimpanan air, perlindungan terhadap erosi tanah, atau sebagai habitat bagi tak terhitung banyaknya spesies hewan dan tumbuhan, padang rumput menyediakan layanan ekosistem penting yang secara langsung memberikan manfaat bagi masyarakat lokal maupun iklim global," jelas penulis utama studi, Dr. Siyi Kan dari Senckenberg Biodiversity and Climate Research Center di Frankfurt, Jerman.

Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai deforestasi beserta penyebab dan dampaknya, konversi ekosistem non-hutan, terutama yang berkaitan dengan peternakan dan permintaan produk pertanian global, selama ini hampir belum pernah diteliti.

Martin Persson dari Chalmers University of Technology di Swedia menjelaskan, temuan ini menunjukkan perlunya fokus tidak hanya pada hutan tropis, tapi juga pada jenis ekosistem lain yang menyimpan keanekaragaman hayati yang besar dan menyimpan karbon dalam jumlah banyak.

Hal itu berbeda dengan deforestasi yang didorong oleh perluasan lahan pertanian yang terutama terjadi di negara-negara tropis.

Sebagian besar perluasan lahan pertanian saat ini terjadi di padang rumput dan ekosistem lain di negara-negara seperti Rusia, China, Amerika Serikat, dan di dalam wilayah Uni Eropa.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau